BADUNG, Balipolitika.com- Mekar Bhuana. Bali adalah permata sejarah yang tak pernah pudar. Sejarah Desa Mekar Bhuana dimulai dari sebuah kekalutan besar. Kekalutan ini terjadi di Puri Gelgel, Klungkung. Kondisi ini membuat I Gusti Ngurah Mambal mengembara. Ia pergi ke wilayah Batuangsut, kekuasaan Rakyan Punta.
Abad ke-14, Pulau Bali kedatangan rombongan besar. Ekspedisi Gajah Mada dari Majapahit tiba di sana. Ia didukung panglima perang seperti Arya Kenceng dan Arya Damar. Perkembangan desa selalu sejalan dengan perkembangan penduduknya. Desa Mambal berkembang dalam lingkup wilayah yang semakin kecil.
Keturunan I Gusti Ngurah Mambal selalu bermusyawarah. Mereka memecahkan masalah dengan mengadakan persidangan. Persidangan dalam bahasa Bali disebut pesamuan. Dari kata ini, muncul nama Banjar Adat Samu.
Di sebelah timur Banjar Adat Samu terdapat wilayah unik. Wilayah itu dulunya adalah hutan bambu yang sangat lebat. Hutan bambu lebat ini dikenal sebagai Tiing Nges. Hutan bambu tersebut lama kelamaan menjadi sebuah desa. Desa itu diberi nama Tingas (Desa Adat Tingas).
Batas paling timur wilayah Mengwi adalah hutan bambu ini. Permukiman orang-orang Mengwi menjadi penjaga wilayah. Desa itu merupakan batas antara Wilayah Mengwi dan Gianyar. Batas (sigar dalam bahasa Bali) ini melahirkan nama desa. Wilayah tersebut diberi nama Desa Adat Sigaran.
Pemekaran dan Berkah Suaka Politik
Jatuhnya Kerajaan Mengwi membawa dampak besar. Putra-putra Raja Mengwi ditangkap dan ditawan. Mereka ditawan di daerah Tegal Badung. Berkat bantuan seorang pencuri dari Sanur. Pencuri itu berhasil menyelamatkan putra-putra Raja Mengwi. Mereka dibawa ke Ubud untuk mendapat perlindungan.
Putra-putra Raja Mengwi mendapat suaka politik di Ubud. Mereka kemudian kembali ke daerah Mengwi. Salah satu putranya menetap di Desa Adat Lambing. Masyarakat Bali memiliki kebiasaan memberi nama. Pemberian nama wilayah sering berdasarkan keistimewaan tempat.
Desa Mekar Bhuana merupakan satu kesatuan dengan Desa Mambal. Luasnya wilayah dan banyaknya penduduk menjadi masalah. Diperlukan pelayanan yang lebih dekat dan cepat. Maka, desa itu perlu dimekarkan menjadi dua daerah. Dua daerah itu adalah Desa Mambal dan Desa Mekar Bhuana.
Pemekaran disahkan Bupati Badung pada 12 Maret 2002. Perbatasan kedua desa ditandai oleh sebuah pangkung. Pangkung itu adalah aliran sungai kecil (Yeh). Sungai kecil itu menjadi batas Mambal dan Mekar Bhuana. Desa Mekar Bhuana adalah hasil pemekaran Desa Mambal.
Geografi dan Potensi Alam
Desa Mekar Bhuana adalah bagian Kecamatan Abiansemal. Luas wilayahnya mencapai 351,26 Hektar. Desa ini memiliki dataran bergelombang sampai berbukit. Ketinggian desa sekitar 80 hingga 100 meter di atas permukaan laut. Tekstur tanahnya lempung berdebu, cocok untuk pertanian. Tanah latosol coklat kekuningan mendominasi wilayah ini.
Curah hujan rata-rata antara 2.000 hingga 3.000 mm per tahun. Desa ini cukup lembab dengan temperatur ideal. Angin dari tenggara membawa musim kemarau. Angin dari barat laut membawa curah hujan tinggi. Desa Mekar Bhuana terbagi menjadi lima Banjar Dinas. Desa ini adalah destinasi menarik bagi penggemar alam dan sejarah. (BP/CHA).













