PAGI selalu datang terlalu lambat bagi orang-orang yang menunggu sesuatu yang tak pasti. Kakek bangun bukan karena matahari, melainkan karena satu nama yang tak pernah selesai ia panggil. Nama yang selalu merasuk dalam setiap mimpi, mengendap di antara napas yang pendek dan waktu yang menua perlahan.
Kakek duduk di tepi ranjang yang mulai rapuh, mendengarkan sunyi yang sudah terlalu akrab. Di luar, burung-burung memulai hari dengan nyanyian yang sama, seolah dunia tidak pernah berubah. Tapi bagi Kakek, waktu telah lama berhenti pada satu titik. Pada hari ketika nama itu terakhir kali menjawabnya.
Di setiap pagi, di sudut pasar kecil, Kakek duduk seperti biasa. Bunga-bunga tersusun rapi di hadapannya, ada berbagai jenis mawar, lili, melati, anggrek, dan kenanga. Orang-orang mengira ia hanya sekadar penjual bunga. Mereka tidak tahu, setiap tangkai bunga yang ia jajakan adalah penanda waktu dan simbol masa.
Setiap jenis bunga menyimpan ingatan yang berbeda. Mawar untuk hari-hari yang pernah hangat, ketika tawa masih mudah ditemukan. Melati untuk janji yang diucapkan pelan, hampir seperti doa. Kenanga untuk sesuatu yang telah lama pergi, tetapi aromanya tak pernah benar-benar hilang. Kakek tidak pernah mencampur ketiganya sembarangan karena ia tidak ingin waktu yang sudah ia susun menjadi berantakan.
Kadang ada pembeli yang menawar terlalu murah. Kakek hanya tersenyum, bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu bahwa tidak semua hal bisa dinilai dengan uang. Ada yang datang membeli bunga untuk ziarah, ada pula yang sekadar ingin menghias rumah. Namun bagi Kakek, setiap bunga selalu kembali pada satu tujuan, yakni menyambung jarak dengan seseorang yang tak lagi bisa disentuh.
Di sela-sela keramaian pasar, Kakek sering memanggil nama itu dalam hati. Pelan, nyaris tak terdengar. Seperti takut jika dipanggil terlalu keras, dunia akan benar-benar mengetahui bahwa ia kehilangan. Orang-orang datang dan pergi. Musim berganti tanpa banyak tanda. Tetapi Kakek tetap di sana, di sudut yang sama, dengan bunga-bunga yang terus ia susun seperti merangkai harapan yang tak kunjung selesai. Sebab baginya, menunggu bukanlah tentang kapan seseorang kembali, melainkan tentang tetap setia pada sesuatu yang mungkin tak akan pernah datang dan tidak akan kembali.
***
“Semua bunga punya cerita, Kek?” tanya seorang gadis kecil suatu hari.
Kakek itu tersenyum, tetapi kali ini senyumnya seperti membuka pintu yang lama terkunci. “Semua yang hidup pasti punya cerita,” jawabnya. “Termasuk yang pernah pergi.” tegasnya yang nyaris seperti gumaman.
Gadis itu menunjuk melati, “Kalau ini?”
“Ini tentang kesetiaan,” kata kakek pelan. “Tentang seseorang yang menunggu, meski tahu yang ditunggu mungkin tak akan kembali.”
“Kenapa harus tetap menunggu?” tanya gadis itu penasaran.
Kakek itu menatap jauh, melampaui pasar, melampaui pagi, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
“Karena cinta yang sungguh-sungguh tidak tahu caranya berhenti.”
***
Hari-hari berlalu. Gadis kecil itu sering datang, mendengar cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Tentang kehilangan, tentang rindu, tentang janji yang tak pernah diucapkan, tentang kesetiaan, tentang kekhilafan, dan tentang keyakinan. Hingga suatu hari, gadis itu bertanya, dengan suara yang lebih hati-hati
“Kakek, sebetulnya siapa yang Kakek tunggu?” ujar gadis kecil itu.
Pertanyaan itu jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Kakek lama tidak menjawab. Tangannya menyentuh setangkai kenanga, lalu melati, lalu memandang mawar yang merah, lalu kembali diam.
“Aku menunggu seseorang dari langit,” katanya. “Ia pernah turun ke bumi. Lalu kembali lagi.” kenangnya.
“Seperti bidadari?” gadis kecil itu bertanya penuh semangat, matanya berbinar.
Kakek itu mengangguk pelan.
“Apa dia akan kembali?” tanya gadis kecil itu.
Kakek itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi mencari jawaban.
“Semua yang pernah benar-benar kita miliki tidak pernah benar-benar pergi,” katanya. “Hanya berubah cara hadirnya.” tambah Kakek.
***
Sejak itu, gadis kecil tidak pernah lagi bertanya. Ia tetap datang seperti biasa, duduk di samping Kakek dan dengan gerakan kecil yang hati-hati membantu merapikan bunga-bunga yang mulai layu. Jemarinya yang mungil sesekali menyentuh kelopak mawar, seakan sedang belajar membaca sesuatu yang tak tertulis. Ia seolah mengerti bahwa ada cerita yang terlalu dalam, terlalu sunyi, untuk diucapkan dengan kata-kata.
Kadang ia hanya diam, memandangi wajah Kakek yang dipenuhi garis waktu. Kadang pula ia tersenyum tipis, tanpa alasan yang jelas. Di antara mereka, keheningan tumbuh menjadi bahasa yang perlahan dimengerti bersama.
Suatu sore, hujan turun tanpa aba-aba. Langit yang sejak siang menahan sesuatu akhirnya runtuh dalam rintik yang rapat. Orang-orang berlarian, menutup dagangan, mencari tempat berteduh. Pasar yang biasanya riuh mendadak lengang, menyisakan suara air yang jatuh berulang-ulang di atas seng dan tanah.
Namun, Kakek tetap di tempatnya. Ia duduk diam, memandangi langit yang kelabu, seolah ada sesuatu yang sedang ia tunggu turun bersama hujan itu. Tetes-tetes air membasahi bunga-bunga di hadapannya, membuat warna-warna itu tampak lebih hidup atau mungkin justru lebih sendu.
Gadis kecil berdiri di sampingnya, memayungi dengan tubuh kecilnya yang tak seberapa. Kakek itu tidak beranjak. Ia hanya tersenyum samar, seperti seseorang yang akhirnya menemukan kembali sesuatu yang lama hilang.
Angin tiba-tiba membawa aroma yang sangat ia kenal, bukan sekadar wangi bunga yang ia jual setiap hari, melainkan sesuatu yang lebih halus dan lebih jauh, seolah datang dari dunia yang pernah singgah sebentar lalu pergi dan menghilang.
Kakek menarik napas panjang. Dadanya bergetar, seperti membuka kembali pintu yang telah lama ia kunci sendiri. Ia berdiri perlahan. Gadis kecil melihat adegan itu dengan takjub. Tanpa sedetik pun melepas pandangannya.
Di antara tirai hujan yang menggantung rapat, sesosok bayangan tampak samar. Tidak utuh, tidak benar-benar jelas, tetapi cukup untuk membuat jantungnya mengingat kembali cara berdebar. Cara yang hampir ia lupakan.
“Nawang Wulan?” bisik Kakek yang nyaris pecah oleh gemuruh hujan.
Bayangan itu tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, tenang, diam, dan syahdu seperti ada garis batas antara dua dunia yang pernah saling bersentuhan, tetapi kini hanya bisa saling mengingat.
“Kau masih menunggu?” suara itu menjawab bukan dari lisannya, melainkan dari ruang paling sunyi di dalam dirinya.
Kakek tersenyum tipis, getir. “Aku tidak tahu caranya berhenti,” jawabnya pelan.
Hujan semakin deras, seperti ingin menghapus jarak yang tak bisa dilalui.
“Kau harus belajar,” suara itu lembut, hampir seperti doa yang jatuh tanpa suara.
“Cinta bukan tentang menahan. Cinta adalah keberanian untuk merelakan yang memang harus kembali.” jelas suara itu.
Kakek memejamkan mata. Ada sesuatu yang runtuh di dalam dadanya, perlahan.
“Kalau aku berhenti menunggu” suara Kakek bergetar, “Apakah Kau akan menghilang?”
Hening sejenak. Bahkan hujan terasa seperti menahan diri.
“Tidak,” jawab suara itu, begitu dekat sekaligus begitu jauh.
“Aku akan tetap ada, di tempat yang tidak membutuhkan waktu dan tidak meminta untuk ditunggu.”
Kakek itu membuka matanya perlahan. Bayangan itu telah tiada. Hanya hujan yang masih jatuh yang setia pada ritmenya sendiri. Pasar tetap lengang, seperti dunia yang baru saja kehilangan satu rahasia. Bunga-bunga di hadapannya diam, basah, dan entah bagaimana tampak lebih hidup dari sebelumnya.
Kakek kembali duduk. Gadis kecil menyaksikan dari samping, dengan mata yang tak sepenuhnya mengerti, tetapi cukup peka untuk merasakan bahwa sesuatu telah berubah. Ia tidak bertanya. Hanya mendekat sedikit, lalu duduk perlahan, seperti takut mengganggu sesuatu yang baru saja terjadi.
Kakek meraih setangkai melati. Jemarinya masih gemetar. “Ini,” katanya lirih, menyodorkan melati itu pada gadis kecil. Gadis kecil itu menerimanya dengan hati-hati. Wangi melati yang lembut naik perlahan, menyentuh udara yang masih basah oleh hujan.
“Untuk apa, Kek?” tanyanya pelan.
Kakek itu tersenyum. “Untuk diingat,” jawabnya singkat.
“Diingat siapa?” gadis kecil bertanya penuh harap.
“Tidak semua yang kita cintai harus kembali,” katanya.
“Ada yang cukup kita simpan supaya kita tidak lupa bagaimana rasanya mencintai.”
Gadis kecil itu terdiam. Ia menggenggam melati itu lebih erat, lalu perlahan mengeluarkan satu tangkai lain dari sakunya. Setangkai melati yang lebih kering, yang lebih lama disimpan, tetapi dengan wangi yang sama. “Dari Ibu,” katanya lirih sambil menyerahkannya kepada Kakek. Dua aroma melati itu bertemu di udara yang basah, seperti sesuatu yang lama terpisah, kini saling mengenali tanpa kata.
Dan dalam sekejap, Kakek mengenali melati itu, bunga yang dulu pernah ia sematkan di rambut Nawang Wulan, pada senja yang tak pernah benar-benar selesai.
BIODATA
Heri Isnaini, Dosen Sastra IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai sastra dan kajian atasnya. Tulisan-tulisannya sudah dimuat dalam berbagai media daring maupun cetak.













