BALI, Balipolitika.com – Jalur tengkorak nyaris memakan korban jiwa. Sebuah bus milik PT Singa Raja Putra mendadak jadi “monster” jalanan di Jalur Denpasar–Gilimanuk, tepatnya di Banjar Munduk, Desa Pohsanten, Kamis (23/4) pagi.
Bukannya melaju mulus, bus bernopol BE 7065 IU ini malah mengalami patah as setir di tengah jalan. Tanpa kendali, besi raksasa ini nyelonong menghantam Toyota Kijang yang lagi anteng parkir sampai ringsek parah!
Toyota Kijang milik warga Pendem, jadi korban salah sasaran hingga mengalami kerusakan serius. Tak cuma mobil, tiang WiFi dan baliho toko ikut miring dihajar moncong bus.
Alhasil satu penumpang asal Jawa Barat harus menerima 3 jahitan di siku akibat benturan keras. Kasat Lantas Polres Jembrana, Iptu Aldri Setiawan, mengonfirmasi insiden ini murni karena kendala teknis kendaraan. Untungnya, kasus ini berakhir “kekeluargaan”.
Sampai kapan nyawa penumpang dan pengguna jalan lain dipertaruhkan oleh armada yang (diduga) kurang perawatan? Apakah “kekeluargaan” cukup untuk menjamin as setir bus lain tidak patah besok pagi?
Cek kendaraan itu kewajiban, bukan opsi! Gimana menurut kalian, haruskah ada sanksi lebih tegas buat perusahaan otobus yang armadanya bermasalah di jalan? (BP/OKA)












