BADUNG, Balipolitika.com- Pura Kancing Gumi. Bali menawarkan destinasi unik, termasuk desa yang penuh misteri. Sejarah Desa Sulangai adalah kisah perpaduan spiritual dan astronomi kuno. Desa ini merupakan bagian dari pemekaran Desa Petang. Desa Sulangai diresmikan oleh Gubernur Bali pada 27 Juli 1999.
Kisah awal Sulangai terkait dengan I Gusti Ngurah Rai. Ia berasal dari Puri Carangsari pada abad ke-14. Dengan izin saudaranya, ia melakukan pemekaran wilayah. Tujuannya membangun pertahanan di Pegunungan Carangsari.
Dalam perjalanan, ia beristirahat (mesandekan) di suatu tempat. Tempat itu kini dikenal masyarakat sebagai Sandakan. Setelahnya, ia menemukan tempat yang aman dan nyaman. Ia membangun istana pertama dan menamainya Kerta.
Setelah laporan ke saudaranya, ia merasa ragu. Ia mengulang perjalanan dan menemukan cahaya suci. Cahaya itu ditemukan di hutan Tegal Gunung (Pura Pucak Manik). Di sana ia bermeditasi dan mendapat petunjuk. Wilayah itu dinamai Peteng (Malam), diambil dari kata Ngepit.
Menurut kisah lain, nama Sulangai terkait Raja Mengwi. Raja Mengwi, I Gusti Agung Gede Agung, singgah di Puncak Mangu. Dalam perjalanan pulang, pasukannya tersesat. Mereka tersesat di munduk lebat yang ditumbuhi pepohonan. Raja dan pasukannya tidak dapat menemukan jalan keluar. Mereka melihat matahari muncul di tenggara. Mereka menamai daerah itu sirang ai (menyirang matahari). Sebutan ini lambat laun menjadi Sulangai.
Warisan Siwa dan Pura Kancing Gumi
Seorang budayawan, A.A. Gede Raka, menjelaskan arti Sulangai. Ia mengamati posisi desa yang tidak lurus utara-selatan. Posisi desa yang “menyerang” berlawanan arah matahari. Karena berpotongan (nyilang) dengan arah matahari. Maka, desa itu disebut Silang Ai (silang = menyerang, ai = matahari). Dari kata Silang Ai, kemudian menjadi Sulangai.
Desa ini memiliki situs kuno setua abad ke-11 Masehi. Keberadaan Pura Kancing Gumi membuktikan usia desa. Pura ini terkait dengan Pura Kentel Gumi dan Pura Pusering Jagat. Pura-pura itu secara tradisional didirikan oleh Empu Kuturan. Empu Kuturan adalah pendeta istana Raja Udayana abad ke-11.
Di dalam Pura Kancing Gumi terdapat warisan penting. Ada Lingga dan arca Nandi yang menjadi bukti. Tradisi pemujaan Lingga berkembang pada abad ke-11 Masehi. Sekte Siwa Pasupata memuja Lingga pada masa itu. Arca Nandi merupakan simbol kendaraan Dewa Siwa. Hal ini menunjukkan Agama Siwa berkembang di Sulangai.
Konsep Tri Angga Desa Tua
Keunikan Desa Sulangai tampak pada posisinya. Situasi desa serupa dengan Desa Penglipuran yang terkenal. Pura Kancing Gumi berada di hulu (ulun desa). Di depan pura, rumah-rumah penduduk berjajar berhadap-hadapan. Di bagian hilir (teben) terdapat kuburan (setra).
Kondisi ini merujuk pada konsep Tri Angga. Konsep ini membagi wilayah menjadi tiga zona suci. Zona hulu (kepala) untuk tempat suci. Zona tengah (badan) untuk pemukiman warga. Zona hilir (kaki) untuk pemakaman desa. Sejarah Desa Sulangai adalah kisah desa tua yang patuh pada kosmologi Bali. (BP/CHA).













