JAKARTA, Balipolitika.com- Seorang pengamat ekonomi digital, Bennix, mengungkap data mengejutkan mengenai krisis pangan yang kini melanda Malaysia. Klaim ini muncul setelah tim dari Kementerian Pertanian Malaysia dilaporkan menyambangi BULOG di Jakarta untuk mengecek ketersediaan stok beras nasional. Kunjungan tersebut menunjukkan kekhawatiran besar Malaysia terhadap cadangan makanan pokok mereka yang semakin menipis. “Kedatangan mereka ke BULOG Indonesia membuktikan bahwa Malaysia benar-benar mengalami krisis beras serius,” ujar Bennix.
Pemerintah Malaysia, melalui Bernas (Padi Beras Nasional), selama ini secara konsisten mengklaim mampu memenuhi 70 persen kebutuhan beras dari produksi lokal. Namun, Bennix mempertanyakan angka tersebut berdasarkan perhitungan yang ia lakukan menggunakan data yang sama. Ia membandingkan total konsumsi beras Malaysia sebesar 2,5 juta ton dengan produksi beras lokal yang hanya 1,1 juta ton. “Produksi lokal Malaysia sejatinya hanya memenuhi 45 persen dari total konsumsi, artinya impor mencapai 55 persen, menunjukkan ketergantungan mayoritas pada luar negeri,” kata analis tersebut.
Data yang lebih rinci bahkan mengindikasikan bahwa sekitar 60 persen produksi beras lokal Malaysia tidak dikonsumsi oleh manusia. Hasil panen justru dialirkan menjadi pakan hewan ternak dan kebutuhan industri. Akibatnya, ketergantungan pada beras impor Malaysia semakin besar dari tahun ke tahun. “Kenaikan impor beras Malaysia terus terjadi, diprediksi menyentuh 1,9 juta ton pada akhir 2025, jauh melampaui angka tahun 2024,” imbuhnya.
Ancaman di Balik Data Produksi
Krisis ini berakar dari masalah fundamental dalam sektor pertanian Malaysia. Puluhan ribu hektar lahan pertanian telah beralih fungsi menjadi area perumahan dan kawasan industri. Konversi lahan yang masif ini otomatis mengurangi kapasitas produksi beras nasional. “Penyempitan lahan pertanian secara signifikan pasti menurunkan kemampuan Malaysia untuk berswasembada pangan,” tegasnya.
Selain penyempitan lahan, negara tetangga itu juga menghadapi penuaan petani secara drastis. Mayoritas petani aktif di Malaysia kini berusia 60 tahun ke atas, sementara generasi muda enggan menekuni profesi ini. Angka petani berusia di bawah 40 tahun hanya mencapai 15 persen dari total keseluruhan. “Minimnya regenerasi petani menunjukkan masa depan sektor pangan Malaysia berada di ujung tanduk,” jelas Bennix.
Ancaman terbaru datang dari dampak perubahan iklim dan global warming, yang semakin memperparah situasi. Kenaikan suhu harian ekstrem hingga 39 derajat Celsius memicu kekeringan parah pada sumber air vital. Ketinggian air di sejumlah bendungan utama Malaysia anjlok drastis, jauh di bawah standar minimal 60 persen. “Krisis air dan cuaca ekstrem ini akan memicu gagal panen berskala besar, membuat stok beras yang kini hanya tersisa untuk enam bulan semakin kritis,” kata Bennix.
Kontras dengan Swasembada Indonesia
Kondisi genting Malaysia ini sangat kontras dengan pencapaian ketahanan pangan yang dipamerkan oleh Indonesia. Pembicara memuji keras upaya Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, yang dinilai berhasil membawa Indonesia menuju swasembada pangan. Kinerja Amran yang dianggap the right man in the right place lantaran memiliki latar belakang S1 hingga S3 di bidang pertanian, menjadi kunci keberhasilan ini. “Kita patut bersyukur memiliki Menteri Pertanian yang merupakan ahli di bidangnya dan memiliki paten pertanian untuk mengatasi hama sawah,” ujarnya.
Indonesia menargetkan produksi beras tahun 2025 melampaui 34 juta ton, sebuah rekor tertinggi dalam sejarah Republik. Angka produksi ini jauh melebihi kebutuhan konsumsi tahunan Indonesia yang berada di kisaran 22 juta ton. Kelebihan produksi ini memastikan Indonesia tidak hanya swasembada, tetapi juga memiliki surplus signifikan. “Kelebihan produksi beras hingga 12 juta ton membuktikan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor beras umum,” tegas Bennix.
Bennix juga mengkritik solusi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menyarankan rakyat menanam padi di halaman rumah sebagai respons terhadap krisis. Solusi ini dinilai tidak realistis untuk mengatasi defisit pangan yang mencapai jutaan ton. Ia mempertanyakan langkah yang seharusnya diambil Indonesia, apakah akan membantu Malaysia atau mengamankan stok pangan sendiri. “Menteri Amran harus memutuskan apakah kita harus memprioritaskan cadangan pangan dalam negeri atau menyalurkan bantuan ke negara tetangga,” pungkasnya. (BP/CHA).













