DENPASAR, Balipolitika.com– Anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil Bali, Niluh Putu Ary Pertami Djelantik mengajak para siswa SMA Negeri 1 Denpasar untuk lebih cinta kepada bangsa dan tanah air Indonesia, Kamis, 11 September 2025.
Upaya memperkokoh empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara itu dilakukan dengan membangun etos kewirausahaan, kreativitas, dan pengembangan seni-budaya bagi anak-anak Smansa- julukan khas SMAN 1 Denpasar.
Menggaet Dewandra Djelantik, seorang fotografer profesional dan pelaku industri kreatif, Niluh Djelantik memprakarsai diskusi bertema “Industri Kreatif, Identitas Lokal, dan Empat Pilar Kebangsaan: Merawat Indonesia dari Bali”.
Kedua narasumber mengupas bagaimana sektor kreatif dapat menjadi alat untuk memperkuat rasa kebangsaan, memberdayakan masyarakat lokal, dan membangun citra Indonesia yang inklusif dan modern di tingkat global.
Niluh Djelantik menilai di era globalisasi, arus informasi, budaya, dan ekonomi bergerak semakin cepat hingga membawa dua konsekuensi bagi bangsa Indonesia: di satu sisi membuka peluang kolaborasi dan pasar yang lebih luas, namun di sisi lain berpotensi mengikis identitas lokal, memperlemah daya saing produk kreatif dalam negeri, serta menimbulkan krisis nilai kebangsaan.
Ungkap Srikandi Bali pertama yang duduk sebagai Senator RI itu, industri kreatif menjadi salah satu sektor strategis yang dapat menjawab tantangan tersebut.
Ia bukan sekadar penggerak ekonomi, tetapi juga wahana ekspresi budaya, pembentukan identitas nasional, dan diplomasi budaya di kancah internasional.
Ketika produk lokal, karya seni, dan kreativitas anak bangsa mengakar pada kearifan lokal dan nilai kebangsaan, maka ia akan memiliki daya tawar yang unik dan berkelanjutan.
“Bali, sebagai salah satu pusat kebudayaan dunia, memainkan peran penting dalam konteks ini. Kreativitas masyarakat Bali yang tercermin dalam industri mode, kerajinan, seni rupa, hingga fotografi, telah dikenal luas dan menjadi jendela Indonesia di mata internasional. Namun, di balik keberhasilan itu terdapat tantangan besar: bagaimana menjaga lokalitas agar tidak tergerus globalisasi, serta bagaimana mengaitkan kreativitas dengan penguatan kebangsaan,” tegas Niluh Djelantik.
Niluh Djelantik mengajak para siswa dan guru Smansa Denpasar menggali keterkaitan antara industri kreatif, identitas lokal, dan empat pilar kebangsaan serta tantangan plus peluang yang dihadapi para pelaku industri kreatif, seniman, termasuk masyarakat lokal dalam menjaga kedaulatan budaya dan ekonomi bangsa.
Pemilik Brand Niluh Djelantik yang dikenal melalui karya-karyanya berupa desain sepatu yang dipatenkan pada tahun 2008 dan banyak digunakan oleh pesohor dunia, antara lain Uma Thurman, Gisele Bundchen, Tara Reid, Julia Roberts, dan Paris Hilton itu memberikan inspirasi bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi Smansa Denpasar untuk berkontribusi dalam memperkuat kebangsaan melalui kreativitas dan inovasi.
Niluh Djelantik juga memberikan ruang bagi para siswa untuk membuka dialog bersama Dewandra Djelantik yang juga merupakan pelaku industri kreatif terkait peran lokalitas dalam konteks kebangsaan.
Selain melecut semangat siswa Smansa Denpasar, khususnya siswa perempuan untuk terjun sebagai pelaku industri kreatif, dalam kesempatan itu Niluh Djelantik mengatakan selaku Senator RI Dapil Bali, ia siap memperjuangkan UMKM dan ekonomi lokal.
Memanfaatkan hak Senator Indonesia (anggota DPD) yang antara lain meliputi hak bertanya, menyampaikan usul dan pendapat, Niluh Djelantik mengaku siap berjuang dalam rangka penerapan nilai Pancasila, khususnya sila ke-5 dalam pemberdayaan masyarakat dan keadilan ekonomi.
Niluh Djelantik menegaskan bahwa generasi muda, khususnya kaum perempuan Indonesia merupakan motor gerakan kebangsaan melalui industri kreatif.
Sementara itu, Dewandra Djelantik mengenalkan fotografi sebagai medium Bhinneka Tunggal Ika dan narasi kebangsaan.
Ia mengatakan seni sebagai diplomasi budaya Indonesia di dunia internasional dan pariwisata kreatif berbasis lokalitas sejatinya merupakan penggerak ekonomi dan identitas bangsa.
Dewandra Djelantik juga berusaha menjembatani tradisi dan modernitas Bali dalam citra kebangsaan dalam rangka menjaga merawat keberlangsungan lokalitas di tengah arus deras globalisasi.
Menyambut baik diskusi bertema “Industri Kreatif, Identitas Lokal, dan Empat Pilar Kebangsaan: Merawat Indonesia dari Bali”, Kepala SMA Negeri 1 Denpasar, M. Rida, M.Pd. berharap para siswa Smansa Denpasar mampu lebih memahami peran industri kreatif dan seni dalam memperkuat empat pilar kebangsaan.
“Kami berharap diskusi ini mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya identitas lokal sebagai kekuatan bangsa di era global sekaligus membangun semangat kolaborasi lintas sektor untuk menjaga kedaulatan budaya dan ekonomi nasional,” ucapnya.
M. Rida juga berharap sosialisasi ini menjadi momentum strategis bagi siswa siswi SMAN 1 Denpasar menemukan ruang inspiratif mengenai gagasan di industri kreatif dan seni budaya dalam kerangka Empat Pilar Kebangsaan.
“Dengan kata lain melalui kreativitas, lokalitas dapat menjadi kekuatan dan kebangsaan dapat terus terjaga di tengah dinamika global dalam rangka menjaga keutuhan NKRI,” tutupnya. (bp/ken)













