TABANAN, Balipolitika.com– Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Tabanan, I Putu Gede Juliastrawan merespons serius rencana bergabungnya Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi ke Partai Gerindra.
Meskipun Partai Gerindra sangat terbuka kepada siapa saja yang berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin bergabung tanpa terkecuali asalkan sudah berusia di atas 17 tahun atau sudah menikah, Wawan- sapaan akrab I Putu Gede Juliastrawan– menekankan ada sejumlah persyaratan “moral” untuk itu.
Wawan menilai syarat “moral” inilah yang tidak dimiliki oleh seorang Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi.
Berkomitmen menjaga wibawa partai sebagai rumah perjuangan, ia menilai Ketum Projo Budi Arie Setiadi terkesan ingin selalu dekat dengan kekuasaan dan menjadikan Partai Gerindra sebagai rumah singgah politik pasca lengser sebagai menteri.
Lebih-lebih, saat ini Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi bermanuver seolah “menghalalkan segala cara” sampai-sampai mau mengubah logo mereka yang terang-benderang adalah wajah Presiden RI ke-7, Joko Widodo ke yang lain.
Sebagaimana diketahui, saat Jokowi resmi lengser dari jabatan orang nomor 1 di Republik Indonesia pada bulan Oktober 2024 silam, relawan garis keras Jokowi, Projo yang dipimpin Budi Arie Setiadi langsung berkeinginan menjadi partai politik (parpol).
Kala itu, menurut Projo, jika Jokowi sudah tidak menjabat Presiden RI, maka sebaiknya ayah Gibran Rakabuming Raka itu memimpin sebuah parpol.
Hitung-hitungannya, hal tidak lepas dari popularitas Jokowi di kalangan masyarakat bahkan Projo mengklaim Jokowi sangat dicintai rakyat Indonesia.
Cita-cita itu tak terwujud, tiba-tiba Projo menyatakan tidak akan membentuk parpol sendiri bahkan mau mengubah logo mereka alias menghilangkan siluet wajah Jokowi demi menjaga peluang masuk Partai Gerindra.
Terbaru, Budi Arie bahkan mengaku telah berkomunikasi dengan Partai Gerindra terkait rencananya untuk bergabung.
Merespons langkah politik Budi Arie Setiadi yang terkesan sangat pragmatis dan oportunis, Ketua DPC Partai Gerindra Tabanan, I Putu Gede Juliastrawan alias Wawan menilai hal itu tak memenuhi persyaratan “moral” sebagai kader partai politik.
“Partai Gerindra adalah partai politik terbuka. Tapi, harus punya loyalitas jelas karena kami partai pejuang untuk kepentingan rakyat. Jangan karena kepentingan politik sesaat baru masuk ke partai kami. Loyalitas harus jelas,” tegas Wawan.
Lebih jauh, Wawan menyebut Partai Gerindra dibangun dengan darah kesetiaan, bukan dengan tawaran kekuasaan.
Oleh sebab itu, menjaga marwah, ideologi, serta tradisi perjuangan partai mutlak harus dilakukan.
“Partai Gerindra adalah partai kader yang tumbuh melalui proses panjang, pengorbanan, dan kesetiaan, bukan melalui jalan instan atau kepentingan sesaat,” tutupnya. (bp/ken)













