JAKARTA, Balipolitika.com- DPP Partai Solidaritas Indonesia secara resmi memutuskan tidak memberikan pendampingan hukum kepada Grace Natalie. Langkah organisasi tersebut muncul setelah Wakil Ketua Dewan Pembina PSI tersebut dilaporkan ke Bareskrim Polri. Keputusan ini menegaskan posisi partai yang ingin memisahkan urusan personal anggota dengan kebijakan institusi resmi.
“Secara kelembagaan kami pastikan bahwa partai tidak akan memberikan bantuan hukum kepada yang bersangkutan,” ujar Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, saat memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026, dilansir dari berbagai sumber.
Persoalan hukum ini bermula dari unggahan potongan video ceramah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di media sosial. Sejumlah organisasi masyarakat Islam menilai tindakan tersebut telah memicu kegaduhan dan persepsi buruk di tengah masyarakat. Polisi kini tengah mendalami laporan tersebut melalui bukti-bukti yang telah diserahkan oleh pihak pelapor pekan lalu.
“Pernyataan yang disampaikan oleh Mbak Grace merupakan sebuah pernyataan pribadi dan bukan sikap resmi dari partai,” kata Ahmad Ali.
Ahmad Ali menjelaskan bahwa partai hanya akan memberikan dukungan moril dalam kapasitas sebagai sahabat atau pertemanan. Ia beranggapan setiap tindakan anggota yang bersifat personal harus dipertanggungjawabkan secara mandiri di hadapan hukum yang berlaku. Pengurus pusat partai mawar tersebut tidak ingin narasi pribadi menyeret nama baik organisasi di mata publik.
“Kami memandang hal ini sebagai sebuah perkara yang memang harus segera dipertanggungjawabkan secara pribadi olehnya,” ujar Ali.
Kondisi serupa juga menimpa pegiat media sosial Ade Armando yang turut dilaporkan dalam perkara yang sama tersebut. Ade memilih untuk mengundurkan diri dari keanggotaan partai agar polemik dirinya tidak terus membebani citra partai. Keputusan pengunduran diri tersebut ia ambil sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap rekan-rekan perjuangannya di partai.
“Tidak ada konflik antara saya dengan partai, namun saya mundur demi kebaikan bersama organisasi saat ini,” tutur Ade Armando saat menjelaskan alasan kepergiannya dari partai tersebut.
Ade Armando menyadari bahwa serangan publik terhadap dirinya kini mulai berdampak negatif bagi rekan-rekan di internal. Ia berharap dengan keluar dari partai, maka segala kritik pedas tidak lagi dialamatkan kepada institusi PSI. Mantan dosen Universitas Indonesia tersebut ingin tetap bebas bersuara tanpa harus menyandera kepentingan politik partai tempatnya bernaung.
“Tolong jangan lagi menyerang PSI karena pihak partai sama sekali tidak mengetahui soal kritik-kritik yang saya sampaikan,” kata Ade. (BP/CHA).













