TABANAN, Balipolitika.com– Duo musik Palm Theory lahir dari gagasan Igo Blado yang merupakan frontman band Telephone sekaligus kreator proyek solo Sunset Dealer asal Denpasar bersama Angga Waskita, musisi berpengalaman internasional yang pernah tur Eropa bersama band Brightsize Trio.
Menurut Angga Waskita yang berkawan lama dengan Igo Blado, diskusi pencetusan duo Palm Theory mulai dilakukan sejak akhir tahun 2025 di rumah Igo Blado yang berlokasi di Renon, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali.
Mereka sering mendiskusikan mengenai tantangan baru agar karya mereka kali ini berbeda dari apa yang pernah mereka buat sebelumnya.
“Tepatnya aku tidak ingat tapi di akhir tahun 2025, kita berdua bersepakat, saya sama Igo Blado membuat duo grup musik namanya Palm Theory. Jadi kita berdua buat challenge mau garap musik apa ya supaya beda dari apa yang pernah kita bikin, begitu,” ucap Angga Waskita diwawancarai di studio miliknya di Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
Dalam proyek ini, Igo berperan sebagai produser sekaligus vokalis, sementara Angga menjadi co-producer dan arranger hingga akhirnya mereka debut EP (extended play) yang berisi dua lagu berjudul “The Most Beautiful Thing” dan “Let’s Get Lost in Paradise” pada 17 Desember 2025 di Renon.
Tak lama setelah debut EP, mereka merilis single yang berjudul “Thinking of You”.
Hingga saat ini sudah ada sebanyak dua lagu EP dan satu single yang rilis di berbagai platform seperti YouTube Music dan Spotify dari Palm Theory.
Karya-karya mereka mengusung genre chill-deep house yang terinspirasi dari atmosfer tropis Pulau Bali dan setiap cover lagunya menggunakan foto karya dari fotografer bernama Aji Maharesi karena dapat mewakili nuansa lagu dari Palm Theory.
Penamaan Palm Theory untuk grup duo musik itu juga memiliki maknanya tersendiri yang berasal dari bahasa Inggris ‘palm’ yang bisa memiliki dua arti, yakni pohon palem dan telapak tangan.
Namun duo musik ini hanya memilih salah satu dari dua arti tersebut.
“Palm theory itu sebenarnya bukan palm ini (telapak tangan), palm itu pohon palem identic dengan suasana tropis terus konsep musiknya juga begitu. Chill out, EDM (Electronic Dance Music), elekronik yang chill wave ada di pesisir pantai, sunset. Jadi konsep Palm Theory itu kita terjemahkan lagi agar mewakili suasana musik yang chill, gambarannya pohon palem,” ujar Angga Waskita
Usulan untuk membuat duo musik Palm Theory datang dari Igo Blado sendiri karena telah menjalin kecocokan visi dengan Angga Waskita semenjak mereka pertama kali bertemu di Jerman saat band BrightSize Trio melakukan tur Eropa dengan Angga Waskita sebagai vokalis-gitarisnya.
“Yang mengajak membuat Palm Theory itu Om Igo karena sudah cocok. Saya pertama kali bertemu beliau di Jerman waktu BrightSize tour terus lanjut di Jogja beliau bareng Nyanyian Dharma bersama Jik Dewa Budjana, terus setelah itu nyambung saja. Kadang dunia kreatif, dunia kesenian itu sudah diatur semesta,” ungkapnya.
Harapan Angga Waskita setelah adanya duo musik Palm Theory ini adalah agar bisa menginspirasi musisi lainnya untuk terus memiliki semangat dan bergairah dalam berkarya.
“Salah satu tujuan seorang musisi membuat karya itu supaya teman-teman musisi lain juga terpancing untuk membuat karya. Jadi simbiosis mutualismenya ada di situ, supaya kita bisa menghidupi seni selain hidup dari seni. Tujuan orang berpameran itu supaya bisa dilihat, jadinya orang lain itu bisa bergairah lagi buat berkarya,” pungkasnya. (Ni Made Ayu Anggita Cempaka/4B/PBSI/Undiksha)













