DENPASAR, Balipolitika.com- Secara harafiah, Sejarah Kelurahan Sanur berakar dari urat kata yang sangat sakral, yaitu “Saha dan Nuhur”. Dalam bahasa lokal, frasa ini mengandung arti “memohon untuk datang ke suatu tempat”. Seiring berputarnya roda zaman, ucapan Saha Nuwur ini perlahan mengalami pergeseran fonetik hingga masyarakat lebih akrab menyebutnya sebagai Sanur. Nama ini seolah menjadi magnet yang terus mendatangkan keberuntungan dan pelancong dari berbagai penjuru dunia.
Namun, kelembutan namanya sempat kontras dengan peristiwa kelam di tahun 1906. Pantai Sanur menjadi saksi bisu pendaratan militer Belanda. Menggunakan alasan perampokan kapal, penjajah mulai menginjakkan kaki di pasir putih ini, yang kemudian memicu perang habis-habisan atau Puputan Badung. Tak berhenti di sana, pada tahun 1945, pasukan NICA pun masuk melalui jalur yang sama, menegaskan posisi Sanur sebagai titik strategis bagi pertahanan Pulau Bali.
Pionir Pariwisata dan Kemandirian Ekonomi
Modernisasi Sanur mulai nampak sejak kehadiran seniman Belgia, A.J. Le Mayeur, pada tahun 1930-an. Keindahan pesisirnya kemudian dipromosikan ke dunia internasional. Titik balik sesungguhnya terjadi pada tahun 1966 dengan berdirinya hotel besar pertama yang mengubah lanskap desa nelayan ini menjadi kawasan resort kelas dunia.
Uniknya, masyarakat Sanur sangat mandiri secara ekonomi. Sejak era kepemimpinan Ida Bagus Ketut Beratha (1959–1986), warga membentuk Badan Pembina Desa (BPD) yang menjadi cikal bakal Yayasan Pembangunan Sanur. Yayasan ini sukses membangun unit usaha seperti Bank Desa Sanur hingga restoran dan laundry (PT Bhakti). Keuntungannya tidak masuk ke kantong pribadi, melainkan dikembalikan untuk pendidikan anak-anak Sanur melalui sekolah-sekolah lokal.
Dinamika Administratif dan Modernitas
Seiring pertumbuhan penduduk, Desa Sanur mengalami pemekaran besar pada 1 Juni 1982. Wilayah ini dibagi menjadi tiga bagian: Kelurahan Sanur (sebagai induk), Desa Sanur Kauh, dan Desa Sanur Kaja. Saat ini, Kelurahan Sanur berada di bawah payung Desa Pakraman Intaran yang membawahi 9 lingkungan ikonik, mulai dari Singgi hingga Batujimbar yang tersohor.
Memahami Sejarah Kelurahan Sanur memberikan kesadaran bahwa keindahan sunrise yang kita nikmati hari ini adalah buah dari keteguhan hati para leluhur dalam menjaga tradisi dan kemandirian ekonomi. Bagi wisatawan, Sanur bukan sekadar destinasi; ia adalah ruang di mana sejarah, spiritualitas, dan gaya hidup modern menyatu dengan harmoni. (BP/CHA).













