INISIASI: (Kiri) Prof. Dr. Ir. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, M.T. Konsep pengelolaan sampah organik secara mandiri. (Ilustrasi: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Permasalahan sampah di Bali masih menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Selain sampah, banjir di Kota Denpasar juga menjadi mimpi buruk bagi sebagian masyarakat saat mulai memasuki musim penghujan. Menyoroti permasalahan banjir dan sampah yang terjadi, Akademisi Universitas Udayana (Unud) Prof. Dr. Ir. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, M.T., mengatakan, kedepan Bali perlu mengembangkan konsep Ecodrainase sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan banjir dan sampah secara masif, dikutip Selasa, 9 September 2025.
Akademisi yang akrab disapa Prof Nitya tersebut menjelaskan, perlu adanya komitmen tegas dari Pemerintah untuk menuntaskan permasalahan sampah dan banjir di Bali, tak hanya sekedar penerapan pola pengelolaan sampah secara mandiri, pengembangan konsep Ecodrainase sepatutnya bisa dilakukan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi dampak negatif dari banjir saat tiba musim penghujan, dengan rancangan yang lebih ramah lingkungan Ecodrainase dapat menjadi sebuah sistem yang dibutuhkan Bali untuk menjawab tantangan yang sejalan dengan prinsip Tri Hita Karana.
“Selama ini rumah hunian atau gedung kantor di Bali yang dibangun kurang ramah lingkungan, seperti sistem drainase yang mengalirkan air buangan dan air hujan langsung ke selokan yang ada di depan bangunan, serta pola pembuangan sampah yang meski telah memisahkan sampah organik dan anorganik namun tidak disertai olahan lanjut sehingga menjadi beban bagi pengelola sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir, red),” paparnya.
Ia menjelaskan, sistem yang kurang ramah lingkungan ini memberikan dampak atau beban yang cukup merugikan bagi kesehatan dan kelestarian lingkungan. Banyak sampah organik yang terlambat diolah lebih lanjut menumpuk di TPA, bau busuk dan pemandangan yang kurang enak sering muncul, kemudian sistem drainase yang hanya mengandalkan selokan atau got sering menimbulkan genangan air kotor bahkan banjir di musim hujan.
“Jadi dibutuhkan model rumah yang menerapkan aspek Tri Hita Karana terutama dalam aspek palemahan, yaitu model rumah yang menerapkan pola pengeloaan sampah organic mandiri dan ecodrainase, dalam hal ini memang diperlukan beberapa peralatan dan sarana tambahan, namun masih dalam kategori praktis dan mudah baik dalam operasional maupun perawatannya, swadaya dalam pengelolaan sampah rumah sangat penting diterapkan, agar setiap rumah bisa mendekati kriteria zero waste, tepatnya zero organic waste, rumah tanpa produksi sampah organik, jadi hanya produksi sampah anorganik seperti kemasan plastik dan botol plastik,” jelasnya.
Dalam pemaparannya Prof Nitya menambahkan, hal ini bisa diwujudkan dengan penambahan perangkat drum komposter, drum biodigester, drum carbonizer dan drum insenerator. Keempat alat ini digunakan dalam pengolahan sampah organic baik untuk membuat pupuk (fertilizer) maupun bahan bakar (fuel). Drum komposter digunakan untuk memproses sampah organik menjadi pupuk kompos, baik cair maupun padat, drum biodigester digunakan untuk membuat biogas, kemudian drum carbonizer untuk membuat arang, yang nantinya diolah menjadi briket, sedangkan drum insenerator untuk membakar sampah organic menjadi abu, yang nantinya bisa digunakan sebagai pupuk.
Dengan keempat alat yang praktis ini, maka sangat mungkin sampah organik seluruhnya diproses dalam lingkungan rumah sehingga kriteria rumah tanpa produksi sampah organik bisa diwujudkan. Selanjutnya, sistem drainase rumah perlu dirubah ke sistem ecodrainase, dimana sebelumnya air limbah dan kumpulan air hujan dari atap rumah semuanya dibuang ke selokan atau got depan rumah, dirubah menjadi (1) kalau bisa, saluran air limbah dipisahkan dengan saluran air hujan (2) jika dipisah, maka konsisi kebersihan air hujan bisa dijaga, dan bisa dimasukkan langsung ke dalam container air hujan yang diletakkan terhubung dengan pipa pengumpul air hujan yang jatuh di atap rumah, jika container penuhmaka dapat disalurkan ke sumur resapan atau rangkaian lubang biopori, yang berfungsi sebagai pelestari kandungan air tanah (air tawar) sebagai cadangan air di musim kemarau, baru setelah itu sisa limpahan air hujan disalurkan ke selokan.
Jadi teknisnya, limpahan air hujan dibagi dalam tiga bagian, satu bagian sebagai simpanan air, satu bagian sebagai suplai ketahanan air tanah dan bagian terkecil dibuang lewat selokan atau got. Jika ini diwujudkan, maka setiap rumah berkontribusi bagi kelestarian ketersediaan air tawar di kawasan perkotaan atau pemukimana padat.
“Demikianlah konsep yang ramah lingkungan yang saya usulkan, sebagai wujud penerapan aspek palemahan (dari Tri Hita Karana, red), dengan harapan ke depan setiap pembangunan rumah atau Gedung di tanah Bali, selalu disertai upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ucapnya.
Mengakhiri pemaparannya, Prof Nitya lebih lanjut mengatakan, Tri Hita Karana jangan berhenti pada prinsip saja namun sepatutnya dikembangkan lebih lanjut pada penerapan mulai rancangan hingga pengembangan di lapangan, misalnya pada rancangan rumah yang lebih ramah lingkungan terutama di kawasan perkotaan dan pemukiman padat. Ini dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akan dampak pembangunan rumah yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, seperti makin banyaknya sampah domestic dan ancaman banjir. (bp/gk)













