RANGKUMAN: Banjir Bali di September 2025 jadi yang terparah sepanjang sejarah. (Kiri) Tokoh Masyarakat Bali, I Gede Pasek Suardika. (Kanan) Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming. (Ilustrasi: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Bencana alam banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bali kemarin lusa telah menjadi catatan kelam dan merupakan peristiwa banjir terparah sepanjang sejarah, akhirnya mendorong berbagai pihak untuk bersuara terkait sebab-akibat yang memicu fenomena alam itu terjadi di Bali, dikutip Jumat, 12 September 2025.
Komentar hingga kritik yang menyoroti peristiwa Banjir Bali nampak memenuhi beranda Sosial Media (Sosmed) hari ini, tak hanya datang dari Tokoh Masyarakat Lokal Bali, sejumlah opini juga diutarakan Tokoh Nasional yang menduga maraknya Alih Fungsi Lahan (Pelanggaran Jalur Hijau) di Bali menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir besar.
Diungkapkan salah satu Tokoh Lokal Bali, I Gede Pasek Suardika atau yang akrab disapa GPS dalam unggahannya di Sosmed Facebook (FB), sempat menyinggung pernyataan Gubernur Bali, Wayan Koster, dianggap telah menyepelekan permasalahan alih fungsi lahan di Bali yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir selain curah hujan yang tinggi.
“Pernyataan yang dikeluarkan di tempat suci tidak bisa dianggap sepele dan sederhana. Tata ulang daerah sempadan sungai. Kesempatan penataan di sepanjang Tukad Badung, Tukad Ayung dan lainnya ditata dengan menjaga daerah resapan. Jalur hijau kota diperbanyak. Saatnya sekarang sebelum terlambat lagi,” singgungnya lewat unggahan di FB.
Selain menyinggung Gubernur Koster, GPS juga mengungkapkan keprihatinannya atas bencana banjir yang terjadi di Bali, adanya masyarakat yang kembali menjadi korban jiwa dan tak sedikit yang harus rela kehilangan harta benda, padahal Bali baru saja perlahan bangkit dari keterpurukan pasca Covid-19.
“Sayangnya juga dengan berbagai korban lanjutan yang tidak terbayangkan. Bangunan rusak, nyawa melayang dan ribuan kendaraan roda dua dan mobil terendam. Ayoo tebar afirmasi yang positif untuk kebangkitan Bali. Bali Bangkit, Bali bangkit dan Bali Bangkit!” Imbuhnya.
Selain GPS, komentar soal Alih Fungsi Lahan di Bali juga datang dari Tokoh Muda Nasional yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming, disela-sela kunjungannya menyambangi para korban banjir di Bali, kepada wartawan sempat mengatakan secara blak-blakan soal alih fungsi lahan yang ugal-ugalan jadi salah satu faktor utama bencana.
“Saya titip masalah alih fungsi lahan. Presiden sudah memerintahkan segera diselesaikan. Kalau tidak, tiap tahun banjir akan terus terjadi,” tegas Gibran saat meninjau pengungsi di Denpasar, Jumat, 12 September 2025.
Wapres Gibran menekankan terkait masifnya pembangunan di Bali, ia pun meminta Pemerintah Daerah (Pemda) untuk lebih rasional dalam mengambil kebijakan terkait pembangunan dengan tidak mengorbankan daerah serapan air (jalur hijau), menyepelekan sistem drainase dan sanitasi, sehingga risiko banjir tidak semakin besar.
“Agar pemulihan Bali pasca bencana bukan hanya fokus pada pariwisata, tapi juga penataan lingkungan yang berkelanjutan,” sentilnya. (bp/gk)










