LELAKI PEMABUK PUISI
seseorang itu, konon lelaki pemabuk imaji dan diksi,
berkepala plontos, berjubah putih, bertutup kepala putih—
sepertinya sangat kukenal, menggigil berkeringat dingin
di depan cermin, semula senyap lalu lamat-lamat ada suara
serupa bisikan halus tak henti-henti…
: “kemuliaan itu tidak dilihat dari tampan atau cantiknya rupa,
bukan pula dari seberapa banyaknya harta, tapi segala
amal perbuatannya,” suara serupa bisikkan itu perlahan
kian keras, bergema dan memantul-mantul hingga ke langit
seseorang yang sangat kukenal itu, bersimpuh, sujud,
memohon ampun, berderai-derai air mata, dan au, lihatlah,
tubuhnya serupa mengecil menjelma bulatan cahaya, aku
terpesona; bulatan cahaya itu melayang ke arahku dan tanpa
ampun masuk ke dalam mulutku, ke dalam tenggorokanku,
ke dalam ruang paling dalam jiwaku
dada dan kepalaku seperti ditaburi salju
: “ya Allah, ampun aku, akulah Si Buruk Rupa dan Si Miskin
harta, yang telah jauh berlayar di lautan-Mu, dengan iman
tak seberapa, dengan salah-dosa tak terhingga…”
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin…
dan puasaku, untuk-Mu, dan puisi-Mu
berilah sebaris-duabaris untukku.
Cirebah, 12 Ramadann 1447 H
SUJUD DI BAWAH RIMBUN MAWAR
selain rindu– apa yang tersembunyi dari sorot mata seorang penyair?
puisi, ya tentu
tetapi ada seribu kisah tentang usia kian menua sepanjang jalan ke
arah laut; cinta dan maut
: “aku tidak mau jadi orang jahat, aku akan terus bertarung di jalan
lurus, terus memeras keringat hingga tetes darah terakhir,” bisiknya
seraya menjatuhkan kepala ke pundak siang, “dan ini puasa, harus
kita agungkan…”
tak ada peluk, hanya tatap, tak ada juga kesepakatan berbusana coksu
usia dan maut membayang dalam cermin sepanjang Ramadan
: “au, cinta itu– ada di hati terdalam!”
ia dan penyair itu sujud di bawah rimbun mawar, diam, luruh; sama-
sama mengais rahmat-Mu
langit biru tenang, hanya berserak satu-dua percik awan putih, o
: “sesungguhnya kita milik-Mu dan akan kembali kepada-Mu!”
Cirebah, 13 Ramadann 1447 H
HUJAN SENJA
au, sejauh apa pemahamanmu tentang hujan, di awal pagi dan akhir
senja? engkau yakin berkah, dan tidak sedikit pun terbersit hujan itu
sesuatu yang tidak kausuka? seperti hujan tadi pagi dan senja ini?
ya, hujan menjelang pertengahan ramadan ini menabur rindu kepada
hal-hal baik dari orang terkasih, dari keagungan Allah, juga hal-hal
sederhana yang membuat bahagia, misal; kenangan unik sekaligus
lucu yang membuat tertawa-tawa dan mata berbinar-binar
: “sesederhana apapun kenangan dalam hujan, ada aroma puisi yang
melintas untuk dicatat, untuk diabadikan…”
dan hujan senja ini, kekasih, lihatlah kian deras, aku membayangkan
engkau tengah menerabas hujan itu seraya terus berzikir; astaghfirullah
hal adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaih…
: “bahtera dibangun tidak untuk menyelamatkan semua orang, tetapi
untuk orang-orang yang setia kepada cinta-Nya!”
dan kekasih, usai mahrib nanti kita mungkin tidak bisa menyaksikan
blood moon— gerhana bulan penuh, tidak mengapa, kita anggap saja
itu bukanlah peristiwa istimewa….
Cirebah, 14 Ramadan 1447 H
HUJAN TURUN BERSAMA ANGIN KENCANG
hujan turun bersama angin kencang
listrik mati sejak sore, kampung sunyi
di langit bulan bundar
tarawih ini malam hanya diikuti duabelas lelaki–
namun tidak mengurangi kenikmatan ruku dan sujud
: “ya Allah, beri kami kekuatan lahir-batin, menunaikan
ibadah ramadan, menggapai rahmat-Mu!”
kampung sunyi, musala al-falah senyap; ada sesuatu
yang tiba-tiba menyesak dada: ya Allah, beri aku
petunjuk-Mu– agar mulut-hatiku selalu terkunci
dari hal menyakitkan, dari segala yang bernama keangkuhan…
Cirebah, 15 Ramadann 1447 H
GERIMIS TAK KUNJUNG REDA
gerimis selalu turun menjelang senja, sebersit rindu pada-Mu
dalam dahaga puasaku; aku musafir di alam fana seringkali
terpesona pada senja
: “tak ada yang kupunya selain bait-bait puisi sederhana, au,
kenapa masih mau bersahabat dengan penyair?”
gerimis tak kunjung reda, matahari merah tembaga
kulihat seseorang terus melangkah, menerabas gerimis, meninggalkan
senja– ditimang-timangnya rasa suka pada sebuah pesta, akh, sebuah
pesta…
di meja makan aku menatap sepotong senja, bergemerlap cahaya, dan
ingin kutimang-timang nanti ketika berbuka puasa, ciah..,.
Cirebah, 16 Ramadann 1447 H
ZIKIR HINGGA MATAHARI MEMECAH
seseorang– yang aku kira tidak kaukenal, berjalan sedikit terhuyung
menyeret langkah(+sandal jepit)nya ke arah musala, azan subuh
sedang menggema lewat toa, sebentar-sebentar kepalanya mendongak;
bulan bundar temaram di langit keruh, dan kain sarung lusuh bau apek
menjadi citra khas lelaki paruh baya bertubuh kerempeng dengan
rambut putih semua…
lelaki itu, salat subuh berjamaah, lalu ketika orang-orang meninggalkan
musala– ia bersila zikir hingga matahari memecah…
lalu siangnya, lelaki itu takziah ke tetangga, ikut ke pusara– memasukkan
jasad ke liang kubur, azan, qamat, dan menimbun dengan tanah…
begitu sederhana hidup?
tetapi, bagaimana dengan kematian? au, lelaki itu– belajar: kematian adalah
tempat pulang yang abadi, tak ada yang dibawa untuk dibanggakan kecuali
nama baik, amal baik…
kematian…
aku, lelaki itu, dan kalian
tinggal nunggu giliran
: “ya Allah, jauhkan orang-orang sombong dan culas dari sisi mana pun
aku berada, aku hamba hanya punya coretan puisi sederhana…”
kematian…
……………….
……………….
Cirebah, 17 Ramadann 1447 H
BIODATA
Eddy Pranata PNP, Ketua Jaspinka— Jaringan Sastra Pinggir Kali, Cirebah, Banyumas; peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIII September 2025 di Jakarta dan penerima penghargaan/bantuan pemerintah dari Badan Bahasa tahun 2025 atas dedikasinya berkarya sastra terus menerus sejak tahun 1980.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).













