BADUNG, Balipolitika.com– Jero Bendesa Adat Ungasan sekaligus Wakil Ketua DPRD Bali, I Wayan Disel Astawa mengapresiasi kehadiran langsung Anggota Komisi X DPR RI, I Nyoman Parta mengecek tembok yang “memenjarakan” warga adat Banjar Giri Dharma, Manajemen PT. Garuda Adhimatra Indonesia atau Garuda Wisnu Kencana Cultural Park (GWK), Senin, 29 September 2025.
Kehadiran langsung tersebut ucap Disel Astawa bukan hanya sekadar bentuk empati terhadap masyarakat Desa Adat Ungasan, melainkan juga masyarakat Bali pada umumnya yang ia nilai terinjak-injak harga dirinya.
“Apa yang menjadi komitmen kita bersama, baik yang dituangkan oleh PT GAIN yang Direkturnya (Dirut, red) Bapak Nyoman Nuarta yang sekarang adalah Bapak Suwisma (Mayor Jenderal TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma, red) tetap membicarakan hal ini kepada pihak GWK Alam Sutera untuk kembali pada posisi awal, yaitu tahun 2007 bahwa jalan (akses Magada, red) adalah jalan. Kedua, BPN mengatakan bahwa di masing-masing batas dari 5 warga (rumah warga, red) yang ditutup (ditembok, red) ini adalah jalan, timur dan utara,” ucap Disel Astawa.
“Bapak Gubernur dan Bapak Bupati Badung, dengan data-data itu jelas, keterangan BPN dan konstitusi UUD 1945 jelas, secara undang-undang juga jelas, tidak boleh menutup akses masyarakat (berstatus jalan Pemerintah Kabupaten Badung, red). Kita harapkan Gubernur dan Bupati Badung tegas sesuai dengan komitmen RDP rekomendasi DPRD Bali bahwa untuk melakukan pembongkaran,” harap Disel Astawa di hadapan warga adat setempat.
Imbuh Disel Astawa, masyarakat adat Banjar Giri Dharma sudah sangat lama menunggu dan bersabar dengan menempuh jalur-jalur administrasi yang semestinya.
“Niat baik kami sudah berproses dengan baik, berkomunikasi dengan Alam Sutera dan GWK, tetapi sampai detik ini tidak membuahkan hasil yang baik. Tetapi, apakah diharuskan segala persoalan harus kita melibatkan masyarakat yang banyak? Negara ini sudah 80 tahun merdeka, semestinya tidak mesti kita sedikit ada persoalan hari itu kita mengeluarkan massa. Apa artinya ada mediasi? Apa artinya ada komunikasi? Jadi komunikasi itu sudah jalan, logikanya mari dong bersama-sama untuk menciptakan suatu kedamaian yang baik demi kesejahteraan masyarakat,” ungkap Disel Astawa menyayangkan sikap tidak Manajemen GWK yang dinilai tidak kooperatif.
“Terakhir, jika terjadi sesuai dengan apa yang saya sampaikan, mungkin salah tempat patung ini. Yang aslinya Patung Garuda Wisnu ada di utara, sekarang ada di selatan. Mungkin Bima Krodha ngamuk ini, tidak akan pernah terjadi. Jadi harapan saya, lebih baik kita tutup GWK saja agar tidak memperkeruh keadaan masyarakat itu sendiri,” tegas Disel Astawa.
“Dewa Wisnu dalam Pangider-ider Dewata Nawa Sanga berada di arah Utara, sedangkan pada arah Selatan adalah Dewa Brahma. Dengan salah penempatan arah, maka Dewa Wisnu mamurti menjadi Dewa Rudra Mukti yang menghancurkan kejahatan terhadap alam jagat raya. Rahayu,” imbuh Disel Astawa.
Disel Astawa turun langsung ke sejumlah titik rumah warga yang “terpenjara” di rumahnya sendiri mendampingi anggota Komisi X DPR RI, Nyoman Parta.
Turut hadir di lokasi Plt. Kadis PUPR Badung, I Nyoman R. Karyasa, Perbekel Ungasan, I Made Kari, perwakilan BPN Badung, dan warga adat setempat. (bp/ken)













