BADUNG, Balipolitika.com- Bayangkan kawasan Jimbaran yang saat ini bertabur resor mewah dan deretan kedai ikan bakar, dahulunya merupakan belantara rimba yang begitu mencekam. Jauh sebelum hiruk-pikuk wisatawan memadati pesisirnya, sejarah Desa Jimbaran menyimpan memori tentang fragmen dramatis yang lahir dari kerinduan sekaligus kesalahpahaman. Destinasi ini sejatinya lebih dari sekadar titik untuk mengagumi mentari terbenam; ia merupakan tanah sakral yang mempersatukan kembali dua garis keturunan raja yang sempat terputus.
Penamaan wilayah ini berakar kuat pada istilah Jimbarwana, sebuah frasa yang mendeskripsikan hamparan hutan yang sangat lapang. Merujuk pada naskah kuno dalam Prasasti Dalem Putih, migrasi serta persebaran penduduk di Badung Selatan ini telah terdeteksi sejak era kepemimpinan Sri Astasura Ratna Bumi Banten, sekitar tahun 1325 Masehi. Sang penguasa kala itu mengepalai delapan distrik pemerintahan besar di seluruh penjuru Bali.
Dalam bentang sejarah desa jimbaran, eksistensi Mahapatih Kebo Iwa juga menjadi pilar penting yang menjaga stabilitas kawasan perbukitan selatan tersebut. Fakta-fakta historis ini terukir abadi dalam berbagai artefak, termasuk Piagem Dukuh Gamongan dan Prasasti Pura Maospahit yang masih dihormati hingga kini.
Perselisihan Sengit Saudara Kembar
Di tengah rimbunnya belantara, hiduplah seorang petapa mumpuni bernama Sri Batu Putih atau dikenal dengan titel Dalem Putih Jimbaran. Beliau sejatinya merupakan saudara kembar dari Sri Batu Ireng, sosok ksatria yang di kemudian hari bertakhta dengan gelar Dalem Selem. Sayangnya, garis nasib memisahkan mereka sedari bayi, sehingga keduanya tumbuh dewasa tanpa pernah mengenali wajah satu sama lain.
Suatu masa, Dalem Selem yang dihantui rasa rindu mulai menelusuri wilayah selatan demi mencari keberadaan sang kakak. Lantaran buta akan rupa masing-masing, pertemuan di tengah hutan tersebut justru memicu friksi yang berujung pada bentrokan fisik yang hebat. Pertarungan dahsyat ini meletus dari titik Pura Sarin Bwana hingga merambah sejauh lima kilometer, melewati zona-zona yang kini kita kenal sebagai Muaya dan pesisir pantai sekitarnya.
Kedamaian Abadi di Pura Ulun Swi
Setelah menguras seluruh energi dalam duel yang seimbang, kedua ksatria ini akhirnya tersungkur kepayahan di atas tanah. Di tengah heningnya sisa-sisa perkelahian, sebuah dialog pengakuan jati diri mulai terungkap. Menyadari bahwa lawan tandingnya adalah darah daging sendiri, suasana seketika berubah menjadi haru biru. Mereka berpelukan dengan sangat erat di tanah Jimbaran, merayakan akhir dari perpisahan panjang yang menyiksa.
Guna menghormati momen rekonsiliasi tersebut, dibangunlah Pura Ulun Swi tepat di lokasi di mana kedua saudara ini berdamai. Hingga saat ini, arca-arca purbakala peninggalan masa tersebut masih tersimpan dengan sangat baik di Pura Sarin Buwana, kawasan Bukit Jimbaran. Narasi ini menegaskan bahwa kemasyhuran pariwisata Jimbaran saat ini sejatinya berpijak di atas fondasi tanah yang sarat akan nilai ketulusan dan kekuatan ikatan kekeluargaan. (BP/CHA).













