PEREMPUAN ITU ADALAH HIKARI
Matamu cahaya, dan aku lemah di hadapanmu,
seperti ujung tangkai Ezomatsu ketika ditimpa salju.
Engkau sangat mewah Hikari, lekuk pipimu ketika sedang tertawa,
gerak tanganmu ketika menyeka rambut
dan bentuk bibirmu yang tipis ketika tersenyum,
telah merenggut kegagahanku sebagai lelaki.
Aku gugup di bawah tekanan seluruh cahaya di tubuhmu.
Cahaya yang bukan saja terbit dari matamu.
Di Stasiun Furano, sejak petang lalu telah lewat.
Ketika pada Desember tahun baru, engkau janji jumpa.
Aku menunggumu hingga matahari nyala.
Orang-orang mulai curiga, aku gugup
dan meninggalkan gerak-gerik mencurigakan.
Kenapa engkau tak datang Hikari? Apakah engkau sakit?
Ini tengah Januari, 15 hari kita tak bertemu.
Aku rindu, meski aku ketakutan.
Khawatir engkau lari,
dan meninggalkan aku dengan cinta yang luka.
Hikari, Hikari
Apakah agama dan bangsa, bagimu
adalah sebilah samurai yang ditebas
oleh Dewa Amanojaku membelah darah kita?
Jika engkau sembunyi dari cinta.
Maka aku akan berhenti jatuh cinta hingga seribu tahun.
Bintaro, 2025
STASIUN FURANO
Musim dingin di Hokkaido amat tipis,
tapi beku yang masuk ke dalam mantel
tidak seperti musim dingin pada tahun lalu.
Tubuh tegak dan menantang,
setiap tepung angin yang menerjang lapisan kedua kulitku,
kutepis dengan kekuatan tulang pipi.
Aku gagah, karena Hikari pernah berkata,
bahwa cinta tak bisa dilumpuhkan,
bahkan oleh Iblis Akuma sekalipun.
Hikari adalah gadisku,
ia bagiku bagai Dewi Amaterasu Omikami,
melimpahkan kesuburan cinta.
Memperpanjang usia kasih sayang. Dan aku percaya.
Tapi ini sudah masuk hari kelima,
menunggumu di Stasiun Furano.
Telapak kakiku dalam sepatu sudah lembab,
bau mantelku sudah luntur oleh keringat basi,
nafasku agak pendek-pendek,
tatapan mataku mulai pecah,
suara-suara asing mulai masuk ke telingaku, aku gelap.
Aku dikepung gelisah, Hikari?
Kegagahanku semula tegap, mulai layu.
Keberanianku pelan-pelan patah.
Ular kereta di Furano seperti hendak melilit tubuh tipisku.
Gedung-gedung lancip Hokkaido seperti goyang
dan jendela kacanya menimpa ubun-ubunku.
Aku gemetar Hikari? Engkau dimana?
Bintaro, 2025
BERTEMU HIKARI DI GORYOKAKU
Awal Mei tahun itu,
duduk sendiri di bawah patung Dewa Ebisu
gadis dengan kaos besar dan celana comprang.
Matanya tenggelam dalam teropong kamera,
memotret sakura mekar.
Ketika ia melihat ke arahku, mata kami bertemu.
Aduhai, apakah ia putri raja, atau dewi-dewi?
Yang terlihat olehku,
ia tersenyum kemudian matanya ia arahkan ke awan.
Pada musim semi di Hokkaido,
Fort Goryokaku didatangi orang-orang.
Mereka keluar dari juutaku sejak siang muda. Hingga petang.
Di Goryokaku, aku dan Hiraki bertemu.
Mungkin, Dewa Okuninushi no Mikoto hadir di sana.
Bintaro, 2025
CINTA YANG TERANIAYA (2)
Pada satu helaan nafas,
aku memburu bayangmu
yang tiba-tiba hilang di rimbun gedung.
Aku luka Hikari.
Cinta sangat tajam,
membeset kulit keningku.
Mataku bengkak dan hampir buta
bayang-bayangmu kian pudar.
Mataku tak sanggup memburumu,
tubuhku lunglai,
tulang-tulang kakiku kaku.
Jika cinta ini patah,
maka kepadamu,
aku merindu selama hayat.
Taman Gunter, 2025
LAKI-LAKI DI DALAM KAMAR
Dia meledak, bukan pecah. Dia belum masuk. Aku luka, ini di bahu. Di balik kemeja. Apa? Mau lihat darahnya? Darahnya sudah kering, diusap hujan. Jika dia tak melihatnya, aku yakin dia perusak. Ingin ambil banyak rasa senangku. Waduh, dia tertawa sekarang. Aku sakit, ya, pundak. Dia tak percaya, karena tak melihat lebam di sana. Hujan juga tidak. Bekas darah juga. Dia tak ingin melihat itu, padahal ingin. Tapi itu kotor. Angin jatuh bersama debu, dia tak melihatnya juga. Dia tak pernah sanggup. Mata dia isi kabut. Ruh dia tidur, ya, tidur. Kita harus membangunkannya, sebelum besok sore. Jika abai, maka dia tetap hidup tanpa mata, tak melihat luka, hujan, darah dan sakit. Apa rasa hidup tanpa sadar? Tidur saja, ajak jasadnya yang tengkurap itu. Ruh dia tertinggal di rumah, di dalam kamar ayah. Telanjur rebah di sana.
Taman Gunter, 2024
BIODATA
Dahta Gautama lahir di Hajimena, Bandar Lampung, 24 Oktober 1974. Menekuni sastra sejak tahun 1990. Puisi-puisinya, dimuat di sejumlah koran lokal dan nasional, antaranya: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Merdeka, Swadesi, Pelita, Suara Karya, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Lampung Post, Sumatera Post, Trans Sumatera, Tamtama, Lampung Ekspres, dll. Buku puisi tunggalnya, Menjadi Camar (2002), Metamorfosis Mimpi (2005), Meditasi Sabtu Malam (2007), Silsilah Keluarga Kutukan (2010), Ular Kuning (2011), dan Manusia Lain (2013). Pada tahun 1997 – 1999 pernah menetap di Kyoto, Jepang. Kini berprofesi sebagai advokat di Firma Hukum DG & Partners, pernah menjabat Pemimpin Redaksi Dinamika News (2002-2012), Direktur NGO Badan Logistik Informasi (2006-2012), Redaktur Pelaksana Majalah Demokratis (2002-2006), Reporter Antv (1996-1998), Ketua Komunitas Sastra Mata Angin (1995-1997), Direktur Lembaga Kajian Filsafat Lingkar Profetik (1998-2014). Saat ini sedang menempuh Pendidikan Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Borobudur.










