DENPASAR, Balipolitika.com– Raja Billboard Bali, I Gede Agus Weda Wiguna alias Jagir geleng-geleng kepala saat bersama timnya mengeruk sedementasi alias endapan lumpur di Tukad Balian, Denpasar mulai Minggu, 14 September 2025 dan diagendakan hingga Selasa, 16 September 2025.
Pasalnya, belum seberapa jauh melakukan pengerukan dengan alat berat, timnya sudah berhasil mengumpulkan lumpur sebanyak 25 truk pada Minggu, 14 September 2025.
Aksi sosial itu ujar Jagir dilakukan karena genangan air yang memicu banjir begitu cepat terjadi padahal hujan hanya turun beberapa saat seperti peristiwa Senin, 15 September 2025.
Sosok flamboyan asli Buleleng itu mengatakan bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kondisi di Provinsi Bali, khususnya Kota Denpasar terancam akan lebih parah saat musim hujan sesungguhnya dimulai pada bulan Oktober 2025 hingga Maret 2026 mendatang.
Oleh sebab itu, ia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu dan hal yang ia pikir paling urgent atau mendesak dilakukan adalah membersihkan seluruh jalur air di Pulau Dewata, khususnya Kota Denpasar.
Jagir berprinsip harus bergerak cepat menghadapi musibah bahkan sebelum tragedi itu datang sekaligus menekankan kepedulian sosial bukan hanya slogan semata, tetapi aksi nyata di lapangan plus pembentukan regulasi yang matang serta terarah.
Jagir meminta dukungan penuh aparat untuk menjaga kelancaran jalannya pengerjaan sekaligus meminta personel keamanan dikerahkan untuk pengamanan sekaligus pengaturan lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan saat proses pengerukan berlangsung.
Skema pengamanan diatur dengan ketat: pagi hingga siang sebanyak 4 personel, dan siang hingga sore juga 4 personel.
Dengan demikian, aktivitas warga tetap berjalan lancar meski ada pengerjaan besar-besaran di jalur padat tersebut.
“Kalau sungai ini tidak segera kita keruk, dampaknya akan jauh lebih besar. Kita bicara tentang keselamatan warga, bukan hanya soal jalan tergenang atau macet. Saya tidak bisa diam melihat kondisi seperti ini,” ujar Jagir yang kini juga getol menekuni industri peternakan.
Walhasil, langkah heroik Sang Raja Billboard Bali ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat.
Bagi warga sekitar, sosok Jagir bukan sekadar pebisnis baliho yang tenar, melainkan juga figur sosial yang tidak segan terjun langsung menghadapi masalah riil.
Dengan tangan dinginnya, ia berusaha mengembalikan fungsi sungai agar kembali normal, sehingga warga dapat terhindar dari bencana banjir.
Pengerukan sungai di Jalan Tukad Balian bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi simbol perjuangan melawan ancaman bencana.
“Ini yang bisa saya lakukan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar Jagir Printing dan Advertising. Semoga langkah kecil ini menular dan kita bersama bisa lebih peduli pada lingkungan di sekitar kita guna mencegah sejak dini segala kemungkinan bencana yang mungkin saja datang di masa-masa yang akan datang,” tegas Jagir. (bp/ken)













