DENPASAR, Balipolitika.com- Kolaborasi tiga lembaga riset lintas negara melahirkan sebuah platform digital pertanian untuk memperkuat tata kelola rantai pasok beras di Provinsi Bali.
Program ini dikembangkan oleh WRI Indonesia, CSIRO Australia, dan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, dengan dukungan Program KONEKSI dan BRIN.
Platform yang diluncurkan dalam acara “Solusi Digital untuk Penguatan Tata Kelola Rantai Pasok Beras di Provinsi Bali” ini menghadirkan chatbot interaktif yang bisa diakses melalui WhatsApp.
Fitur tersebut memudahkan petani memperoleh informasi harga beras, pola tanam, pemupukan, hingga solusi pengendalian hama secara cepat dan praktis.
“Kami berharap teknologi ini bisa menjadi jembatan antara data, kebijakan, dan praktik di lapangan. Petani di Bali kini bisa memantau harga gabah dan memahami pola tanam yang sesuai dengan kondisi wilayahnya,” ujar Tomi Haryadi, Direktur Program Pangan, Lahan, dan Air WRI Indonesia.
Perwakilan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Ir. Gede Pramana, S.T., M.T., menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk sinkronisasi data pertanian secara real time, agar hasil riset ini dapat diintegrasikan ke sistem informasi daerah.
Sementara itu, Prof. Dr. Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, S.P., M.Agr. dari Universitas Udayana menegaskan, riset ini juga menunjukkan sistem pertanian organik dan terpadu terbukti meningkatkan produktivitas hingga 400–500 persen.
Program KONEKSI, diwakili Paskal Kleden, menilai proyek ini sebagai langkah penting dalam kolaborasi riset Indonesia–Australia di bidang ketahanan pangan dan inovasi pertanian berkelanjutan.
Platform digital ini diharapkan membantu petani Bali memperoleh keadilan harga, efisiensi produksi, dan mendukung kebijakan pertanian berbasis data. (bp/ken)













