PAPARKAN: Ketua DPC Partai Demokrat Kota Denpasar, Drs. A. A. Ketut Asmara Putra. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Denpasar bersama DPD Partai Demokrat Provinsi Bali menggelar Lomba Kerakyatan yang dirangkaikan dengan Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI di Jalan Ir. Juanda Nomor 4, Niti Mandala Renon, Denpasar, Minggu, 23 Agustus 2026.
Aksi sosial dan lingkungan ini menjadi puncak rangkaian kegiatan di Bali dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat yang jatuh pada 9 September 2026 mendatang.
Ketua DPC Partai Demokrat Kota Denpasar, Drs. A. A. Ketut Asmara Putra alias Gus Cilik, menegaskan bahwa gerakan sosial ini selaras dengan kearifan lokal Bali, yaitu filosofi Tri Hita Karana, khususnya dalam menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungan (Palemahan) sebagaimana tertuang dalam ajaran Bhagawadgita.
“Kebenaran harus disampaikan, kekeliruan harus kita perbaiki. Kegiatan ini adalah wujud ajaran Tri Hita Karana, menjaga keharmonisan antar manusia dengan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Ini adalah pergerakan sosial untuk memelihara lingkungan, mengembalikan lingkungan agar kembali asri,” ujar Gus Cilik.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Cilik memberikan sorotan tajam terkait isu pengelolaan sampah dan dampaknya terhadap masa depan pariwisata Pulau Dewata. Menurutnya, kebersihan alam merupakan fondasi utama perekonomian masyarakat Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
“Bagaimana jadinya kalau sampah menumpuk, Bali itu kotor, apakah nanti bagaimana pariwisata kita? Sedangkan kita di Bali usahanya hidup dari faktor pariwisata,” tegas Gus Cilik memaparkan kekhawatirannya.
Ia menyoroti permasalahan klasik perkotaan seperti sampah dan banjir yang melanda Denpasar akibat pembuangan sampah liar, penebangan pohon, hingga pendangkalan sungai. Gus Cilik secara khusus mengingatkan ancaman bahaya limbah plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme tanah.
“Apalagi sampah itu sampah plastik yang sulit sekali terurai, sekian tahun, 20 tahun, 30 tahun baru bisa terurai oleh bakteri. Bayangkan itu. Sehingga dari hari ini kita edukasi, pembelajaran ini pada masyarakat untuk dikembalikan alam ini, kita pelihara, kita jaga sesuai dengan ajaran yang ada di Bhagawadgita kita untuk memelihara Tri Hita Karana,” paparnya.
Lebih lanjut, Gus Cilik menjelaskan filosofi keseimbangan rantai makanan dan siklus kehidupan alam yang telah diciptakan Tuhan secara sempurna, di mana setiap komponen makhluk hidup saling menopang satu sama lain.
“Itu sesuai dengan alam, Tuhan sudah menciptakan alam ini sedemikian hebat, luar biasa, semua ya. Sesuai dengan apa itu, siklus hidup juga, kita tanamin pohon, pohon mengadakan proses asimilasi, mengeluarkan oksigen di mana makhluk hidup memerlukan oksigen juga, makhluk hidup bernapas mengeluarkan CO², itu dibutuhkan oleh pohon, kembalikan ke alam, begitu seterusnya siklus ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, siklus alami tersebut juga terlihat pada rantai makanan biologis di mana hewan herbivora dimakan oleh karnivora, lalu dimakan oleh omnivora yang mengonsumsi tumbuhan dan daging. Ketika omnivora mati, penguraian oleh bakteri akan menutrisi tanah sehingga menjadi subur dan menumbuhkan pepohonan kembali.
“Mudah-mudahan ini sebagai edukasi untuk masyarakat, pembelajaran bahwa alam itu harus dikembalikan dan dipelihara dengan baik, mengingat Bali adalah destinasi pariwisata,” tutupnya.(bp/gk)














