JAKARTA, Balipolitika.com- Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami koreksi sangat tajam hingga menyentuh angka tujuh ribu tujuh ratus poin. Penurunan drastis sebesar tiga belas persen ini menghancurkan optimisme investor yang sebelumnya mematok target pada level sembilan ribu. Otoritas bursa kini menghadapi tekanan besar untuk menjelaskan penyebab utama di balik pelarian modal asing secara masif tersebut.
“Pengelolaan bursa saham Indonesia saat ini sangat tidak profesional karena membiarkan banyak perusahaan bodong melakukan penawaran umum perdana,” ujar Bennix dilansir Balipolitika.com dari kanal YouTubenya.
Lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International atau MSCI kini menuntut transparansi penuh terkait struktur kepemilikan saham publik. Para investor institusi mencurigai adanya manipulasi data free float pada sejumlah emiten konglomerasi besar di tanah air. Praktik penggunaan boneka atau proksi dalam kepemilikan saham disinyalir menjadi alat oligarki untuk mengendalikan harga pasar secara sepihak.
“Banyak perusahaan memanipulasi struktur kepemilikan publik sehingga MSCI melakukan pembekuan sementara terhadap beberapa saham unggulan di Indonesia,” tuturnya.
Kecurigaan mengenai perdagangan orang dalam atau insider trading semakin menguat setelah MSCI mendeteksi pola transaksi yang tidak wajar. Otoritas jasa keuangan harus segera bertindak tegas untuk membersihkan emiten bermasalah dari papan pencatatan bursa efek. Jika perbaikan sistemik tidak segera terlaksana, Indonesia terancam turun kasta menjadi pasar perbatasan atau frontier market.
“Indonesia terancam duduk sejajar dengan negara Bangladesh dan Kazakhstan apabila masalah transparansi kepemilikan saham ini tidak segera tuntas,” kata Bennix menegaskan.
Penurunan status ke kategori frontier market akan memicu aliran modal keluar sebesar seratus tiga puluh satu triliun rupiah. Mandat investasi dari banyak pengelola dana global melarang mereka menaruh uang pada pasar yang tidak transparan. Hal ini akan merusak reputasi investasi nasional yang sudah dibangun dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun.
“Potensi kerugian akibat pelarian modal asing mencapai tujuh miliar dolar Amerika karena bursa kita dianggap sebagai pasar kelas teri,” ungkapnya dengan nada kesal.
Bennix juga menyoroti fenomena emiten “hantu” yang berhasil melantai di bursa meski tidak memiliki rekam jejak bisnis jelas. Salah satu contoh kasus adalah sebuah hotel di Batam yang tetap melakukan IPO walaupun tidak memiliki ulasan operasional. Reformasi total pada tubuh otoritas bursa menjadi harga mati untuk mengembalikan kepercayaan publik dan investor internasional.
“Pemerintah harus segera memecat para pejabat bursa yang tidak kompeten demi menyelamatkan masa depan ekonomi serta investasi di Indonesia,” ujarnya.
Meskipun kondisi pasar sedang mengalami turbulensi hebat, fundamental ekonomi nasional secara keseluruhan sebenarnya masih berada pada jalur yang benar. Perusahaan perbankan raksasa seperti BCA tetap mencatatkan kinerja operasional yang sangat solid di tengah tekanan harga saham. Investor cerdas justru harus memanfaatkan momen kejatuhan harga ini sebagai peluang untuk mengoleksi aset berkualitas dengan harga murah.
“Momen hujan emas ini merupakan waktu yang paling tepat bagi investor untuk membeli saham perusahaan bagus yang sedang diskon,” tutur Bennix.
Narasi konspirasi global juga muncul mengenai keterkaitan antara pengelola dana besar dunia dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Kelompok raksasa seperti BlackRock dan Vanguard dituduh sedang berupaya menekan valuasi aset di negara berkembang untuk tujuan tertentu. Indonesia memiliki tenggat waktu hingga Mei dua ribu dua puluh enam untuk membereskan semua tuntutan dari pihak MSCI.
“Kita harus waspada terhadap agenda terselubung pihak asing yang ingin membeli aset strategis nasional dengan harga yang sangat rendah,” ucapnya mengakhiri narasi. (BP/CHA).













