PENYUCIAN: Ritual Pratima Ida Bathara turun kabeh melasti di Segara (Pantai) Kramat Seseh, (Kanan) Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII. (Kolase: Gung Kris)
BADUNG, Balipolitika.com – Prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Segara (Pantai) Kramat Seseh, menjadi ritual penyucian yang turut mengawali rangakaian Dudonan Karya Agung Pura Penataran Agung Pucak Mangu, merupakan momentum penting yang wajib digelar sebelum dilaksanakannya Karya Puncak Tawur Balik Sumpah Utama, Padudusan Agung, Menawa Ratna, Mapaselang, Mapadanan Medasar Tawur Balik Sumpah Utama, Kamis, 30 Oktober 2025.
Diungkapkan langsung oleh Pangempon Pura Pucak Mangu, Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII, saat ditemui wartawan Bali Politika disela-sela prosesi melasti yang berlangsung tersebut, Ida Ratu Cokorda menjelaskan, setelah dilaksanakannya ritual penyucian ini rangkaian acara kemudian akan dilanjutkan dengan prosesi Mepekelem Kerbau dan Segara Kertih.
Ida Ratu Cokorda mengatakan, prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Segara merupakan ritual penyucian yang dilaksanakan setelah 25 tahun. Pada tahun 1999 dilaksanakan prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Beratan, lalu di tahun 2004 dilaksanakan prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Segara, pada tahun 2014 kembali dilaksanakan prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Beratan, lalu kembali dilaksanakannya prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Segara di tahun 2019.
Ritual penyucian ini seharusnya dilakukan kembali pada tahun 2024 lalu, karena satu dan lain hal akhirnya prosesi Pratima Ida Bathara Turun Kabeh Melasti Ring Segara baru bisa kembali dilaksanakan pada tahun 2025 ini. Di tahun 2029 mendatang, ritual akan dilanjutkan dengan prosesi Pratima Ida Bathara Nukub Ring Pucak Mangu, dilaksanakan sesuai isi dalam sastra.
Dudonan Karya Agung tahun ini dilanjutkan dengan prosesi Danu Kertih, yang akan berlangsung pada Sabtu, 1 November 2025. Kemudian dilanjutkan prosesi Wana Kertih pada Selasa, 4 November 2025. Puncak Karya akan digelar pada purnama sasih kelima, Buda Umanis, Wuku Julungwangi, Rabu, 5 November 2025, di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, Desa Pelaga, Peteng, Badung.
Lebih lanjut Ida Cokorda menambahkan, prosesi melasti kali ini setidaknya melibatkan 8 (delapan) desa adat pangempon Pura Pucak Mangu. Pratima atau simbol-simbol suci Ida Bathara yang di iring-iring melasti berasal dari puluhan pura di wilayah 8 desa tersebut. Selain itu, ritual melasti juga melibatkan Asta Puri Ageng Mengwi dan para Yowana.
“Jadi hari ini ada dua ritual sekaligus. Melasti dan danu kertih mapekelem kerbau,” imbuh Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII.
Lebih lanjut Ida Ratu Cokorda menjelaskan, setelah ritual hari ini selesai, Ida Bathara Kabeh akan distanakan (beristirahat) di Pura Taman Ayun selama satu malam. Sebelumnya, Ida Bathara maturan ayaban di Pura Sada, Kapal. Lalu memargi menuju Bringkit dan Jaba Pura Batur Waturenggong di batas selatan Desa Mengwi. Barulah pengayah dari Deda Adat Mengwi mendak Ida Bathara untuk marerepan semalam di Pura Taman Ayun.
“Pengayah dari Desa Mengwi sejumlah 13 banjar dibagi menjadi 2 shift. Banjar-banjar yang terletak di utara bencingah (bertugas, red) malam ini. Besok pagi baru yang di selatan bencingah,” jelasnya.
Selanjutnya, Warga Mengwi akan menghaturkan upakara prani atau sesajen yang tidak di-surud lagi. Setelah dihaturkan, semua surudan itu dijadikan konsumsi para pangiring. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Blahkiuh dan Sangeh, sebelum Ida Bathara menuju Parahyangan.
Ida Cokorda menyampaikan, setelah 1 November 2025, akan digelar upakara Danu Kertih di Ulun Danu Beratan, Tabanan. Seperti Segara Kertih, Danu Kertih juga menggunakan pakelem berupa kebo, kambing dan wewalungan lainnya.
Pada 4 November akan dilaksanakan upakara Wana Kertih di hutan seputar Pura Puncak Mangu, sebelum memasuki hari-H keesokan harinya.
“Jadi rangkaian karya agung ini sangat panjang. Bertujuan untuk memohon kesejahteraan jagat. Agar masyarakat bisa hidup tentram kertha raharja. Tujuan yadnya itu kan pasti memohon keselamatan jagat dan seluruh isinya,” papar Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII.
Ida Ratu Cokorda Mengwi XIII turut serta mengajak krama Hindu Bali, khususnya di wawidangan Badung, menjadikan upacara ini sebagai momentum refleksi diri agar kembali menyatu dengan alam. Berbagai peristiwa bencana alam baru-baru ini, menurutnya, adalah alarm (tanda) agar manusia kembali mengimplementasikan nilai-nilai luruh Tri Hita Karana. (bp/gk)













