MESKI tampak paradoksal, praktik perselingkuhan di kalangan kaum terdidik seperti dokter, pegawai negeri, pejabat pemerintah bukan semata karena “pendidikan tinggi sama dengan (=) moral lebih baik”.
Berikut sejumlah faktor yang kemungkinan besar terlibat dan menarik untuk disimak seperti tekanan profesi, stres, dan sistem penghargaan otak; status, opurtunitas, dan pendidikan tinggi; psikoseksual: kebutuhan emosional dan validasi diri; selingkuh sebagai balas dendam; dan sejenisnya.
Tekanan Profesi, Stres, dan Sistem Penghargaan Otak
Profesi seperti dokter atau pejabat sering menghadapi beban jam kerja yang panjang, tanggung jawab besar, shift malam atau tugas darurat.
Studi di bidang medis menunjukkan dalam sebuah survei terhadap dokter dan perawat, sekitar 21 persen responden mengaku pernah melakukan hubungan di luar komitmen utama mereka — dan pria dalam survei itu dilaporkan 4,3 kali lebih sering dibanding wanita.
Secara biologi, faktor seperti kelelahan kronis, stres tinggi, dan waktu bersama pasangan yang terpotong dapat mengganggu keseimbangan hormon dan neurotransmiter seperti dopamin (rasa “senang”), serotonin (stabilitas mood), dan kortisol (hormon stres).
Bila seseorang merasa kurang “terhubung” secara emosional, otak bisa mencari «reward» alternatif, yang dalam kasus ini bisa berupa hubungan di luar.
Status, Oportunitas, dan Pendidikan Tinggi
Data dari Institute for Family Studies (IFS) menunjukkan bahwa pria yang berprofesi di pekerjaan dengan prestise tinggi — misalnya dokter, CEO, ahli bedah — tingkat perselingkuhannya sekitar 18 persen untuk usia 25-54 tahun, dibanding hanya ~7 persen pada pria di pekerjaan “upper-middle prestige”.
Lebih lanjut, sebuah survei oleh situs gaya hidup (dengan keterbatasan metodologi) menunjukkan bahwa pada kelompok berpendidikan tinggi, persentase yang pernah “tergoda” hingga perselingkuhan lebih besar dibanding yang pendidikan rendah.
Dengan kata lain, pendidikan tinggi plus status sosial seringkali membawa kesempatan lebih besar, jaringan lebih luas, waktu luang lebih banyak — yang bila tanpa kontrol emosional atau komunikasi yang baik, bisa menjadi risiko.
Psikoseksual: Kebutuhan Emosional, dan Validasi Diri
Dalam sebuah hubungan, perselingkuhan sering bukan semata soal “seks” tetapi soal kebutuhan yang tak terpenuhi: perhatian, kekaguman, tantangan baru, atau bahkan “membuktikan” diri bahwa masih diinginkan. Kaum profesional yang reputasi kerjanya tinggi bisa menghadapi dinamika berikut:
- Di rumah, pasangan mungkin sibuk atau terbagi perhatian;
- Di lingkungan kerja atau sosial, mereka dilihat sebagai kompeten, dikagumi — memunculkan daya tarik tersendiri;
- Bila rasa kekaguman atau validasi ini menurun, pencarian di luar bisa dimulai sebagai “pelarian”.
Kombinasi status + kapasitas sosial + kesempatan menjadi lanskap di mana perselingkuhan menjadi “mungkin”.
Perselingkuhan sebagai Bentuk Balas Dendam
Tidak kalah penting: bila salah satu pasangan mengetahui atau mencurigai perselingkuhan oleh pasangannya, sering muncul motivasi balas dendam emosional.
Perilaku “saya juga bisa” atau “saya juga punya kesempatan” muncul sebagai respons psikologis terhadap rasa sakit, terluka, atau kehilangan kontrol.
Dalam konteks ini, perselingkuhan bukan hanya “kesempatan” tetapi “reaksi”. Tetap, risikonya: bukan jalan keluar dari masalah, melainkan memperdalam luka dan bisa memicu konflik yang lebih besar.
Kasus Selingkuh di AS Menurun
Secara umum di Amerika, persentase orang menikah yang pernah berselingkuh cenderung menurun: dari sekitar 17 persen di awal 1990-an, menjadi ~14 persen antara 2010-2018, dan ~13 persen pada data terkini (2021-22). (Institute for Family Studies)
Pendidikan tinggi → tidak selalu proteksi mutlak terhadap perselingkuhan. Misalnya: dalam survei terhadap profesional medis, 21 persen mengaku pernah terlibat perselingkuhan. (The Observer)
Faktor yang terkait: pekerjaan prestise tinggi, jam kerja yang intens, kesempatan interaksi yang lebih luas, serta kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Balas Dendam Bukan Penyembuhan
Memahami bahwa risiko bukan hanya “kesempatan” tetapi juga kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Profesional dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi perlu secara aktif membangun waktu berkualitas dengan pasangan, komunikasi terbuka, serta pengaturan keseimbangan kerja–hidup.
Bila merasa bahwa pasangan “mati rasa” atau “tertinggal”, lebih baik segera melakukan dialog atau konseling, daripada membiarkan celah terbuka untuk perselingkuhan atau balas dendam.
Balas dendam melalui perselingkuhan umumnya bukan penyembuhan; lebih sering jadi memperkuat rasa luka dan keretakan dalam hubungan.
Dari Sisi Kedokteran dan Neurobiologi
Secara biologis, otak manusia bekerja dengan sistem penghargaan (reward system). Saat seseorang mengalami ketertarikan baru, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar—zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan candu emosional.
Fenomena “jatuh cinta kedua” ini menimbulkan sensasi euforia yang menyerupai efek obat psikoaktif.
Individu yang berada dalam tekanan kerja tinggi, seperti dokter dan pejabat publik, sering mengalami burnout emosional, penurunan serotonin, dan peningkatan kortisol (hormon stres).
Kondisi ini menurunkan daya kontrol moral dan meningkatkan pencarian pleasure sebagai kompensasi.
Bagi sebagian orang, hubungan baru menghadirkan sensasi “hidup kembali”—bukan hanya karena seksualitas, tetapi karena adanya perhatian, kekaguman, dan koneksi emosional yang mungkin sudah lama hilang dalam hubungan resmi.
Dari Sisi Psikoseksual dan Dinamika Relasi
Kaum terdidik umumnya memiliki kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan posisi sosial yang tinggi—semua ini merupakan faktor yang dapat meningkatkan daya tarik interpersonal.
Ketika kebutuhan emosional, validasi diri, atau keintiman seksual tidak terpenuhi di rumah, maka hubungan alternatif seringkali terbentuk di lingkungan kerja atau sosial.
Dalam banyak kasus, perselingkuhan bukanlah pencarian kenikmatan semata, tetapi pencarian makna diri dan rasa dihargai.
Selain itu, status sosial dan tingkat pendidikan tinggi kadang menciptakan ilusi kontrol—keyakinan bahwa seseorang mampu mengendalikan situasi tanpa risiko. Inilah yang disebut sebagian pakar psikologi sebagai moral licensing—pembenaran internal atas perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan nilai diri sendiri. (***)













