JAKARTA, Balipolitika.com- Pasar smartphone global tengah menghadapi krisis pasokan komponen krusial yang mengkhawatirkan. Tahun 2026 diprediksi menjadi periode kenaikan harga HP 2026 yang signifikan di semua lini. Kelangkaan Random Access Memory (RAM) menjadi pemicu utama gejolak harga ini.
“Salah satu komponen buat bikin HP lagi langka, bukan prosesor, bukan kamera, bukan layar, tetapi bagian RAM-nya,” ujar David, seorang pengamat teknologi dari kanal GadgetIn.
Kelangkaan pasokan RAM terjadi bukan karena masalah produksi di pabrik. Permintaan masif datang dari pusat data AI yang bersedia membayar jauh lebih mahal. Pabrik-pabrik RAM memprioritaskan pasokan untuk klien teknologi kecerdasan buatan tersebut. Kondisi ini membuat industri smartphone kesulitan mendapatkan komponen.
“Produsen RAM mengalihkan fokus mereka buat bantu produksi RAM spek data center, kliennya lagi punya banyak modal dan lagi butuh barang,” jelas David.
Fenomena ini memaksa produsen RAM raksasa mengubah strategi bisnis mereka secara drastis. Micron, salah satu produsen RAM terbesar dunia, bahkan telah menghentikan bisnis RAM dan SSD konsumennya. Perusahaan tersebut memilih fokus sepenuhnya pada memori untuk kebutuhan pusat data AI. Perubahan besar ini menunjukkan betapa serius krisis pasokan yang terjadi.
“Micron mengumumkan mereka menghentikan bisnis RAM dan SSD konsumen bermerek Krusial, agar dapat fokus menjual memori ke AI,” tambah David.
Dampak kenaikan harga RAM sudah tercatat jelas dalam data pasar global. Laporan dari Reuters menunjukkan Samsung telah menaikkan harga RAM hingga 60 persen sejak pertengahan tahun ini. Tekanan inflasi ini bahkan sudah membuat produsen besar seperti Xiaomi secara terbuka mengeluhkannya. Xiaomi menyatakan kenaikan biaya RAM memaksa mereka menaikkan harga smartphone.
“Xiaomi mengeluh harga RAM sekarang bikin mereka mau tidak mau harus ikut menaikkan harga HP juga,” kata David, menggarisbawahi kondisi pasar.
Kenaikan harga komponen ini paling menyakitkan bagi segmen entry-level yang memiliki margin keuntungan tipis. Ambil contoh Samsung A07 yang dijual sekitar Rp 1,2 juta dengan margin untung tipis. Kenaikan biaya RAM Rp 200 ribu saja memaksa Samsung menaikkan harga total ponsel sebesar 20 persen. Kenaikan harga ekstrem ini tentu memberatkan konsumen di kelas tersebut.
“Bagi HP entry-level yang untungnya tipis, kenaikan harga komponen sebesar Rp 200 ribu saja sudah membuat harga total naik kurang lebih 20 persen,” tuturnya.
Situasi berbeda dialami segmen flagship yang memiliki margin keuntungan jauh lebih besar. Flagship seperti Samsung S25 Ultra masih bisa menyerap kenaikan biaya RAM yang terjadi. Namun, risiko perusahaan mengambil kesempatan untuk menaikkan harga lebih tinggi tetap ada. Merek dapat menyalahkan AI untuk kenaikan harga berlebihan.
“Yang saya takutkan adalah brand mengambil kesempatan buat menaikkan harga flagship menjadi lebih tinggi dari kenaikan harga komponennya, ini aji mumpung,” pungkas David.
Fenomena kelangkaan ini tidak dapat dihindari oleh merek smartphone manapun di pasar. Semua produsen pasti membutuhkan RAM, dan stok lama yang mereka miliki pada akhirnya akan habis. David berharap ada merek yang mampu menahan kenaikan harga, menunjukkan komitmen kepada konsumen.
Para pengamat berharap ada kejutan positif di tahun 2026, seperti peningkatan kapasitas produksi RAM secara global. David berharap ada merek yang mampu menahan kenaikan harga, menunjukkan komitmen kepada konsumen. Teknologi AI tetap penting, tetapi dampaknya pada ekonomi hardware perlu dicermati. (BP/CHA).













