JAKARTA, Balipolitika.com- Harga emas dunia mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan pasar spot global pekan ini. Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat menjadi motor utama yang mendorong gairah para investor logam mulia. Kondisi pasar modal menunjukkan optimisme tinggi setelah kekhawatiran terhadap ancaman inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
“Investor mulai merasa lebih nyaman bahwa perdagangan berbasis pelemahan nilai mata uang kembali mendapatkan momentum,” ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek.
Data perdagangan terbaru menunjukkan harga emas spot menguat tajam sebesar 1,16 persen ke level US$ 5.196,6. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman April bahkan melonjak lebih tinggi hingga menyentuh angka US$ 5.205,76. Tren positif ini membuat aset aman atau safe haven kembali menjadi primadona di tengah fluktuasi ekonomi.
“Penurunan harga minyak dari puncaknya membuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap inflasi yang tinggi sedikit mereda,” kata Bart Melek dalam keterangannya.
Harga minyak dunia yang kini terkoreksi di bawah US$ 100 per barel memberikan sentimen positif tambahan. Penurunan harga energi tersebut secara langsung mengurangi tekanan beban biaya produksi pada skala industri global. Bank sentral Amerika Serikat atau The Fed kini memiliki ruang lebih luas untuk segera mengeksekusi kebijakan penurunan suku bunga.
“Harga minyak yang masih relatif tinggi tetap mendukung emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko inflasi,” ucap Bart Melek menjelaskan situasi.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai potensi berakhirnya konflik di Timur Tengah turut menenangkan gejolak pasar. Namun para pengamat tetap mewaspadai laporan pemboman intensif yang masih terjadi di wilayah Teheran semalam. Ketegangan geopolitik ini membuat emas tetap diminati meskipun daya tarik imbal hasilnya bersaing dengan aset perbankan. Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi bagi para pemegang modal besar
Melemahnya nilai tukar dolar membuat pembelian emas menjadi jauh lebih murah bagi para pemilik mata uang lainnya. Situasi ini memicu lonjakan permintaan fisik maupun digital dari berbagai negara termasuk di kawasan Asia. Para pelaku pasar domestik di Indonesia kini mengantisipasi kenaikan serupa pada harga jual emas Antam.
“Harga minyak saat ini tidak lagi cukup tinggi untuk menghambat langkah bank sentral dalam memangkas suku bunga,” ujar Bart Melek menutup analisisnya. (BP/CHA).













