MEMOAR TANAH HARAPAN
: Palestina
“Lantas, di mana lagi musti Kaugelar
Langit berbintang sebagai selimut tidur
Mahatenang, bila di atas kotaku tebaran
Rudal-rudal bergentayangan?” batinmu.
Kauterkenang gelegar malam-malam
Itu, bombardir yang hadir sebagai trauma
Membakar. Kalbumu selalu menderu:
“Aku tahu Tuhan Mahatahu akan
Penderitaan yang membelenggu!”
Maka, seumpama bebau mesiu yang
Menyeruak ceruk paru, masihlah deritamu
Paling mampu meledakkan isak tangis pilu.
Di Gaza, doa-doa warga telah membukakan
Gerbang-harapan; yang membentangkan jalur
Begitu panjang menjulur menuju sorga;
Bakal singgasana para syuhada bertakhta.
Maka, kematian barangkali ialah
Semacam pijakan pertamanya.
O, di tanah harapan…
Rentang masa abad ini telah menjadi bait
Abadi penjajahan: zuriatmu yang tertawan,
Di mana kini musti kautemukan?
Mungkinkah telah hijrah menuju alam liyan,
Damai sebagai ruh yang pijar?
O, di tanah harapan…
Tabah kau mengerami ketakutan,
Saat desing kilat laju peluru hendak
Menyambar geletar tubuhmu.
Maka, betapa damba kami akan harapan
Yang kausemai dalam kalbu, semoga
Bunga-bunga kebahagiaan bermekaran
Jua di rekah wajahmu.
O, di rekah wajahmu…
(Pare, 2022)
ADEGAN BERBAHAYA KELUARGA BERSAHAJA
Sebuah kota yang tak sengaja kaukunjungi
Tengah menggelar suatu pertunjukan,
Dan kau turut menyaksikan:
Seorang bocah yang tubuhnya
Dibiarkan telantar berubah menjadi dermaga; tempat
Di mana lapar selalu berlabuh—menurunkan jangkar
Di lubuk perut. Berikut haus yang terus menggerus
Kerontang lehernya.
Seperti juga kausaksi: seorang ibu dipaksa
Mengandung dan melahirkan duka sendiri,
Usai dicabuli penderitaan hidup berkali-kali.
Disusul seorang bapak memilih ‘tuk menetakkan kapak
Di punggung rentanya, setelah mengira tubuhnya hutan siap tebang
Di tengah kota metropolitan: hendak
Ditanami gedung-gedung tinggi menjulang.
Hingga adegan-adegan lainnya yang lebih menegangkan,
Kau pun menyaksikan. Kau pun menyaksikan.
Lantas
Meminjam raut kusut kota, sengaja kau meletakkan
Harap-cemas mereka di tangan-tangan doa,
Bersama amin panjang yang bersikeras
Menjabat-cium tangan-Nya.
Menjabat-cium tangan-Nya.
(Pare, 2024)
NEGARA SUDAH TIDAK LAGI SAKIT-SAKITAN
Negara sedang sakit. Negara terbaring di
Ranjang kamar rawat inap. Ia
Sendirian bersama selang dan sebotol
Cairan infus yang mangarus ke lengannya.
Para pejabat yang semestinya
Menemani Negara
Semua berhalangan hadir. Katanya:
Ada utang Negara yang mesti segera
Dibayar.
Negara sedang sakit. Ia mencemaskan
Kalau-kalau dirinya segera mati, siapa
Yang akan bersedia menguburnya. Tapi
Negara selalu optimis, ia berdoa kepada
Tuhan berharap makmurnya
Jadi kenyataan. Duh, khayalan…
Seorang Rakyat tiba-tiba datang dengan
Mengenakan jas putih. Lalu
Menempelkan stetoskop di dada Negara,
“Mohon maaf, Pak, posisi jantung anda
Mesti segera dipindah ke bagian paling
Sentral dari tubuh anda.”
“Baik, Dok. Lakukan saja yang terbaik. Yang
Penting saya bisa sembuh,” sahut Negara.
Seorang Rakyat segera melakukan
Pembedahan. Seorang Rakyat berusaha
Menolong Negara, tapi apadaya, Negara
Tidak terselamatkan. Negara meninggal.
Rencananya, pemakaman Negara akan
Dilaksanakan sore ini. Tapi hingga magrib raib
Tidak ada satupun orang yang mengurus
Jenazah Negara. &
Entah bagaimana, Negara telah terkubur
Dengan sendirinya.
Malamnya, di rumah duka, para pejabat
Menyelenggarakan acara selamatan
Sekaligus rapat pembagian warisan.
Sekarang Negara sudah tenang.
Negara sudah tidak lagi sakit-sakitan.
(Pare, 2024)
TAMSIL MALAM (2)
Langit menjelma hutan terbakar,
Bintang-bintang melolong
Sepanjang malam.
Kusiapkan kepalaku sebagai
Kandang, biar mereka mengungsi
Ke dalam mimpi tidurku yang suram.
Langit menjelma samudra hitam,
Bintang-bintang berenang
Sepanjang malam.
Kusiapkan kail yang menawan,
Biar mereka kupancing & kubudidaya
Di dalam perutku yang laut kelam.
Langit menjelma dirinya sendiri,
Bintang-bintang berkelap-
Kelip waktu dini hari.
Kusiapkan setadah tangan,
Biar mereka turut mengaminkan doa-
Doa yang kurapal dalam keheningan.
(Pare, 2025)
BIODATA
Dzikron Rachmadi, lahir dan tinggal di Pare, Kabupaten Kediri. Ia penyuka seni dan sastra.













