BADUNG, Balipolitika.com- Wisatawan Republik Rakyat Tiongkok bernama Deqingzhuoga ditemukan meninggal dunia pada Selasa, 2 September 2025, di sebuah hostel kawasan Canggu, Badung. Korban berusia 25 tahun tersebut sebelumnya sempat mengeluh sakit parah disertai muntah-muntah hebat sejak malam sebelumnya. Pihak kepolisian Badung kini merampungkan penyelidikan setelah hasil otopsi merujuk pada indikasi penyakit saluran pencernaan akut.
Komisaris Polisi Gede Suarmawa, Wakil Kepala Polres Badung, menyatakan pihak berwenang menelusuri kemungkinan ada unsur kelalaian atau sebab lainnya terkait kematian tersebut.
“Kami masih menunggu hasil resmi autopsi. Pihak berwenang menelusuri kemungkinan ada unsur kelalaian atau sebab lainnya,” kata Kompol Gede Suarmawa, Selasa petang.
Staf Hostel Clandestino melihat Deqingzhuoga sakit keras pada Senin malam, sekitar pukul 21.00 Wita. Mereka segera menawarkan pertolongan medis mendesak, tetapi korban menolak tawaran tersebut. Deqingzhuoga mengaku tidak memiliki biaya berobat yang cukup untuk mendapatkan perawatan.
Eduardo Thomas Diaz Lama, pemilik Hostel Clandestino, membenarkan penolakan tersebut saat memberikan keterangan resmi kepada polisi.
“Awalnya, staf mereka menawarkan bantuan ke dokter. Korban menolak karena alasannya tidak punya uang untuk biaya pengobatan,” tutur Gede.
Sekitar dua jam kemudian, pukul 23.00 Wita, staf hostel kembali memeriksa kamar Deqingzhuoga. Mereka mendapati korban dalam kondisi sangat lemas. Staf hostel lantas berinisiatif memanggil layanan taksi daring.Seorang saksi mata, Maria Yasinta Gores, melihat korban sudah sangat lemas ketika dibawa.
“Korban memang sudah terlihat sangat lemas. Staf hotel segera membawanya ke fasilitas kesehatan demi keselamatan jiwanya,” ujarnya.
Mereka membawa korban menuju Canggu Medical, tetapi tidak ada dokter yang berjaga di sana. Selanjutnya, para staf bergegas mengantar Deqingzhuoga menuju Abdi Medica di Jalan Pantai Batu Bolong, Canggu. Di sana, dokter segera melakukan pemeriksaan awal. Sayangnya, korban kembali terbentur persoalan biaya perawatan.
“Dokter menyebutkan perkiraan biaya pengobatan dan perawatan sekitar Rp 3 juta. Tetapi, korban kembali menyatakan tidak punya biaya,” tambah saksi kepada polisi.
Karena terbentur persoalan biaya pengobatan, dokter hanya memberikan resep obat saja. Deqingzhuoga kemudian kembali lagi ke Hostel Clandestino pada dini hari. Pihak hostel membiarkan korban beristirahat di kamarnya setelah usaha pengobatan itu gagal total.
Keesokan harinya, Selasa, 2 September 2025, resepsionis Eka mengecek kamar Deqingzhuoga sekitar pukul 11.00 Wita. Seharusnya wisatawan Tiongkok itu telah melakukan check-out dari hostel sesuai ketentuan berlaku. Eka mendapati korban sudah tergeletak di lantai dalam posisi tengkurap. Saksi Ni Putu Eka Ayu Pusparini segera menghubungi rumah sakit.
“Staf mengira korban pingsan. Ketika staf coba memindahkannya, tubuh korban terasa kaku. Saya langsung menelepon rumah sakit terdekat,” jelas saksi Ni Putu Eka Ayu Pusparini kepada Polisi.
Petugas medis dari Nusa Medika tiba sekitar 10 sampai 15 menit kemudian di lokasi hostel. Perawat dan seorang driver segera memeriksa kondisi korban. Mereka tidak menemukan denyut nadi korban.
Wakapolres Badung menjelaskan bahwa korban sudah meninggal dunia saat petugas medis tiba.
“Petugas medis menyatakan korban sudah meninggal dunia. Mereka tidak menemukan denyut nadi korban,” ujar Wakapolres.
Polisi telah mengamankan beberapa barang bukti penting dari kamar korban. Barang bukti itu termasuk dua botol plastik berisi muntahan berwarna cokelat dan putih keruh. Barang bukti tersebut akan menjadi kunci dalam penyelidikan selanjutnya.
Wakapolres Kompol Gede Suarmawa menjelaskan pentingnya barang bukti muntahan tersebut.
“Kami mengamankan dua botol berisi muntahan. Ini akan menjadi barang bukti penting untuk mengetahui penyebab pasti kematian,” beber Kompol Gede Suarmawa.
Kepala Instalasi Forensik RSUP Sanglah, Kunthi Yulianti, akhirnya merilis laporan otopsi resmi mengenai kematian Deqingzhuoga. Hasil pemeriksaan medis ini menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik ditemukan pada jenazah korban. Dokter forensik memfokuskan penyelidikan pada kondisi internal organ tubuh.
Kunthi Yulianti menegaskan secara resmi bahwa hasil otopsi merampungkan pemeriksaan mendalam.
“Kami telah merampungkan laporan otopsi berdasarkan pemeriksaan mendalam. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kami tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban, kecuali luka yang berhubungan dengan tindakan medis,” ujar Kunthi Yulianti.
Pemeriksaan luar hanya menunjukkan luka berbentuk titik di lengan bawah kanan sisi dalam. Luka ini sangat sesuai dengan gambaran luka akibat tindakan medis. Kunthi Yulianti menjelaskan pola luka tersebut konsisten dengan prosedur medis.
“Luka di lengan bawah kanan itu memiliki pola yang konsisten. Itu sesuai dengan gambaran luka yang biasa timbul akibat prosedur medis,” tambah Kunthi Yulianti menjelaskan temuannya secara akurat.
Selain itu, pemeriksaan Laboratorium Forensik menguatkan kesimpulan medis. Seluruh sampel organ korban, mulai dari isi lambung hingga darah, terbukti negatif senyawa berbahaya. Labfor memastikan tidak terdeteksi adanya racun.
Kunthi Yulianti mengutip hasil dari bidang forensik lainnya yang memperkuat temuan ini.
“Pemeriksaan laboratoris kriminalistik sudah kami terima. Semua sampel yang diperiksa tidak mendeteksi adanya senyawa beracun apa pun yang mungkin menjadi pemicu kematian,” kata Kunthi Yulianti.
Tim forensik kemudian memfokuskan pemeriksaan pada organ dalam untuk mengungkap pemicu kematian. Hasil pemeriksaan internal menemukan kondisi yang mengarah pada penyakit saluran pencernaan. Kondisi itu diduga kuat menjadi faktor utama yang merenggut nyawa wisatawan muda ini.
Kunthi Yulianti merinci temuan signifikan di organ pencernaan korban.
“Kami menemukan adanya bercak-bercak perdarahan kecil. Ada juga pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir lambung korban,” ungkap Kunthi Yulianti.
Pemeriksaan lebih lanjut mencatat adanya cairan berwarna hitam kehijauan pada rongga lambung. Temuan ini sangat mengindikasikan adanya iritasi parah yang dialami korban. Rongga usus besar juga ditemukan dalam keadaan kosong.
Kunthi Yulianti menegaskan indikasi penyakit yang diderita korban.
“Selain itu, rongga usus besar kami temukan dalam keadaan kosong. Ini adalah tanda-tanda khas yang menguatkan adanya penyakit diare akut,” terang Kunthi Yulianti.
Kunthi Yulianti menyatakan sebab mati karena iritasi saluran pencernaan yang memicu diare parah tidak dapat disingkirkan. Diare parah itu mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit fatal dalam tubuh korban.
“Sebab mati karena iritasi saluran pencernaan yang menimbulkan diare kemudian mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit, tidak dapat kami singkirkan dari kesimpulan,” tutup Kunthi Yulianti, memberikan pernyataan terakhir mengenai hasil otopsi tersebut.
Laporan resmi otopsi ini kini menjadi pegangan utama pihak kepolisian. Polisi selanjutnya akan merampungkan seluruh proses penyelidikan atas kasus kematian wisatawan muda tersebut. (BP/CHA).













