JAKARTA, Balipolitika.com- Kontingen speed relay putri Indonesia mengukir sejarah gemilang pada ajang bergengsi Asian Beach Games 2026 di China. Pasangan andalan Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, yang merupakan atlet asal Bali ini berhasil memecahkan rekor dunia nomor estafet kecepatan. Keberhasilan fantastis ini terjadi saat srikandi Merah Putih menumbangkan tim tangguh tuan rumah pada babak semifinal yang sangat dramatis.
Atlet Indonesia mencatatkan waktu tempuh sangat tajam yaitu sekitar 13,174 detik pada papan skor digital. Mereka melampaui catatan waktu milik pasangan China, Zhou Yafei dan Deng Lijuan, yang sebelumnya memegang rekor dunia. Kemenangan tipis tersebut membuktikan bahwa atlet Indonesia memiliki kualitas teknik serta mentalitas juara pada level internasional.
Desak Made Rita bersama Kadek Adi Asih menyalip rekor lama milik tuan rumah sebesar 13,28 detik. Performa atlet kebanggaan Bali ini terlihat sangat sinkron sejak awal tumpuan hingga menyentuh tombol finis atas. Penonton di arena Tianya Haijiao memberikan apresiasi besar terhadap kecepatan gerak tangan dan kaki wakil Indonesia.
Tim Merah Putih kemudian melanjutkan dominasi mereka pada babak final dengan menghadapi kekuatan besar Korea Selatan. Desak Made dan Kadek Adi tetap tampil konsisten meskipun tekanan pada partai puncak terasa sangat tinggi. Mereka sukses meraih medali emas setelah mengukir catatan waktu 13,76 detik sementara lawan mereka terjatuh.
Keunggulan telak ini memastikan lagu Indonesia Raya berkumandang dengan gagah di tengah dominasi atlet-atlet Asia Timur lainnya. Tim Korea Selatan hanya mampu mencatatkan waktu 16,50 detik karena salah satu pemanjat mereka sempat terpeleset. Kegagalan lawan tersebut memberikan ruang lebar bagi Desak Made untuk mengunci posisi pertama tanpa hambatan berarti.
Medali emas dari nomor estafet kecepatan putri ini menjadi satu-satunya raihan tertinggi bagi kontingen Indonesia. Cabang olahraga lain seperti bola basket tiga lawan tiga serta voli pantai gagal menyumbangkan medali apa pun. Sektor panjat tebing kini resmi menjadi tulang punggung utama dalam mendulang prestasi olahraga pada kancah pantai Asia.
Kontingen Indonesia secara keseluruhan membawa pulang total satu medali emas serta dua medali perak dari kejuaraan. Pasangan putra Raharjati Nursamsa dan Antasyafi Robby Al Hilmi turut menyumbangkan perak pada nomor estafet putra. Antasyafi juga menambah perolehan medali perak melalui kategori perorangan putra setelah kalah tipis dari pemanjat tuan rumah.
Capaian fenomenal ini sekaligus memperbaiki posisi Indonesia dalam tabel klasemen akhir perolehan medali antar negara peserta. Pihak otoritas olahraga nasional segera melakukan pemetaan terhadap potensi atlet muda untuk menyongsong kompetisi tingkat dunia berikutnya. Fokus utama pengembangan kini tertuju pada penguatan fisik dan ketahanan mental atlet dalam menghadapi tekanan suporter lawan. (BP/CHA).













