BULELENG, Balipolitika.com– Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra meninjau langsung kerusakan pada jalan penghubung antar banjar di Kecamatan Busungbiu, Jumat, 16 Januari 2026, sehari setelah jalan tersebut jebol diterjang banjir.
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan penanganan cepat terhadap akses vital yang terputus, mengisolasi sejumlah warga dan mengancam mobilitas siswa sekolah.
Bupati Buleleng menginstruksikan perbaikan darurat akan dimulai Sabtu, 17 Januari 2026, meski akses untuk kendaraan roda empat masih harus menunggu.
Sutjidra turun langsung ke lokasi jalan yang jebol di wilayah Batu Megaang, tepatnya di jalur penghubung Banjar Dinas Bale Dana, Desa Titab, menuju Banjar Dinas Pucaksari, Desa Pucaksari.
Jalan sepanjang kurang lebih 60 meter itu ambles sedalam tiga meter setelah dihajar banjir pada Kamis, 15 Januari 2026 malam.
Bencana ini menyisakan jalur sempit dan berbahaya yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau sepeda motor secara ekstra hati-hati.
Di hadapan warga dan jajaran pemerintah desa setempat, Sutjidra menyatakan kesiapannya memulihkan akses.
“Kami dengan Dinas PUTR, kemudian ada dari anggota fraksi juga anggota dari DPRD turun langsung untuk bisa secepatnya menangani ini,” ujarnya di lokasi.
Ia menekankan bahwa jalan ini merupakan akses terbatas yang sangat penting, menghubungkan desa dan menjadi jalur bagi siswa sekolah yang dikhawatirkan masih terisolasi.
Sutjidra mengapresiasi kerja relawan dan alat berat yang telah bekerja sejak pagi untuk membuka akses darurat sembari menyebut rencana jangka pendek sudah dipetakan.
“Mulai besok (Sabtu, 17 Januari 2026, red) sudah dikerjakan lagi oleh Dinas PUTR agar segera aksesnya bisa dimanfaatkan masyarakat,” kata Sutjidra.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemulihan jangka pendek ini baru akan memungkinkan untuk lalu lintas sepeda motor.
Akses untuk kendaraan roda empat diperkirakan masih membutuhkan waktu lebih lama mengingat kerusakan yang cukup parah dan panjang.
Menanggapi potensi ancaman serupa di sisa musim penghujan yang masih panjang, Sutjidra menyebutkan langkah pencegahan jangka menengah.
Permasalahan utama disebutkannya adalah aliran air yang menyimpang.
“Nanti itu akan ditangani dari atas. Sehingga nanti juga di daerah ini akan diperlebar,” jelasnya.
Pihaknya juga mengungkapkan bahwa pemerintah sudah berkomunikasi dengan pemilik lahan setempat untuk memanfaatkan lahannya guna mengalihkan aliran air.
“Itu salah satu alternatifnya untuk mengantisipasi, memang airnya dari atas cukup besar,” kata Sutjidra.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Busungbiu, Nyoman Agus Tri Kartika Yuda yang mendampingi Bupati Buleleng memberikan konteks lebih luas tentang dampak cuaca ekstrem di wilayahnya.
Menurutnya, setidaknya ada 14 titik kejadian bencana terkait hujan deras di Kecamatan Busungbiu pada Kamis, 15 Januari 2026.
Mulai dari tanah longsor di Desa Sepang Klod yang sempat menutup jalan kabupaten, pohon dan tiang listrik tumbang di Desa Subuk, hingga longsor yang menimpa rumah warga di Pucaksari dan Titab.
Akan tetapi, kerusakan terparah terjadi di jalur Batu Megaang ini.
“Ini menjadi satu-satunya akses bagi warga Batu Megaang. Ada juga sekolah dasar di sana, SD Negeri 4 Titab, yang jumlah siswanya sekitar 25 orang,” papar dia.
Ia mengakui mobilitas warga sangat terganggu lantaran kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa lewat.
Sementara untuk sepeda motor pun tetap berisiko tinggi karena tebing jalan yang jebol langsung curam ke sungai di bawahnya.
“Dinas PU sudah dijanjikan akan mulai bekerja besok untuk memasang bronjong dulu, membuat badan jalan yang baru,” pungkas Kartika Yuda mengonfirmasi instruksi Bupati Buleleng. (bp/ken)













