BADUNG, Balipolitika.com- Dari Paralaga ke Pelaga. Bali memendam kisah sejarah kelam di balik keindahannya. Ingin tahu kisah yang menyebabkan sebuah kerajaan hilang? Sejarah Desa Pelaga berawal dari intrik istana pada abad IX. Kisah ini didapat dari tetua dan lontar Medang Kemulan yang relevan.
Pada zaman Raja Jaya Pangus, berdirilah Kerajaan Gegelang. Raja memiliki permaisuri dan seorang selir yang cantik. Selir melahirkan putra laki-laki yang tertua. Permaisuri melahirkan putra laki-laki yang lebih muda. Kebahagiaan raja terganggu oleh desas-desus rakyat.
Rakyat Gegelang mulai resah memilih pengganti raja. Mereka cenderung memilih putra dari permaisuri raja. Putra pertama dari selir merasa sangat tersinggung. Ia merasa diremehkan sebagai putra raja yang tertua. Ia yakin dirinyalah yang berhak menggantikan tahta. Putra pertama merasa dengki terhadap adiknya sendiri.
Ia berencana membunuh adiknya secara rahasia. Ia memanggil Maha Patih Kerajaan Gegelang. Rencana jahat itu disampaikan secara rahasia kepada Patih.
Pembunuhan di Hutan Sunyi
Hubungan kakak dan adik itu sangat akrab. Niat jahat putra pertama tidak terlihat sama sekali. Pada saat yang telah ditentukan, ia mengajak adiknya berburu. Keduanya berangkat ke tengah hutan dikawal Maha Patih. Hutan sunyi senyap saat mereka tiba. Kicauan burung dan hembusan angin terhenti.
Putra pertama memerintahkan Maha Patih membunuh adiknya. Mayat adiknya diseret dan ditaruh di samping pohon lapuk. Mayat itu ditimbuni daun-daunan agar tidak kelihatan. Putra pertama merasa puas dan pulang bersama Patih. Mereka menjaga agar kejadian itu tetap dirahasiakan.
Sabda Dewa dan Kata Kunci Paralaga
Seorang pemburu kemalaman di jalan gelap. Kudanya tidak mau berjalan, dan ia memutuskan bermalam. Menjelang subuh, ia mendengar sabda dari dewa. Sabda itu terdengar dalam temaram malam yang sepi.
Sabda itu mengatakan raja sedang bingung kehilangan putra. Putra raja terkasih itu mati dibunuh di hutan. Kejadian ini dapat diketahui dari kata-kata. Kata-kata itu berbunyi: Pa-Ra-La-Ga.
Kata-kata ini memiliki makna mendalam. PA artinya Putra Ida (raja). RA artinya Rakan Ida (kakak). LA artinya Langlang Duta (Maha Patih). GA artinya Gegelang (hutan Gegelang). Sabda itu menyimpulkan putra raja mati dibunuh. Pelakunya adalah kakak tiri dan Maha Patih Langlang Duta.
Hilangnya Kerajaan Gegelang
Pemburu itu segera menghadap Sang Raja Gegelang. Kebetulan saat itu ada paseban agung (rapat besar). Pemburu itu terbata menceritakan sabda yang didengar. Ia mengeja kata PA-RA-LA-GA yang penuh makna.
Raja Gegelang segera memerintahkan maha patih dan rakyat. Mereka menyebar ke tengah hutan mencari jasad putra. Jasad putra mahkota ditemukan tertimbun semak belukar. Jasad ditemukan di samping sebuah pohon runtuh. Raja Gegelang murka, lalu jatuh sakit dan meninggal. Sejak saat itulah Kerajaan Gegelang mengalami kehancuran dan hilang.
Kata PARALAGA sering dibicarakan masyarakat. Dari mulut ke mulut, kata itu menjadi PALAGA. Selanjutnya kata PALAGA berubah menjadi PELAGA. Wilayah Kerajaan Gegelang kini disebut Desa Pelaga. Nama Gegelang masih dikenal lewat Pura Pucak Gegelang. Pura ini dulunya pusat Kerajaan Gegelang. Sejarah Desa Pelaga adalah warisan tragedi dan intrik takhta. (BP/CHA).













