BADUNG, Balipolitika.com- Bukan Sekadar Kota Turis. Jika Anda mengetik nama “Seminyak” di mesin pencari Google, jutaan laman akan muncul seketika. Destinasi di Kecamatan Kuta ini memang sedang berada di puncak popularitasnya. Namun, di balik deretan kelab pantai yang modis, sejarah Desa Seminyak menyimpan dua versi cerita yang jarang diketahui wisatawan. Seminyak bukan sekadar tempat wisata, ia adalah warisan tutur yang dijaga oleh masyarakatnya.
Versi pertama membawa kita kembali ke masa kekuasaan Raja Pemecutan di Badung. Alkisah, sang raja mengutus salah satu saudaranya untuk membuka hutan belantara. Hutan tersebut membentang dari kawasan Legian hingga wilayah yang kini kita kenal sebagai Seminyak. Sang keluarga raja kemudian mendirikan sebuah jero atau rumah besar di sana.
Untuk menghidupkan kawasan baru tersebut, raja memberikan pengikut (panjak) yang berasal dari Desa Padangsumbu. Hubungan ini melahirkan ikatan persaudaraan yang sangat kuat hingga saat ini. Nama “Seminyak” dipercaya lahir dari dua kata, yaitu Sami (semua) dan Nyak (mau).
Istilah ini menggambarkan kepatuhan para pengikut dan penduduk saat itu. Tidak ada satu pun warga yang membantah atau menentang perintah pemimpin mereka. Semua tunduk dan bersedia bekerja sama membangun desa dengan hati yang tulus. Maka, lahirlah nama Seminyak sebagai simbol keselarasan antara pemimpin dan rakyatnya.
Versi kedua jauh lebih bernuansa mistis dan spiritual. Cerita ini berhubungan dengan perjalanan suci Danghyang Nirartha, pendeta agung dari Kerajaan Gelgel. Saat berada di Pura Petitenget, beliau mengutus pengawalnya bernama Kebo Ijo untuk berlayar ke selatan.
Setibanya di pantai, sebuah keajaiban terjadi karena Kebo Ijo tiba-tiba memiliki tanduk. Di lokasi tersebut kemudian dibangun sebuah pura yang kini dikenal sebagai Pura Camplung Tanduk. Uniknya, di areal pura ini tumbuh pohon Camplung yang buahnya menyerupai tanduk. Konon, pohon ini hanya bisa tumbuh di dalam areal pura tersebut.
Buah camplung ini menghasilkan minyak yang mujarab untuk obat urut (apun). Karena minyak dari buah inilah, masyarakat mulai menyebut daerah tersebut dengan nama Seminyak. Kedua versi ini, baik tentang kesetiaan warga maupun minyak obat yang sakti, diterima dengan terbuka sebagai kekayaan tradisi lisan oleh penduduk setempat.
Transformasi Desa Modern di Lahan 2 Km²
Meskipun wilayahnya tergolong mungil dengan luas hanya 2,06 km², Seminyak telah bertransformasi total. Dahulu hanya berupa hutan dan pemukiman kecil, kini hampir seluruh dari 4.000 jiwanya bergerak di sektor pariwisata. Popularitasnya bahkan mulai mengancam dominasi Legian dalam ranah digital.
Sejarah Desa Seminyak mengajarkan kita bahwa identitas sebuah tempat tidak hanya dibangun oleh bangunan fisik. Ia dibangun oleh cerita, nilai kepatuhan, dan keajaiban alam yang diwariskan turun-temurun. Saat Anda menikmati senja di pantainya, ingatlah bahwa Anda sedang berpijak di atas tanah “Sami Nyak”—tempat di mana semua orang sepakat untuk hidup selaras. (BP/CHA).










