DENPASAR, Balipolitika.com- Jauh sebelum aspal mulus menutupi permukaannya, Sejarah Kelurahan Renon bermula dari sebuah pergerakan besar pasca-runtuhnya Kerajaan Sri Khesari Warmadewa. Sisa-sisa penduduk yang cerai-berai mencari perlindungan ke sebuah lahan lempung yang sangat subur. Menariknya, migrasi ini juga dipicu oleh peristiwa unik di pesisir Sanur; kabarnya, masyarakat nelayan di sana terpaksa menyingkir akibat wabah bau ikan mati yang menyengat. Mereka kemudian membentuk perkampungan baru yang disebut “dedukuhan”.
Dahulu, kawasan ini adalah surga bagi para pencari ikan darat karena rawa-rawanya dipenuhi belut, lele, hingga ikan gabus. Keindahan alamnya menarik perhatian Ida Pedanda Tapa Ender untuk singgah dan mengail. Beliau sangat terpikat oleh hutan BELU yang pohonnya masih muda atau bajang. Dari gurauan beliau tentang “Belu Bajang” yang beralun indah, munculah istilah Lumajang—nama yang hingga kini masih populer dalam urusan adat niskala di Pura Dalem Lumajang.
Namun, nama Renon sendiri baru muncul saat kehadiran Ida Pedanda Sakti Bawu Rawuh dari Sidekarya. Begitu tiba, beliau merasa sangat kagum dan hatinya diliputi rasa gembira yang luar biasa. Dalam bahasa Bali, rasa senang atau gembira itu disebut Rena. Beliau memanggil para penduduk dengan sebutan Desa Rena, yang seiring berjalannya waktu dan dialek lokal berubah menjadi Desa Renon.
Keunikan Mistis: Desa Tanpa Ogoh-Ogoh
Jika Anda berkunjung ke Bali saat malam pengerupukan, Anda akan melihat pawai ogoh-ogoh di setiap sudut kota, kecuali di Renon. Desa Adat Renon memegang teguh larangan pembuatan ogoh-ogoh sejak tahun 1986. Hal ini bukan tanpa alasan; sebuah peristiwa mistis di masa lalu menjadi peringatan keras bagi warga untuk tidak melaksanakan tradisi tersebut. Larangan ini menjadikan Renon satu-satunya wilayah di Denpasar yang merayakan keheningan Nyepi tanpa hingar bingar boneka raksasa, demi menjaga keseimbangan niskala desa.
Renon dalam Denyut Modernitas
Secara administratif, Kelurahan Renon kini merupakan bagian vital dari Kecamatan Denpasar Selatan. Meskipun publik sering mengaitkan “Lapangan Renon” (Niti Mandala) dengan nama kelurahan ini, secara administratif lapangan ikonik tersebut sebenarnya masuk dalam wilayah Desa Sumerta Kelod. Namun, identitas Renon sebagai pusat ketenangan tetap tak tergoyahkan.
Mengetahui Sejarah Kelurahan Renon membuat kita menyadari bahwa setiap sudut wilayah ini dibangun atas dasar rasa syukur (Rena). Bagi wisatawan, Renon menawarkan sisi lain Bali yang tenang, religius, dan penuh rasa hormat terhadap aturan leluhur yang tak kasat mata. (BP/CHA).










