BALI, Balipolitika.com – Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana tutup dua kali pada, Selasa (29/7).
Adalah dampak dari cuaca buruk angin kencang dan gelombang tinggi. Penutupan menyebabkan terjadinya antrean kendaraan hingga ke luar pelabuhan atau di Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Menurut informasi, penutupan pertama pukul 00.28 WITA dan layanan buka kembali pukul 02.05 WITA. Kemudian penutupan layanan penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk kedua mulai pukul 08.27 WITA dan buka kembali pukul 12.38 WITA.
“Ada dua kali penutupan sementara karena cuaca buruk,” ungkap Komandan Pos Angkatan Laut (Pos AL) Gilimanuk, Letda Laut (P) Bayu Primanto, Selasa (29/7).
Dia menyebutkan, dampak dari penutupan pertama saat dini hari tadi menyebabkan antrean kendaraan terutama kendaraan logistik mencapai di depan Pasar Gilimanuk.
Sementara, penutupan kedua juga sebabkan antrean hingga ke luar pelabuhan. “Saat ini masih terjadi antrean kendaraan liar Pelabuhan. Kami imbau agar seluruh pengguna jasa memaklumi kondisi ini demi keselamatan pelayaran,” jelasnya.
Sementara itu, PT ASDP Indonesia Ferry mengerahkan kapal bantuan berukuran besar untuk membantu mengurai antrean kendaraan yang mengular di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.
Antrean ini terjadi akibat padatnya arus kendaraan menuju Bali, khususnya melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk. Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menjelaskan bahwa Minggu (27/7) jadwal uji sandar kapal bantuan KMP Gading Nusantara milik PT Jembatan Nusantara, anak usaha ASDP.
Kapal tersebut biasa beroperasi di lintasan Pelabuhan Padangbai, Bali – Pelabuhan Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namun, kali ini teralihkan memperkuat layanan penyeberangan di jalur Ketapang–Gilimanuk.
KMP Gading Nusantara memiliki kapasitas besar, yakni mampu mengangkut hingga 30–40 unit kendaraan campuran, atau sekitar 30 unit truk tronton jika optimal.
Kapal ini berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada Sabtu (26/7), dan telah mengantongi izin operasional dari KSOP dan BPTD untuk segera memperkuat jalur penyeberangan utama ke Bali tersebut.
“Antrean yang sebelumnya sempat mencapai 30 kilometer, kini sudah mulai terkendali. Pagi ini truk-truk logistik ke kantong parkir Bulusan dan antrean turun signifikan menjadi hanya 1,3–2 kilometer dari Pelabuhan,” ungkap Shelvy.
Kehadiran KMP Gading Nusantara melengkapi armada bantuan sebelumnya, KMP Portlink VII yang juga berukuran besar dan telah lebih dulu beroperasi di lintasan ini.
ASDP juga menerapkan kebijakan khusus terhadap kapal eks Landing Craft Tank (LCT). Kapal jenis ini hanya boleh mengangkut maksimal enam unit truk tronton tanpa penumpang umum.
Selain itu, wajib serta dua awak kendaraan yang menggunakan life jacket selama pelayaran. Aturan ini di terapkan oleh Ditjen Perhubungan Laut demi menjaga standar keselamatan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Yannes Kurniawan, menambahkan bahwa pengelolaan operasional juga peningkatan.
Enam kapal di Dermaga LCM saat ini fokus khusus untuk melayani truk-truk dengan tonase lebih dari 35 ton. Hal ini agar distribusi logistik lebih merata dan tidak menumpuk pada satu jalur pelayanan saja.
Selain itu, percepatan proses bongkar muat dan pengaturan berdasarkan jenis kendaraan juga untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat alur kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali. (BP/OKA)









