MIRIS: Aktivis Lingkungan asal Bali, I Made Somya. (Sumber: Istimewa)
DENPASAR, Balipolitika.com – Aktivis Lingkungan yang juga seorang Praktisi Hukum asal Bali, I Made Somya, mengaku miris melihat situasi Bali, khususnya Kintamani, Bangli, saat ini terancam rusak akibat investasi yang tidak terkendali dan tidak tersaring.
Menurutnya, pembangunan fisik dan proyek investasi yang berkedok pariwisata di Kintamani, dapat membawa dampak perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Saya melihat adanya kerjasama (MoU, red) pemerintah daerah setempat yang memberikan peluang buat kaum Kapitalis yang malah berpotensi akan membuat kawasan Kintamani malah berangsur Rusak di kemudian hari dengan dalih pariwisata,” ungkapnya, dikutip Jumat, 17 Oktober 2025.
Lebih lanjut ia mengatakan, beberapa dampak negatif yang dapat menyebabkan Kintamani mengalami kerusakan antara lain, kerusakan Lingkungan akibat Pembangunan proyek investasi yang tidak ramah lingkungan, juga menyebabkan kerusakan habitat dan ekosistem.
Ia melihat, pembangunan proyek investasi dapat menyebabkan masyarakat lokal kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.
“Eksploitasi Sumber Daya Alam akibat Investasi yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, sehingga mengancam kelestarian lingkungan,” paparnya.
Ia menilai, untuk mencegah hal itu terjadi, perlu dilakukan pengelolaan lingkungan yang baik dengan melakukan kajian yang komprehensif sebelum melakukan pembangunan proyek investasi
“Partisipasi Masyarakat Lokal dalam proses pengambilan keputusan terkait pembangunan proyek investasi,” ujarnya.
Ia menekankan, bahwa investasi yang berkelanjutan menjadi hal yang perlu diterapkan, agar tidak berdampak negatif bagi ekosistem dan pembangunannya harus menerapkan konsep ramah lingkungan. (bp/gk)













