BADUNG, Balipolitika.com- Siapa yang tidak kenal dengan Canggu hari ini? Kawasan ini menjadi magnet utama bagi para wisatawan dunia. Namun, tahukah Anda, nama Canggu yang hits ini menyimpan misteri masa lalu? Ternyata, desa ini memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Majapahit kuno.
Meskipun data tertulis seperti lontar sulit ditemukan, ceritanya turun-temurun. Sejarah Desa Canggu ternyata berhubungan dengan keris sakti dan perjalan suci. Mari kita telusuri jejak spiritual ini.
Petandakan dan Keris Bengawan Canggu
Masyarakat sering membandingkan nama desa di Bali dengan di Jawa. Kesamaan nama seperti Kediri dan Gerobogan terbukti ada. Demikian pula dengan nama Canggu. Nama ini diduga berhubungan dengan Canggu di Majapahit, pelabuhan di muara Kali Brantas.
Kisah utama muncul dari Babad Dalem Samprangan abad XIV. Raja Bali, Sri Semara Kepakisan, mengutus patihnya bernama Kyai Petandakan. Sang Patih diutus pergi memenuhi undangan Raja Hayamwuruk dan Patih Gajahmada di Majapahit. Patih ini kemudian kembali ke Bali.
Raja Majapahit menghadiahkan sebilah keris sakti. Keris itu berfungsi sebagai jimat untuk mempertahankan Pulau Bali. Tatkala Kyai Petandakan menaiki perahu di Bengawan Canggu, sebuah peristiwa terjadi. Keris pusaka itu secara tidak sengaja jatuh ke air sungai.
Patih Petandakan tidak tinggal diam. Ia menggunakan kekuatan puja mantranya secara maksimal. Kemudian, anak keris itu kembali masuk ke sarungnya dengan sendirinya. Karena kejadian itu, keris sakti tersebut diberi nama Bengawan Canggu.
Kesucian Batin dan Kekuatan Wilayah
Setelah tiba di Bali, Kyai Petandakan beristirahat di suatu tempat. Beliau beristirahat sambil membawa keris pusaka tadi. Oleh karena itulah daerah ini selanjutnya diberi nama Canggu. Nama Canggu ini diyakini memiliki kekuatan tersendiri.
Nama tersebut diberikan seorang patih yang memiliki kesucian batin. Hal ini dibuktikan oleh kedatangan seorang Resi suci dari Majapahit. Resi itu adalah Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Danghyang Dwijendra. Beliau adalah tokoh penting di Bali.
Danghyang Dwijendra sempat singgah di Canggu dalam perjalanannya. Beliau menuju Dalem Waturenggong di Gianyar. Resi agung ini singgah di Pantai Batu Bolong yang indah. Di pantai inilah beliau membuat tirta empul melalui kekuatan Yoganya.
Tirta Empul dan Pengaruh Besar Majapahit
Kisah ini diuraikan dalam lontar Pedanda Sakti Wawu Rauh secara rinci. Lontar menyebutkan Resi itu tiba di Canggu setelah melalui lautan. Beliau sempat membuat tujuh buah tirta empul di sana. Tujuan pembuatan tirta empul itu adalah penyembuhan.
Tirta Empul di Batu Bolong menjadi air suci penting. Prasasti di Pura Batur menyebut tirta ini sebagai pesucian Bhatara ring Batur. Jadi, nama Canggu dan Tirta Empul punya sangkut paut kuat. Kejadian ini melibatkan Patih Kyai Petandakan dan Danghyang Dwijendra.
Kedua tokoh Majapahit ini memiliki pengaruh besar di Bali. Pengaruh mereka terutama terasa dalam perkembangan Agama Hindu. Mereka membawa konsepsi Padmasana yang menjadi ajaran penting.
Evolusi Administratif Desa Canggu
Perkembangan Desa Canggu tidak lepas dari penyatuan dua desa. Dahulu ada Perbekelan Canggu dan Desa Tibubeneng. Kedua desa ini digabungkan pada tanggal 10 Oktober 1958. Sejak saat itu, wilayah administrasi dinamakan Desa Canggu.
Pada masa pemerintahan I Nyoman Pegig (1958–1974), pembangunan kantor kepala desa berhasil. Pembangunan Balai Desa dan sekolah-sekolah mulai dirasakan masyarakat. Hingga tahun 1992/1993, tingkat perkembangan Desa Canggu mencapai Swasembada.
Para kepala desa seperti I Ketut Sana, I Wayan Jegriyasa, dan Nyoman Kurdana memimpin pembangunan. Mereka memperjuangkan pendirian dua LPD. Dua lembaga keuangan itu adalah LPD Desa Adat Canggu dan LPD Desa Adat Padonan. Sejarah Desa Canggu ini menunjukkan evolusi dari jejak spiritual menjadi kawasan modern. (BP/CHA).
Sumber artikel dari SINI.













