AKSI: Giat Mereresik Pantai Padma digelar oleh DPD Gerindra Bali, juga diisi pembagian sembako kepada para petugas kebersihan pantai, Jumat, 6 Maret 2026. (Kolase: Gung Kris)
BADUNG, Balipolitika.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Bali menggelar kegiatan mereresik (bersih-bersih) di Pantai Padma, Legian, Badung, merupakan agenda rutin partai berlambang burung garuda tersebut, kali ini melibatkan setidaknya 500 orang kader menjadi momentum memperkuat sinergi rangkaian HUT ke-18, pada Jumat, 5 Maret 2026.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 500 orang ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-18 Partai Gerindra sekaligus bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Ketua DPD Gerindra Bali, Made Muliawan Arya yang akrab disapa De Gadjah mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar para kader aktif menjaga kebersihan lingkungan.
Jadi kader Gerindra diwajibkan melakukan kegiatan bersih-bersih di mana pun, tidak hanya di tempat umum, tapi juga di lingkungan rumah dan sekitar. Minimal seminggu sekali,” ujar De Gadjah di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan, aksi bersih-bersih tersebut akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat dengan melibatkan ratusan kader. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Setiap Jumat sekitar 500 orang. Minggu depan ada lagi. Ini instruksi, jadi kami tunduk dengan instruksi itu,” katanya.
De Gadjah juga menilai persoalan sampah kiriman yang muncul setiap musim angin barat seharusnya sudah memiliki solusi permanen.
“Bukan ironis lagi, beliau pasti tahu, pasti sedih dan marah lah. Dan sebenarnya masalah ini kan sudah terjadi tiap tahun ke tahun, setiap angin barat. Harusnya sudah ada solusi yang bisa dilakukan permanen. Jadi tiap tahun ada seperti ini. Kayak Jepang lah, dia rawan dengan gempa, akhirnya saking seringnya ada gempa, bagaimana dia menciptakan rumah anti gempa. Nah, kita kalau sudah tiap tahun seperti ini harusnya ada solusi,” ujarnya.
Ia juga menyatakan akan membangun komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, hingga pemerintah pusat guna mencari solusi bersama terkait penanganan sampah laut.
“Ya, saya berkomunikasi. Komunikasi sama Bupati baik, sama Pak Gubernur baik. Ya, semua harus bersama, dilakukan bersama baik pemerintah, masyarakat—masyarakat harus sadar, kesadarannya harus ditingkatkan—pengusaha, desa adat, dan tentu pemerintah pusat juga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Badung, I Wayan Puspa Negara yang juga menjadi pelopor kegiatan beach clean up di Pantai Legian menjelaskan bahwa kegiatan bersih-bersih pantai sebenarnya telah rutin dilakukan selama lima tahun terakhir.
Menurutnya, kondisi pantai pada hari biasa relatif bersih karena melibatkan berbagai pihak seperti pedagang, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Namun saat musim angin barat, volume sampah yang terbawa arus laut meningkat cukup signifikan.
“Sepanjang Pantai Legian yang panjangnya sekitar 1,6 kilometer, saat musim angin barat setiap hari bisa menepi antara 20 sampai 25 ton sampah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar sampah tersebut merupakan sampah kiriman yang terbawa arus laut dan angin dari berbagai daerah. Jenisnya pun beragam, mulai dari kayu, ranting hingga sampah plastik yang sulit dipilah.
Fenomena tersebut dikenal oleh masyarakat pesisir Bali dengan istilah bade sampah, yakni kiriman sampah laut yang biasanya terjadi selama periode angin barat, sekitar tiga bulan mulai Desember hingga pertengahan Maret. (bp)













