SEBELUMNYA aku tak tahu dunia itu seperti apa, karena sebelumnya aku hanya mendengar segalanya melalui rahim ibu. Aku berasal dari suatu tempat yang dikelilingi cahaya, sama seperti kalian semua sebelum menyandang status menjadi ‘manusia’. Meski mereka tak tahu bagaimana rupaku, aku selalu mendengar mereka semua. Segala perkataan pahit entah padaku atau pada ibu. Hal yang paling kusuka adalah ketika ibu menyantap makanan favoritnya, yaitu mie ayam. Meski tak begitu baik bagi pertumbuhanku, tapi aku merasakan hati ibu yang berbahagia.
Suatu kali, ibu muntah-muntah. Kata orang-orang di luar, itu karena ibu terlalu banyak makan makanan yang tidak bergizi. Mereka tidak tahu, bahwa akulah yang menolak makanan itu. Sebab sebelum ibu menelannya, aku mendengar suara ayah meninggi, memarahi ibu karena uang belanja yang semakin menipis.
“Kamu harus bisa ngatur uang dong,” begitu katanya, suaranya seperti palu yang menghantam dinding perut ibu.
Aku tak sanggup menerima makanan yang masuk bersama tangisan ibu. Setiap suapan yang dipaksa masuk hanya membawa getir, bukan kasih sayang. Maka tubuh kecilku menolaknya, seolah ingin berkata, “Aku tidak ingin tumbuh dari rasa sedih ibu.”
Karena ketika ibu sedih, rahimnya tak lagi terasa nyaman. Jantungnya berdetak kencang, memantul-mantul seperti genderang perang di dalam telingaku. Getarannya membuatku terombang-ambing tanpa arah, seolah badai kecil sedang lahir dari tubuhnya sendiri. Ruang yang tadinya luas untukku beristirahat, tiba-tiba terasa menyempit, seakan temboknya bergerak mendekat, menekan tubuhku yang rapuh.
Suhu di dalam sini pun berubah, tak lagi hangat, tak lagi sejuk. Kehangatan yang dulu melindungiku lenyap, berganti panas yang menusuk, membuatku gelisah meski aku belum mengenal kata itu. Aku ingin kembali pada pelukan pertama rahim ibu, yang hanya berisi cahaya dan tenang, tapi kini ruang itu ikut menangis bersamanya. Sementara aku, tak bisa melakukan apa pun selain menerima bahwa sedih ibu adalah sedihku juga.
Samar-samar kudengar seseorang berkata pada ibu, “Jangan banyak mengeluh. Ia hanya janin, tak tahu apa-apa. Manja sekali”.
Namun ada juga waktu ketika semuanya terasa begitu menenangkan. Saat ibu membaca ayat-ayat suci, suaranya bergetar lembut, mengalir seperti sungai kecil yang jernih. Irama itu menembus dinding rahim, menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku terlena. Aku belum mengerti arti katanya, tapi aku tahu, setiap kata adalah doa, dan setiap doa adalah tempatku beristirahat. Dalam keheningan itu, aku merasa seakan dunia hanya terdiri dari getaran yang penuh kasih, seperti pelukan yang tak pernah lepas.
Di antara doa-doa itu, detak jantung ibu terdengar kembali seperti musik yang kukenal, pelan, teratur, menenteramkan. Tidak ada badai, tidak ada panas yang mencekik, hanya kesejukan yang membuatku merasa rahim ibu adalah dunia paling sempurna yang pernah diciptakan. Aku mendengarkan dengan takzim, seolah aku juga sedang ikut berdoa, meski bibirku belum bisa mengucapkan apa-apa. Dalam ritme jantung itu, aku menemukan denyut hidupku sendiri, seakan detakku adalah gema dari kehidupan ibu. Dalam gema itu aku tahu, aku tidak pernah sendirian.
Kadang ayah juga datang dengan suara yang berbeda dari biasanya, lebih ringan, penuh canda, ketika ia membawakan buah kesukaan ibu. Dari sini aku bisa merasakan tawa kecil ibu, tawa yang membuat ruang ini kembali hangat dan lapang. Tawa itu seperti cahaya yang menyelinap, meski aku tak bisa melihat apa pun selain gelap. Di sanalah aku tahu bahwa kebahagiaan ibu adalah kebahagiaanku juga. Dunia yang sesungguhnya mungkin masih jauh, masih asing dan penuh tanda tanya, tetapi selama ada suara doa dan tawa, aku percaya aku akan lahir dengan membawa harapan. Rahim ibu bukan sekadar tempat aku tumbuh, ia adalah dunia pertamaku, dunia paling jujur, dan mungkin dunia yang paling dekat dengan surga.
Tapi dunia tak pernah baik-baik saja. Dalam masa-masa kebahagiaan ibu yang sibuk menyambut kelahiranku, membelai perutnya, menyapaku dengan panggilan-panggilan manis tiba-tiba saja aku mendengar dunia ibu runtuh. Suara ayah pecah lagi, kali ini lebih berat, lebih dingin. Katanya, mungkin kelahiranku hanya akan menyusahkan mereka kelak. Kata-kata itu jatuh seperti batu, menimpa langit-langit rahim, membuat ruang yang tadinya aman menjadi penuh retakan yang tak kasat mata. Aku tak paham arti “menyusahkan“, tapi aku merasakan perihnya dari cara jantung ibu yang mendadak tak seirama, berdetak canggung seperti hendak pecah.
Namun ibu selalu punya cara untuk menutup celah yang ditinggalkan oleh luka. Meski suara ayah seperti pisau yang menusuk, ibu berbisik lembut di antara sesenggukan.
“Kamu tidak akan jadi beban, Nak. Kamu adalah doa yang terkabul.” Kata-kata itu tak pernah sampai keluar rumah, tapi aku mendengarnya jelas dari dalam.
Setiap bisikan ibu adalah selimut baru yang membungkus tubuh kecilku, seolah ia sedang menambal satu per satu retakan agar aku tak hancur sebelum waktuku lahir. Dari sini aku belajar, bahwa ibu tidak pernah berhenti percaya aku akan membawa berkah, meski seluruh dunia menuduhku sebaliknya.
Aku mulai memahami bahwa rahim ibu bukan sekadar ruang untuk bertumbuh. Ia adalah perisai terakhir yang bertahan menghadapi gempuran dunia. Ketika dunia luar menuduhku sebagai kesalahan, rahim ibu menjelma dinding yang lebih tebal, lebih kokoh, menyimpan keyakinannya sendiri. Getaran tangis ibu, meski menyakitkan, selalu diikuti dengan doa yang ia ulang-ulang, seakan ingin memastikan bahwa aku tidak hanya tumbuh dari darah dan dagingnya, tetapi juga dari harapan dan iman yang tak bisa digoyahkan.
Kini aku tahu, waktuku hampir tiba. Rahim ibu yang selama ini menjadi dunia pertamaku mulai bergetar dengan irama yang berbeda. Ada tarikan dan desakan, seperti pintu yang pelan-pelan dibuka. Aku merasa tubuhku terhimpit, terdorong menuju sesuatu yang asing. Namun di sela itu, ada bisikan yang begitu halus, seperti suara dari cahaya itu sendiri.
“Terima kasih sudah berjuang bersama ibu di dalam rahimnya. Kini, saatnya kau lahir ke dunia, meski dunia itu jauh dari kehangatan yang pernah kau kenal.” Suara itu tidak keras, tapi menusuk sampai ke inti diriku, seakan ia sedang menandai peralihan antara surga kecilku dan kenyataan yang belum pernah kulihat.
Aku mendengar lagi, “Kau akan lahir dengan ingatan yang suci. Ingatan ini tak akan kau bawa sepenuhnya dalam kesadaranmu, tapi perasaan-perasaanmu tak akan pernah sirna. Kau akan mengenali setiap kasih, setiap luka, setiap doa yang pernah singgah di tubuh kecilmu.”
Aku bergidik, bukan karena takut, tapi karena tahu bahwa aku membawa sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri. Sebuah warisan tak kasat mata, yang kelak akan menuntunku memahami cinta dan kesedihan meski aku belum tahu nama untuk semua itu.
Lalu aku mengerti bahwa ingatan dari rahim ini bukan untuk disimpan seperti buku catatan, melainkan untuk berdiam di tempat yang lebih halus, di bawah sadar, di dalam jiwa. Ia akan muncul lagi suatu hari, ketika aku sudah menjadi manusia dewasa, saat aku lupa bahwa aku pernah sekecil ini, pernah berjuang di dalam kegelapan yang penuh doa. Ingatan itu akan hadir sebagai mimpi-mimpi samar, sebagai rasa rindu yang tak jelas asalnya, atau sebagai air mata yang jatuh tiba-tiba tanpa alasan. Mungkin saat itu, aku akan kembali mengingat bahwa aku pernah belajar bertahan bahkan sebelum dunia mengenalku.
Namun satu hal tak akan pernah hilang adalah dekapan kasih ibu. Meski dunia luar penuh kerikil, meski kelak aku tumbuh dan jatuh berkali-kali, pelukan itu tidak akan sirna. Ia sudah terpatri di tubuhku, di nadiku, di detak jantung yang sejak awal mengikuti ritme jantung ibu. Rahim ibu adalah surga yang pertama, dan meski aku harus meninggalkannya, surga itu akan terus hidup di dalamku. Kini aku siap membuka mata untuk pertama kali, dengan semua ingatan yang tak terucap, dan dengan keyakinan bahwa kasih ibu tak akan pernah pergi, bahkan walau ibu pergi, dan bahkan walau setelah aku lahir ke dunia.
*Rifkah Mannaf, penulis lepas yang saat ini sedang menempuh studi magister Psikologi di Yogyakarta.













