DENPASAR, Balipolitika.com- Mata uang rupiah kembali menunjukkan tren penurunan nilai terhadap dolar Amerika Serikat pada sesi perdagangan tengah hari ini. Pergerakan negatif tersebut langsung membawa mata uang Garuda menembus batas psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan para pelaku pasar modal. Data pasar Refinitiv menunjukkan posisi nilai tukar kini bertengger pada level Rp17.716 per dolar Amerika Serikat.
Laju pelemahan mata uang domestik terpantau semakin dalam jika kita bandingkan dengan posisi awal pembukaan pasar tadi pagi. Otoritas bursa mencatat nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,11 persen menuju level Rp17.660 pada awal perdagangan. Kondisi kurang menguntungkan ini memperpanjang catatan koreksi harian setelah sebelumnya terpuruk ke angka Rp17.640 per dolar.
Para pelaku pasar keuangan domestik kini sedang mengamati secara seksama rilis data resmi perekonomian nasional dari Bank Indonesia. Otoritas moneter tersebut berencana meluncurkan laporan capaian kinerja Neraca Pembayaran Indonesia untuk periode kuartal pertama tahun ini. Publik berharap data makro tersebut mampu memberikan sentimen positif di tengah ketidakpastian kondisi pasar keuangan global.
Laporan berkala pada kuartal sebelumnya menunjukkan angka surplus riil sebesar 6,1 miliar dolar Amerika Serikat bagi Indonesia. Pencapaian positif tersebut tercatat jauh lebih baik daripada kondisi kuartal ketiga yang sempat mengalami defisit cukup besar. Namun pos transaksi berjalan justru berbalik arah hingga mencatat defisit sebesar 0,7 persen dari produk domestik bruto.
Sektor transaksi modal dan finansial beruntung masih mencatat pertumbuhan surplus sebesar 8,3 miliar dolar Amerika Serikat. Aliran modal asing yang masuk lewat investasi langsung menjadi penyelamat utama kinerja keuangan sepanjang periode laporan tersebut. Pengamat pasar kini sangsi apakah kinerja neraca pembayaran kuartal pertama tahun ini mampu mempertahankan performa surplusnya.
Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah turut memicu kenaikan harga komoditas minyak mentah dunia. Konflik terbuka antara Washington dan Teheran mengenai kendali Selat Hormuz menjadi pemicu utama fluktuasi nilai tukar mata uang. Keadaan ini membuat indeks dolar Amerika Serikat terus bertahan pada posisi tertinggi dalam kurun waktu enam minggu terakhir. (BP/CHA).













