DENPASAR, Balipolitika.com– Akar masalah tak kunjung diselesaikan pemerintah, gelombang kasus ulah pati kembali terjadi di Provinsi Bali.
Yang terbaru kasus ini terjadi di kawasan Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar Barat, Denpasar, Bali, Rabu 22 Oktober 2025 sekitar pukul 19.00 Wita.
Koordinator Ambulans Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, Dewa Mahendra, membenarkan adanya laporan penemuan jenazah tersebut berdasarkan informasi yang masuk ke Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Kota Denpasar.
Mendapat laporan penemuan jenazah, Pusdalops Kota Denpasar langsung mengarahkan Ambulans BPBD Kota Denpasar Pos Juanda menuju lokasi kejadian.
Setibanya di TKP, Tim BPBD Denpasar mendapati bahwa proses identifikasi oleh Tim Inafis dari kepolisian sudah selesai dilakukan.
Tim Ambulans kemudian segera mengambil alih tugas evakuasi jenazah.
Korban ulah pati ini diketahui berinisial TS dan berjenis kelamin laki-laki berusia 33 tahun.
Berdasarkan identitas, korban berasal dari Kecamatan Tembalang, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Jasad pria yang penuh tato pada bagian kedua kaki, dan kedua tangannya itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong jenazah berwarna oranye serta dievakuasi menuju Kamar Jenazah RSUP Prof dr IGNG Ngoerah Denpasar.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDKSKJ) Kota Denpasar, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ. mengaku tidak kaget banyak kasus bunuh diri terjadi di Bali seolah tidak putus-putus.
“Ya tidak mengagetkan, karena akar masalahnya belum tertangani dengan baik,” ucap dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ.
Dokter Rai- sapaan akrabnya mengajak semua pihak untuk melek pada data Dinas Kesehatan Provinsi Bali yang mengungkapkan bahwa sebanyak 118.822 orang atau 14,9 persen dari seluruh populasi di Bali saat ini berada dalam risiko masalah kejiwaan.
Dari ratusan ribu orang yang renan mengalami masalah kejiwaan sebanyak 4,7 persen atau 5.546 orang di antaranya sudah berstatus Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan sebaran pasien terjangkit paling banyak berada di Kabupaten Bangli dan Jembrana.
Dokter Rai juga mengingatkan semua pihak bahwa sejak tahun 2016 hingga 2024 terdapat total sebanyak 4.715 kasus bunuh diri yang dilaporkan.
Sebagaimana diketahui kasus terbanyak terjadi pada 2023 dengan 121 kasus, disusul tahun 2024 dengan 106 kasus, tahun 2021 dengan 82 kasus, dan tahun 2022 sebanyak 76 kasus.
Ini menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap kasus bunuh diri di Bali dan akar masalahnya harus segera ditangani. (bp/ken)













