BADUNG, Balipolitika.com- Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan tebing-tebing di Kuta Selatan? Namun, di balik kemewahan resor dan pantai yang tersembunyi, sejarah Desa Ungasan memiliki akar yang sangat dalam pada kerusuhan politik abad ke-17. Nama Ungasan bukan sekadar kata tanpa makna. Ia adalah simbol “ujung hidung” dari daratan Bali yang menyimpan kisah keteguhan jiwa.
Kisah agung ini tercatat dalam Babad Dalem Pemutih. Pada tahun 1652, terjadi pemberontakan besar di Kerajaan Gelgel yang dipimpin oleh Ki Agung Maruti. Meskipun sempat berkuasa, ia akhirnya dikalahkan kembali oleh kekuatan Raja Gelgel. Dalam kondisi terdesak, Ki Agung Maruti bersama pasukannya melarikan diri ke arah barat daya.
Mereka terdampar di sebuah karang enjung yang kini kita kenal sebagai Pura Geger. Di tengah pelariannya, Ki Agung Maruti melakukan tapa semadhi yang khusyuk. Saat itulah, ia menerima sebuah pewisik atau pesan suci untuk mencari ujung selatan pulau yang disebut “Jungusing Daksinaning Nusa Bangsul”. Kalimat ini memiliki makna yang sangat spesifik.
-
Jungus berarti Ungas, Muncuk, atau Hidung.
-
Daksinaning berarti arah selatan.
-
Nusa Bangsul merujuk pada Pulau Bali.
Secara harfiah, Ki Agung Maruti diarahkan menuju “ujung hidung di selatan Bali”. Tempat tersebut berupa ladang atau bukit yang menonjol ke samudra. Lokasi inilah yang kemudian diberi nama Bukit Ungasan, dan seiring waktu dikenal sebagai Desa Ungasan hingga saat ini.
Masa Penjajahan hingga Pusat Pemerintahan
Memasuki era kolonial, sejarah Desa Ungasan mengalami dinamika administratif yang cukup unik. Pada masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1941, Desa Kutuh sempat digabungkan dengan Ungasan. Penyatuan ini menjadikan Ungasan sebagai pusat pemerintahan desa selama puluhan tahun.
Sebagian besar penduduknya saat itu menggantungkan hidup sebagai petani lahan kering. Mereka mengolah ladang di atas bukit kapur yang menantang. Meski secara geografis terkesan tandus, semangat masyarakatnya sangatlah kuat. Hal ini terbukti dari perjuangan panjang para tokoh lokal untuk meraih kemandirian desa di era modern.
Perjuangan Menjadi Desa Definitif
Harapan masyarakat untuk memiliki pemerintahan yang lebih mandiri mulai memuncak pada akhir tahun 1990-an. Melalui musyawarah dan perjuangan tokoh desa, proses pemisahan diri akhirnya dimulai. Pada 25 Juni 1999, Pemerintah Kabupaten Badung menyetujui pembentukan Desa Persiapan.
Puncaknya terjadi pada 12 Maret 2002. Melalui keputusan Bupati Badung, Desa Ungasan resmi berdiri sebagai desa definitif secara mandiri. Peresmian ini menandai babak baru bagi Ungasan untuk mengelola potensinya sendiri. Kini, Ungasan bukan lagi sekadar tempat pelarian, melainkan gerbang pariwisata kelas dunia di Bali Selatan.
Sejarah Desa Ungasan mengajarkan kita bahwa sebuah tempat yang bermula dari kesunyian tapa semadhi dapat berubah menjadi mercusuar kemajuan. Saat Anda berkunjung ke sana, ingatlah bahwa Anda sedang berdiri di atas “Hidung Bali” yang penuh nilai sejarah. (BP/CHA).













