KRITISI: Foto bencana banjir di Denpasar, beberapa hari lalu. (Kiri – Kanan) Anak Agung Ngurah Agung, S.E. dan Prof. Dr. Ir I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, MT. (Ilustrasi: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Bencana banjir yang melanda Bali, khususnya Denpasar yang terjadi tepat di perayaan Hari Raya Pagerwesi, kemarin lusa, masih menjadi buah bibir di masyarakat tak terkecuali para akademisi dan tokoh masyarakat, menilai peristiwa naas tersebut adalah buah dari ketidaktegasan Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap maraknya pelanggaran jalur hijau di Bali, khususnya Denpasar, dikutip pada Jumat, 12 September 2025.
Komentar datang dari salah satu akademisi Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Ir I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, MT., atau akrab disapa Prof Nitya, mengatakan bahwa peristiwa banjir yang terjadi “mungkin” sebuah peringatan dari Tuhan atau tanda dari alam semesta, bahwa ada sesuatu yang diabaikan bahkan disepelekan terutama oleh Pemda di Bali.
Akademisi yang dikenal selalu kritis soal isu lingkungan tersebut mengatakan, sudah sejak lama para akademisi dan tokoh masyarakat termasuk pemerhati lingkungan mengingatkan pemerintah dan para wakil rakyat untuk menjalankan program pelestarian lingkungan, seperti program biopori dan sumur resapan di seluruh Bali, khususnya Kota Denpasar.
“Normalisasi Tukad Badung dan Tukad Ayung, penanaman pohon bamboo di sepanjang DAS di kedua Tukad itu, pembangunan kolam polder dan saluran air untuk menampung limpahan air hujan, mendukung kelestarian sawah dan subak disertai pelarangan yang tegas bagi pelanggar jalur hijau, pembuatan hutan dan taman di setiap sudut kota, serta banyak lagi upaya atau program yang peduli lingkungan yang sepatutnya dilakukan pemerintah yang sudah kami para akademisi sampaikan juga,” ungkapnya.
Ia menekankan, sebagai contoh bencana banjir di Tukad Badung sudah banyak makan korban jiwa, kehancuran bangunan pasar Kumbasari dan gedung-gedung sepanjang DAS, bukan tidak mungkin nanti akan bertambah luas wilayah yang tergenang banjir, sehingga banyak Puri, Pura, Kantor, pasar dan sebagainya yang terancam rusak dan bisa dibatyangkan berapa besar kerugian biaya yang ditimbulkan.
Selanjutnya, kritik juga datang dari salah satu Tokoh Masyarakat, Panglingsir Puri Gerenceng, Anak Agung Ngurah Agung, S.E., atau yang akrab disapa Turah Kingsan, ia mengaku sangat prihatin atas bencana yang terjadi dan telah merenggut nyawa masyarakat. Dengan tegas, ia juga mendesak Pemda untuk segera menyusun program-program peduli lingkungan untuk mencegah peristiwa banjir terulang lagi di Denpasar.
“Kami, sebagai wakil tokoh masyarakat dan adat, sangat prihatin sekali, kami merasakan betul dan berempati pada warga warga kota yang terdampak langsung akibat bencana banjir ini. Kami ikut bersuara dan mendesak agar pemerintah terutama Pemerintah Kota Denpasar untuk segera menyusun program peduli lingkungan, dan tolong libatkan kami, karena kami sejak dulu sudah punya solusi untuk atasi banjir,” cetusnya.
Turah Kingsan menilai, dengan melibatkan para akademisi dan tokoh masyarakat akan lebih banyak membantu Pemda dalam upaya untuk menyukseskan misi terkait kepedulian lingkungan tak terkecuali upaya Pemda untuk mengantisipasi bencana banjir terulang kembali, dengan menggagas program secara bersama-sama.
“Kami beryakinan bahwa pembahasan program peduli lingkungan yang melibatkan semua unsur masyarakat, akan lebih mudah dalam mencari solusi atas permalsahan klasik yang terjadi. Kami berharap pemerintah bisa meresponnya,” tutup Turah Kingsan. (bp/gk)










