BULELENG, Balipolitika.com– Di tengah berkembangnya berbagai produk kesehatan modern, Kadek Oka Armadika berupaya untuk tetap melestarikan salah satu minyak tradisional Bali, yakni Lengis Boreh Armadika.
Lengis boreh menjadi salah satu usaha lokal yang memanfaatkan pengetahuan tradisional masyarakat Bali dalam pengolahan minyak boreh.
Usaha ini berlokasi di Gang Teratai, Jalan Sukarena, Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali dan oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai produk herbal.
Desa Tinggarsari sendiri merupakan desa yang berada di wilayah dataran tinggi Kecamatan Busungbiu dan memiliki berbagai potensi lokal yang terus dikembangkan oleh masyarakat.
Selain sektor pertanian, produk tradisional seperti lengis boreh menjadi salah satu bentuk usaha yang mendukung perekonomian masyarakat desa.
Pada tahun 2022, Lengis Boreh Armadika telah tercatat sebagai salah satu inovasi masyarakat Desa Tinggarsari yang mendapat perhatian dalam kegiatan monitoring dan evaluasi inovasi teknologi tepat guna.
Dalam kegiatan tersebut, lengis boreh yang dikembangkan oleh Oka Armadika disebut sebagai salah satu inovasi masyarakat Desa Tinggarsari yang patut dikembangkan dan didorong untuk memperoleh pelindungan hak kekayaan intelektual.
Upaya pengembangan produk ini juga terlihat dari pencatatan merek “Lengis Boreh Armadika” atas nama Kadek Oka Armadika yang beralamat di Banjar Dinas Kauhan, Desa Tinggarsari.
Langkah tersebut menunjukkan keseriusan pelaku usaha dalam menjaga identitas dan keberlanjutan produk tradisional yang dihasilkan.
Sebagai salah satu warisan pengobatan tradisional Bali, lengis boreh memiliki nilai budaya yang tidak hanya berkaitan dengan Kesehatan, tetapi juga pelestarian kearifan lokal.
Kehadiran usaha seperti Lengis Boreh Armadika diharapkan mampu memperkenalkan produk tradisional desa kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi erbasis potensi lokal.
Upaya melestarikan warisan budaya Bali dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan menghadirkan inovasi pada produk tradisional.
Hal tersebut dilakukan oleh Kadek Oka Armadika melalui pengembangan Lengis Boreh, produk minyak tradisional yang terinspirasi dari ramuan boreh warisan leluhur Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Dalam wawancara melaui aplikasi Zoom Meeting, Minggu, 7 Juni 2026, Oka Armadika menjelaskan bahwa ide pembuatan lengis boreh berawal dari keinginannya menghadirkan sebuah produk yang dapat menjadi identitas Desa Tinggarsari.
Menurutnya, setiap daerah perlu memiliki produk unggulan yang mampu mengingatkan masyarakat pada daerah asalnya.
“Saya ingin membuat sebuah ikon untuk desa. Jadi ketika orang mendengar kata Tinggarsari, yang mereka ingat adalah lengis boreh,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa boreh merupakan ramuan tradisional Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tercatat dalam lontar usada Bali.
Pada masa lalu, bahan-bahan boreh dihaluskan menggunakan batu penghalus, kemudian digunakan sebagai baluran atau lulur tradisional untuk menjaga kesehatan tubuh.
Melihat perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda yang menginginkan sesuatu yang praktis, Oka bersama istri dan rekan-rekannya melakukan riset untuk mengembangkan boreh menjadi bentuk yang lebih modern.
Hasilnya, lahirlah lengis boreh, minyak tradisional yang tetap mempertahankan manfaat boreh tetapi lebih mudah digunakan.
Keunikan lengis boreh tidak hanya terletak pada bahan dan manfaatnya, tetapi juga proses pembuatannya yang masih berpegang pada nilai-nilai tradisional Bali.
Sebagai produk obat tradisional, proses produksi dilakukan berdasarkan dewasa ayu atau hari baik menurut kepercayaan masyarakat Hindu Bali.
“Pemilihan bahan hingga proses pembuatan harus menentukan hari baik terlebih dahulu. Karena itu, tidak bisa dibuat kapan saja seperti produk lainnya,” jelas Oka.
Dalam sekali produksi, pihaknya hanya menghasilkan sekitar 100 hingga 200 botol.
Jumlah tersebut tergolong terbatas karena proses pembuatannya membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Bahan-bahan yang digunakan berasal dari rempah-rempah pilihan yang banyak ditemukan di Desa Tinggarsari, seperti cengkeh, pala, merica, serta minyak kelapa tradisional atau lengis tandusan.
Seluruh bahan dipilih secara selektif untuk menjaga kualitas produk dan setelah terkumpul, rempah-rempah dihaluskan dan direndam dalam minyak kelapa selama kurang lebih tiga bulan.
Proses perendaman ini bertujuan agar sari-sari rempah dapat terserap secara maksimal ke dalam minyak.
Setelah melewati masa perendaman, campuran tersebut dipanaskan hingga menjadi dasar minyak boreh.
Selanjutnya, minyak dicampur dengan minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari untuk menghasilkan tekstur yang lebih nyaman saat digunakan pada kulit.
Tidak hanya itu, Oka juga menambahkan aroma cendana pada produknya di mana langkah tersebut dilakukan agar lengis boreh memiliki aroma yang lebih segar dan dapat diterima oleh kalangan muda tanpa menghilangkan nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.
“Kami ingin anak-anak muda tetap tertarik menggunakan produk tradisional. Karena itu kami membuat aromanya lebih harum dan modern, tetapi manfaatnya tetap sama,” katanya.
Dengan proses produksi yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan dan penggunaan bahan-bahan pilihan, lengis boreh menjadi salah satu produk lokal yang tidak hanya menawarkan manfaat kesehatan, tetapi juga membawa nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur Bali.
Melalui produk tersebut, Oka berharap Desa Tinggarsari semakin dikenal sebagai desa yang mampu menjaga tradisi sekaligus berinovasi mengikuti perkembangan zaman.
Melalui inovasi dan pelestarian produk lokal, Lengis Boreh Armadika menjadi salah satu contoh bagaimana potensi desa dapat berkembang menjadi produk unggulan yang membawa manfaat bagi masyaraat sekaligus menjaga warisan budaya Bali. (bp/Ivania Putri/4B/Basindo/Undiksha)










