DENPASAR, Balipolitika.com- Dewan Pimpinan Cabang Peradi SAI Denpasar kembali memperkuat standar kualitas calon praktisi hukum melalui program pendidikan khusus. Organisasi ini secara konsisten menggandeng Fakultas Hukum Universitas Udayana sebagai mitra strategis dalam menyelenggarakan pelatihan profesi yang kredibel. Pendidikan Profesi Advokat (PPA) ke 11 di 2026 ini, menjadi bagian dari upaya besar untuk menjaga marwah profesi advokat yang sering mendapatkan citra negatif di mata publik.
“Kita menjaga standar pendidikan, ujian, dan pengangkatan yang tinggi agar para peserta memiliki bekal yang cukup,” ujar Sekretaris Jenderal DPN Peradi SAI, Patra M. Zen, Jumat (17/4/2026).
Kolaborasi antara lembaga profesi dan institusi pendidikan tertua di Bali ini sudah berlangsung selama satu dekade tanpa terputus. Pihak kampus berperan penting dalam memberikan pendalaman materi praktis yang tidak didapatkan secara penuh oleh mahasiswa pada jenjang strata satu. Calon advokat harus memahami konsep hukum formal secara utuh agar mampu memberikan bantuan hukum yang efektif bagi masyarakat pencari keadilan.
“Kerja sama ini sudah hampir sepuluh tahun berjalan untuk memperdalam bagaimana proses beracara dan mengamalkan ilmu hukum,” kata Dekan FH Universitas Udayana, Prof Dr. Putu Gede Arya Sumerta Yasa, SH., Hum.
Kurikulum dalam pendidikan ini menitikberatkan pada pembentukan karakter praktisi yang berintegritas dan memiliki keberanian moral dalam menjalankan tugasnya. Para pengajar mengingatkan agar calon praktisi hukum tidak terjebak pada orientasi keuntungan finansial yang sering memicu terjadinya berbagai penyimpangan profesi. Integritas menjadi pondasi utama agar lembaga bantuan hukum tetap mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat luas yang sedang menghadapi perkara.
“Poin utamanya adalah profesional dalam menyelesaikan masalah hukum dan menempatkan urusan uang pada nomor dua,” ucap Prof Arya Sumerta Yasa.
Ketua DPC Peradi SAI Denpasar, I Wayan Purwita menjelaskan bahwa kelas eksekutif ini sengaja didesain untuk mengakomodasi para peserta yang sudah memiliki kesibukan bekerja. Proses pembelajaran berlangsung setiap akhir pekan dengan menghadirkan narasumber dari berbagai unsur penegak hukum seperti hakim pengadilan tinggi hingga jaksa. Penyelenggara menerapkan sistem kuota terbatas guna menjamin setiap materi hukum acara dapat tersampaikan secara optimal kepada seluruh peserta didik.
“Kami membatasi kepesertaan berkisar empat puluh orang ke bawah agar kualitas pendidikan tetap menjadi perhatian utama,” tutur Purwita.
Materi yang diajarkan meliputi seluruh spektrum hukum acara mulai dari peradilan umum hingga hukum acara peradilan agama dan hubungan industrial. Seluruh rangkaian kegiatan akan berakhir pada bulan Mei dengan ujian akhir yang menjadi penentu kelulusan bagi para calon anggota. Tingginya minat peserta pada tahun ini menunjukkan tingkat kepercayaan publik yang sangat besar terhadap kredibilitas pendidikan yang dikelola oleh Peradi SAI.
“Instruktur yang kami libatkan benar-benar selektif agar para lulusan memiliki ilmu yang tinggi serta jiwa pengabdian,” kata Wayan Purwita. (BP/CHA).













