BADUNG, Balipolitika.com– Halaman rumah yang asri nan rindang disulap menjadi sebuah usaha coffee shop oleh pemuda asal Desa Sibang Kaja, Badung, I Gusti Ngurah Agung Dwika Mayunatha.
Beralamat di Jalan Ratna No. 8, Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Gung Wah- sapaan akrab I Gusti Ngurah Agung Dwika Mayunatha– menamai usaha rintisan itu Koobon Space.
Nama Koobon Space diambil dari kata kebun karena lokasi tersebut dulunya adalah daerah perkebunan.
Kata space diambil karena Gung Wah ingin tempat tersebut menjadi ruang terbuka bagi yang ingin berkumpul atau sekadar mencari suasana tenang.
“Nama koobon berasal dari kata kebun, karena lokasi awal usaha ini adalah daerah perkebunan, tetapi saya ubah ejaannya menjadi koobon untuk menciptakan kesan modern dan kesan lokal yang kuat,” ungkap Gung Wah.
Koobon Space berdiri sejak Mei 2024 karena sang owner ingin memanfaatkan halaman rumah serta garasi yang tidak terpakai sekaligus melihat peluang besar di Desa Sibang Kaja.
“Waktu itu belum ada tempat nongkrong dan tempat ngopi di Sibang Kaja. Padahal banyak anak muda butuh tempat berkumpul dan bersantai. Jadi, saya menjawab kebutuhan tersebut lewat Koobon Space,” jelasnya.
Koobon Space menawarkan berbagai macam minuman kopi maupun nonkopi serta makanan ringan sebagai pendamping.
Uniknya, Koobon Space mengusung konsep bernuansa lokal dan kekeluargaan, sehingga tercipta suasana tenang plus nyaman layaknya di rumah.
Tak kalah unik, Koobon Space juga menghadirkan kebun binatang mini di halaman rumah.
Suasana asri di Koobon Space semakin hidup dengan adanya keberadaan berbagai hewan, seperti anjing, kucing, burung merak, dan sebagainya yang turut menambah daya tarik bagi pengunjung.
Jadi, Koobon Space menawarkan pengalaman menikmati kopi sambil bersantai sekaligus memanjakan mata para pengunjung.
Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang jarang ditemukan di coffee shop yang ada di kota.
Gung Wah mengatakan bahwa kehadiran Koobon Space mendapat respons positif dari warga Sibang Kaja.
Banyak warga yang datang berbelanja bahkan ikut mempromosikan Koobon Space.
Dukungan tersebut memotivasi Gung Wah untuk terus berkembang di desa sendiri.
Meski awalnya banyak yang meragukan, Gung Wah justru membuktikan bahwa dengan adanya niat disertai kreatifitas dan konsistensi, usaha kecil dari desa bisa diminati sekaligus bersaing.
Tak hanya berhenti sampai di Sibang Kaja, Gung Wah memanfaatkan teknologi, seperti Instagram dan TikTok sebagai perantara dalam mengenalkan Koobon Space ke luar daerah guna menjangkau pelanggan lebih luas hingga menjaga komunikasi dengan pengunjung.
Ke depan, Gung Wah berharap banyak anak muda berani mengambil langkah, berkarya dari desa, dan percaya bahwa berkembang tidak selalu dimulai di kota.
Baginya, desa juga memiliki potensi yang bisa dikembangkan; semua bisa tumbuh, berkembang, serta menyalurkan dampak positif dengan adanya niat dan konsistensi. (bp/Ni Made Anyadharani Putri/4B/Basindo/Undiksha)










