DENPASAR, Balipolitika.com- Pernahkah Anda melintasi jalanan sibuk di Denpasar Selatan dan menyadari bahwa setiap jengkal tanahnya menyimpan memori tentang pusaka kerajaan serta semangat para petani yang mencari kemakmuran?
Jauh sebelum menjadi kawasan pemukiman padat dan pusat kuliner yang kita kenal sekarang, sejarah Kelurahan Sesetan merupakan sebuah kisah tentang keberanian masyarakat untuk memisahkan diri demi sebuah harapan di tanah yang lebih subur. Sesetan bukan sekadar nama, melainkan simbol “pecahan” kemakmuran yang terus berkembang hingga menjadi jantung aktivitas di Kota Denpasar.
MENYUSURI sejarah Kelurahan Sesetan membawa imajinasi kita kembali ke abad ke-15, tepatnya di masa keemasan pemerintahan Dalem Waturenggong. Kala itu, wilayah ini masih menyatu dengan Desa Peduwungan (kini kita kenal sebagai Pedungan). Nama Peduwungan sendiri bukanlah tanpa arti; ia berasal dari kata “Duwung” yang berarti keris. Sebuah keris sakti milik Arya Waringin, utusan sang raja, menjadi asal-usul spiritual yang sangat kuat bagi wilayah tersebut.
Dahulu, para penduduk Peduwungan merupakan petani tangguh. Sebagian dari mereka mulai merambah ke sisi timur desa untuk mencari lahan pertanian yang lebih menjanjikan. Ternyata, wilayah timur tersebut memiliki tingkat kesuburan yang luar biasa. Ketertarikan akan hasil bumi yang melimpah membuat para petani ini memilih untuk menetap dan tidak lagi kembali ke desa induk.
Karena masyarakatnya berasal dari Desa Peduwungan, pemukiman baru ini kemudian dijuluki Kesetan atau Sepihan. Dalam bahasa lokal, istilah ini secara harafiah berarti “pecahan” atau bagian yang terpisah. Seiring berputarnya roda zaman dan pengaruh dialek masyarakat, lafal Kesetan perlahan-lahan bertransformasi menjadi Sesetan. Nama ini pun abadi hingga kini, mewakili identitas masyarakatnya yang mandiri dan gigih.
Banjar dan Identitas Unik Masyarakat
Setelah menetap secara permanen, warga mulai membangun tatanan sosial yang rapi melalui Banjar dan Pura Kahyangan Tiga. Menariknya, penamaan banjar-banjar di Sesetan sangat kental dengan karakteristik geografis dan latar belakang penghuninya:
-
Banjar Gaduh: Menjadi rumah bagi mayoritas keluarga Pasek Gaduh.
-
Banjar Lantang Bejuh: Merujuk pada bentuk geografis wilayahnya yang panjang membujur.
-
Banjar Pegok: Dahulu lokasinya tersembunyi atau berada “di dalam”, jauh dari keramaian masa itu.
-
Banjar Suwung Batan Kendal: Mengabadikan memori tentang pohon Kendal besar yang pernah tumbuh di sana.
Sesetan di Masa Kini
Kini, Kelurahan Sesetan telah tumbuh menjadi wilayah seluas 739 hektar dengan 14 lingkungan definitif. Mulai dari Lingkungan Kampung Bugis hingga Banjar Puri Agung, keragaman identitas ini tetap terjaga dengan harmonis. Meskipun modernitas telah menyulap wajah Sesetan menjadi kawasan urban yang dinamis, akar sejarahnya sebagai “sepihan” tanah subur tetap menjadi kebanggaan yang tak luntur.
Memahami sejarah Kelurahan Sesetan menyadarkan kita bahwa setiap kemajuan berawal dari keberanian untuk membuka lahan baru. Bagi wisatawan yang berkunjung, Sesetan menawarkan perpaduan unik antara denyut kota yang kencang dengan tradisi luhur yang tetap dipelihara di setiap pojok banjarnya. (BP/CHA).










