MEMBENTANG PIKIRAN
Di atas gravitasi udara
Aku membentang pikiran
Seluas tujuh cakrawala
Melintasi musim demi musim
Aku percaya. Ya, aku percaya
Pikiranlah yang merekonstruksi
Wacana masa depan. Aku kini
Berjalan di lajur-lajur harapan
Telah datang cahaya terang
Menghapus kabut di depanku —
Hari baru telah datang. Matahari
Selalu terbit di ufuk yang sama
Ada aroma kopi dan angin berkesiur
Bersamaan cahaya memancar dari timur
Apakah waktu ketika kita bangun tidur?
Hidup bukan hanya tentang sumur dan kasur
Setelah mendaki ke puncak-puncak mimpi
Aku melunasi sunyi dengan mazmur dan puisi
Cinere, Maret 2024
MERENTANG BAYANGAN
Aku merentang bayangan
Di antara banyak bayangan
Yang yatim. Sebuah mantel
Tak butuh kloset dan wastafel
Mengalun lagi tembang-tembang
Pesisiran di antara angin bergaram
Dan bau ikan asin. Tetapi bayangan
Tak pernah mengingkari bentuknya
Apakah bayangan setelah cahaya
Tak ada? Di manakah bayangan
Ketika badanmu sakit? Sebuah cermin
Tak berpikir tentang cinta dan musim
Aku melihat bayangan mengudar
Dari seragam seorang guru honorer
Tanpa tunjangan kesejahteraan. Lalu
Dasi-dasi berkibar di batang-batang cuaca
Depok, Maret 2024
MASIH ADA ESOK
Masih ada esok yang lebih baik
Dari percakapan di beranda. Aku
Memasukkan ideologi dan kapur
Barus ke dalam koper. Buatlah aku
Tak mengenal apa itu kecewa
Kau telah bicara tentang cinta —
Sepasang merpati terbang di atas
Gelombang suaramu. Kini aku
6000 kilometer dari dongeng purba
Esok adalah harapan. Hari-hari
Berjejalan menembus musim. Doa
Dan kata-kata menjelma perjamuan
Di kamar penyair tua. Masih sempat
Aku dekap hadirmu yang singkat
Depok, Maret 2024
RIWAYAT IBU
Engkau adalah pohon rindang itu —
Menyimak sunyi batu-batu. Tak ada
Yang lebih tabah dari pohon rindang
Di tengah gemuruh badai dan petir
Di bawah pohon yang rindang itu
Bocah-bocah angon berkoloni —
Sekadar melepas lelah atau bermain
Tebak-tebakan. Aku pun berteduh
Dalam naungan kasih sayangmu
Sebagai pohon rindang — telah engkau
Sediakan tempat untuk persemayaman
Burung-burung. Telah pula engkau relakan
Aku petik buahmu untuk melunasi laparku
Aku tulis riwayatmu dalam puisi, menjadi
Diksi paling tuah. Sepasang kupu-kupu
Leluasa beterbangan. Aku meraba-raba
Bayanganmu. Pohon yang rindang itu
Adalah ibu yang kini tumbuh sendirian
Depok, Maret 2024
RIWAYAT BAPAK
Barangkali kau hanya deru angin lalu
Di antara kertas-kertas berserakan —
Sebuah cermin memantulkan misteri
Waktu seruncing mata anak panah
Yang melesat dari busurnya. Jejakmu
Dihapus keheningan musim-musim
Aku cari lagi riwayatmu. Sepiku membeku
Di atas partitur sejarah — dua versi cerita
Berbeda. Namamu berlumut di batu nisan
Barangkali kau adalah kelakar yang tertukar
Atau puisi yang terkubur. Aku telah berlayar
Dari desa kelahiran yang penuh kerinduan
Sebuah senja terbuat dari kenangan. Bila
Pagi tiba, dengarlah kata-kataku bersama
Suara burung-burung kecil di rumpun bambu
Depok, Maret 2024
KEBUN ANGGUR
Ketika aku sedang tidur
Tubuhku menjelma kebun anggur
Dirambahi cahaya dan angin berkesiur
Batas antara musim dingin dan musim gugur
Aku tidur di atas tikar pandan warisan leluhur
Parang dan cangkul bersamaan mendengkur
Mimpi-mimpiku menjadi berbutir-butir anggur
Kawanan lebah dan kupu-kupu menghambur
Di kedalaman sepasang mataku yang pejam
Telah tersimpan kerahasiaan. Di ruang temaram
Desau dan desah adalah kenangan. Hangat napasmu
Yang tertinggal di dadaku menjadi kisah-kisah biru
Depok, 29 Februari 2024
SMARTPHONE
Dering smartphoneku pertanda panggilanmu
Dari seberang — yang entah di mana? Lalu
Smartphoneku bergetar-getar menghantar
Kerinduanmu. Aku tak tahu harus mulai
Percakapan dari mana. Tombol terima
Belum aku sentuh. Semata-mata wajahmu
Yang membayang di kelopak mataku
Kekasih, maafkan aku yang belum bisa
Menjinakkan kegelisahan. Malam ini —
Kau-aku menyaksikan bulan yang sama
Dari tempat yang berbeda. Smartphoneku
Masih berdering-dering, seperti bunyi
Bilah-bilah rindu di pangkal kalbu
Jam 11 malam. Angin berkesiur di luaran
Menerjemahkan kesepian. Hujan sudah
Reda. Hujan telah menghapus jejak-jejak
Badut jalanan. Tetapi, notifikasi rindumu
Terus bermunculan di layar smartphoneku
Depok, Mei 2024
BIODATA
Iman Sembada lahir di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan melukis. Antologi puisi tunggalnya antara lain, Airmata Suku Bangsa (2004), Perempuan Bulan Ranjang (2016), dan Orang Jawa di Suriname (2019). Ia aktif di Komunitas Sastra Indonesia dan Lembaga Kebudayaan Depok, Jawa Barat.
M. Kholilullah alias Holy, lahir di Denpasar, 9 Juni 1997. Ia belajar melukis secara otodidak. Ia pernah berpameran bersama di Universitas Indonesia (Jakarta, 2023) dan pameran tunggal di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP, 2004). Selain melukis, dia aktif berjualan cilok untuk menghidupi dirinya.