APA alasan yang bagus untuk menutupi kesalahan ini, ucap Moi. Laki-laki beralis tebal dan berbadan ectomorph itu kalang-kabut bak seekor binatang buruan yang ketakutan. Mukanya memerah seperti orang yang baru saja menyantap sepiring sambal. Kasus yang menjeratnya satu bulan lalu itu akan membuatnya kehilangan jabatan utama di pemerintahan dalam beberapa hitungan waktu saja.
Ini bukan kali pertama. Tapi, ini kasus yang kesekian kali yang menyeret namanya. Meskipun demikian, ia tetap lolos dari setiap kasus itu sebelum Jaksa Amir menjadi Kepala Kejaksaan. Ia seperti rusa rimba yang pandai mencari jalan keluar agar terhindar dari bedil penebusan para pemburu. Namun sekarang, kepandaiannya bagai tumpul jarang diasah hingga ia merasa todongan bedil sedang memagari kepalanya untuk dimintai tebusan.
Di dalam sebuah ruangan tertutup, orang-orang di sekelilingnya juga kalut. Sementara, Jaksa Latif sedang mencari cara agar kasusnya tidak dicuat di pengadilan. “Berapa yang harus aku bayar?” sepertinya Moi tidak memiliki cara lain selain itu.
“Uang tidak bakal cukup membantumu, Moi,” Jaksa Latif mengambil alih pembicaraan setelah beberapa menit hening, “lawanmu bukan orang sembarangan. Dia orang yang bengal, tidak mau disuap berapapun.”
Sementara itu, Jaksa Amir, Kepala Kejaksaan sedang menyelidiki kasus Moi. Bersama beberapa rekannya, ia bertemu dengan salah seorang pejabat penting. Di sela-sela pembicaraannya, orang itu mengatakan bahwa kasus Moi melibatkan beberapa orang penting di pemerintahan dan kejaksaan, termasuk juga adik kandung Jaksa Amir yang bekerja sebagai staf di kejaksaan.
Jaksa Amir terperanjat. Apakah ia tega adik kandungnya juga ikut masuk bui jika ia meneruskan penyelidikan kasus Moi. Ia gamang. Baru kali ini ia mendapati kasus seberat ini.
“Dari mana Pak Sarni tahu kalau adik saya juga ikut terlibat?”
“Saya ini orang penting, Amir. Apa yang saya tidak tahu tentang semua kasus ini.” Pak Sarni, laki-laki gembrot berkumis tebal yang berusia hampir setengah abad itu mencoba meyakinkan Jaksa Amir.
“Jika kau benar-benar tega dengan Mage, bawa saja kasus ini ke pengadilan,” desak Pak Sarni dengan nada mengancam.
“Tapi ingat, adikmu itu bakal terancam dan nama baikmu sebagai kepala Jaksa juga akan tercoreng karena adikmu juga terlibat.”
Mendengar ucapan Pak Sarni, Jaksa Amir tertegun diam. Bibirnya mengatup, mukanya pucat dan sayu seperti bunga-bunga taman yang layu dan enggan merekah lagi. Hatinya bercampur antara rasa marah dan ragu-ragu. Sebab, Mage yang ia kenal adalah adik yang bakti dan jujur. Baru kali ini, ia geram dengannya. Tapi, bantinnya masih saja menggerutu.
“Ini tidak mungkin!”
“Saya tidak ingin memaksamu, Amir.”
Dengan bertongkat lutut, ia dengan santai menatap Amir. Jaksa Amir semakin gentar. Kegentaran itu semakin pengap oleh kepulan asap cerutu yang keluar dari mulut Pak Sarni. Sambil melatuk abu yang memanjang di asbak, ia menatap tajam kedua mata Jaksa Amir yang sedang berkaca-kaca.
Jaksa Amir tidak tahu bahwa orang penting yang ia datangi juga seorang pemain handal yang datang dengan topeng baru, wajah lama. Sebenarnya Jaksa Amir kenal Pak Karni baru-baru ini. Sepekan sebelum kasus Moi hangat dibicarakan. Ia mengaku sebagai agen khusus yang juga menyelidiki kasus Moi. Tak mau menghabiskan waktu lama, ia bersepakat untuk menjadi mitra untuk mengungkap kasus ini.
“Bagaimana Pak Sarni, aman?” dengan gelagat culas, Moi menaruh satu koper berisi uang di atas meja kerja Pak Sarni. Wajah girang tampak begitu cerah dari laki-laki gembrot berkumis tebal itu.
“Tenang saja, Bos. Tidak perlu khawatir,” ucapnya sambil membuka bingkisan dari Moi. Wajahnya bersemu merah. Tapi, terlihat sedikit buruk karena kumisnya yang begitu tebal. Jangan bilang jika mukanya keriput dan buruk. Pak Sarni bakal naik pitam, meskipun kenyataannya memang mukanya sudah keriput seperti kain lap yang sudah lusuh. Mukanya boros, tidak seperti kebanyakan orang seumuran dia.
“Saya sudah lama bermain di dunia beginian, Pak Moi. Bidak catur itu kecil, bisa dipandang setiap sudutnya. Orang-orang kita akan segera bergerak menikam raja. Menterinya baru saja ditikam oleh kuda. Tenang saja.”
Siapa sangka Pak Sarni kebal hukum. Bagaimana ia akan dihukum, sebagian besar kelicikan aparat ia simpan rapi di dalam saku jaket kulit miliknya. Jika ia ditangkap, semua akan tersingkap dari persembunyian. Kebaculan mereka akan diborgol dan mengendap di antara kepongahan di dalam penjara.
Moi berterimakasih kepada Jaksa Latif karena sudah mempertemukannya dengan si gembrot tua itu. Rekan satunya lagi, Beni juga merasa aman, sebab ia juga termasuk sebagai pelaku utama dalam kasus ini setelah Moi. Mereka sama sekali tidak takut, jika nanti di hari pembalasan tiba; kaki, tangan, bahkan kemaluan juga akan berbicara membela kebenaran. Tapi sayang, ketakutan hanya berlaku pada citra dan jabatan yang akan hilang. Tidak lagi pada Tuhan.
Jaksa Latif juga berusaha menekan atasannya, Jaksa Amir agar tidak terkocoh-kocoh membawa kasus ini ke pengadilan. Namun, ia tetap tegas. Ia tidak ingin menjadi seekor singa pengecut jika ada singa lain yang lebih kuat di hadapannya. Ia sadar kalau yang ia lawan adalah segerombolan singa yang menguasai rimba kekuasaan. Dia tak kecut, sebab ia yakin kalau angin kebenaran akan selalu membawanya pada pelabuhan keadilan.
“Anda ini kacau, Pak. Hanya memikirkan diri sendiri. Jika Moi ditangkap, puluhan orang akan dijebloskan ke penjara.”
“Apa masalahnya?” tanya Jaksa Amir.
“Bayangkan jika mereka diseret ke pengadilan, berapa keluarga yang akan kehilangan ayah? Pikirkan keluarga dan anak isteri mereka yang harus dinafkahi!”
“Saya cukup arif untuk mengerti alasan anda. Alasan anda sangat bermoral,” jawab Jaksa Amir, ”tapi bagaimana mungkin itu dijadikan alasan utama untuk tidak menghukum mereka yang berkompromi pada kebusukan?”
“Jika keluarga mereka tetap dijadikan sebagai alasan, kapan hukum akan tegak dan langit yang luhur akan memberi keberkatan pada bumi yang subur ini?”
Silat lidah itu membuat Jaksa Amir geram. Ia tidak ingin terbawa perasaan. Jaksa Amir mencoba mengendalikan emosi agar amarahmya bisa diredam. Setelah mereka saling mendiamkan satu sama lain, Jaksa Latif pergi meninggalkan Jaksa Amir seorang diri.
“Kurang ajar! Berengsek!” Batinnya sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Hari mulai muram bersamaan dengan keengganan matahari menyingkapkan bayan sinarnya menerangi langit lebih lama. Purnama juga kalis. Disembunyikannya cahaya malamnya sebagai pertanda bahwa ia juga sungkan. Alam seperti ragu-ragu dan berat hati memberi takzim pada bumi yang subur ini.
Keesokan harinya, di saat embun pagi mulai berjatuhan dari dedaunan, Jaksa Amir memarani rumah Bagir, Kepala Staf Kehakiman Negeri. Ia berencana membicarakan persoalan ini secara tertutup di rumahnya. Di perjalanan, rintikan hujan menerpa kaca mobil sedan miliknya; deras dan angin berhembus cukup kencang. Kepulan awan menghitam begitu pekat. Di atas pekat aspal, Ia bagai musafir yang hanya membawa bekal nyawa, sedang mulutnya kering seperti padang gurun. Di belakangnya, tiga mobil berwarna hitam mengikutinya dari belakang seperti ingin memata-matai perjalanannya.
Jaksa Amir mengisut sejenak, ia menaruh curiga. Namun, ia tak ingin menghalangi perjalanannya sendiri dengan rasa takut yang bertunas dari hatinya. Ia melanjutkan perjalanan sampai di depan gerbang rumah Hakim Bagir. Sementara itu, tiga mobil di belakangnya tetap melaju meninggalkan perhentiannya.
Percakapan mereka cukup lama. Berkisar di antara lima puluh kilo meter perjalan kaki yang ditempuh oelh seorang musafir. Kesepakatan di antara mereka bukan tanpa arti. Satu-satunya adalah agar langit memberi takzim pada bumi yang kaya dan subur ini, sehabis sindikat Moi takluk. Selama keduanya bertkar suarai, langit tak lagi mengirim hujan. Dan matahari sedikit menyembul seukuran dua jengkal tangan. Sepertinya langit tak ingin mengganggu percakapan mereka dan matahari mengintip penasaran perundingan rahasia mereka. Setelah mengintip cukup lama, matahari kembali mencabut sinarnya bersamaan dengan usainya percakapan di antara keduanya dan hujan kembali turun mengamini misi mereka.
Sementara itu, di bilik terkatup, terdapat badai ganar. Komplotan Moi belingsatan mengetahui pertemuan di rumah Hakim Bagir. Ada rasa kalut yang menatap tajam di meja yang mereka kitari. Mereka harus mencari cara lain, karena naskah drama yang mereka buat untuk menjegal Jaksa Amir pekan lalu, tidak sepenuhnya berhasil.
Benar saja, rencana mereka membuahkan hasil. Dua hari kemudian, berita yang berisi kasus yang menyeret nama Hakim Bagir mencuat sekonyong-konyong di media. Dalam keterangan berita itu, ia diduga telah melakukan suap-menyuap dua tahun lalu saat ia menjebloskan anak seorang pemilik perusahaan tekstil. Kabarnya, ia disuap oleh direktur perusahaan pesaingnya agar perusahaan tersebut tak lagi laku dipasaran. Namun, tentu saja ini berita bohong. Hakim Bagir tidak pernah melakukan itu.
Kini, Hakim Bagir tak lagi menjabat sebagai Kepala Staf Kehakiman. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Surat pemecatan untuknya segera datang. Dia digantikan oleh Tuma, hakim yang didatangkan dari kota. Sementara itu, Jaksa Amir terdampar di kasur setelah mengetahui pemecatan itu sambil memandang langit-langit cukup lama. Rasa jemu, kesal, dan geram bercampur sempurna dalam hidangan makan malam yang tawar.
Jauh di balik bukit-bukit kemelaratan, komplotan Moi dan si gembrot bersuka ria di perlucahan. Dengan iringan musik kemenangan, mereka menikmati malam yang candu dengan minuman soda, cerutu dan pelayan perempuan mereka. Apakah Jaksa Amir akan menyerah begitu saja? Ada dua kemungkinan; iya atau tidak.
Bagaiamana pun ia merasa sakit dan dongkol melihat kenyataan ini, ia tetap berdiri di atas pelayaran. Safarinya tidak akan tanggal karena deburan ombak yang menggulung beringas menghempaskan sisi-sisi perahunya. Gelora asmara pada keadilan membuatnya tetap bertahan dalam pertapaan panjang menguras keringat sambil merapal nyanyian persembahan. Dia bertarung sendiri, ia berdiri seperti maharaja di kesunyian. Berperang mengalahkan kuda-kuda liar di atas bidak catur dalam bayang-bayang Pak Sarni.
Jarum jam menujukkan pukul dua malam. Segerombolan ajak menggonggong dari delapan penjuru angin. Membikin berisik seisi rumah. Hakim Amir duduk dari tempatnya bertimpuh dan kemudian pelan-pelan menaiki kasur. Duda tak punya anak seperti dirinya hanya bisa menikmati gemerlap bintang seorang diri tanpa pelukan seorang isteri.
Sepekan kemudian, setelah mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, berita tentang penangkapan Moi tersebar di berbagai media masa. Melihat itu, Beni, Pak Sarni dan komplotannya itu kelimpungan. Kegawatan mereka tertangkap dari raut wajah mereka kecut.
“Gawat, Pak Sarni!” ungkap Beni sambil kalut, “lalu, apa rencanamu, Pak? Jangan sampai kami benar-benar diadili. Kami telah membayarmu dengan mahal!”
“Tenang saja, Bos. Percayakan semuanya sama saya,” dengan percaya diri, Pak Sarni berupaya meyakinkan.
“Kalau saja saya juga ditangkap, saya akan bongkar sindikatmu, Pak!”
“Jangan mengancam, Beni. Kasusmu lebih tengil dari saya. Jika kamu berani, isterimu yang memakan uang suap juga akan kena imbas!”
Di pengadilan, Moi dengan santai merekah senyum. Bagaimana pun dia telah memeras uang saku untuk membayar Hakim Tuma. Sebelumnya, penasehat hukumnya mengajukan Nota Keberatan kepada Majelis Hakim bahwa telah terjadi error in persona. Seharusnya bukan Moi yang diseret ke pengadilan. Ia menyebut beberapa orang yang seharusnya terlibat, termasuk Malia, isteri Beni. Setelah penasehat hukum Moi selesai membaca Nota Keberatan, Hakim Tuma mengetok palu sidang, tanda ia mengamini keberatan yang mereka ajukan. Moi bebas dari tuntutan pengadilan.
“Brengsek!” Beni linglung seolah keparat. Seribu umpatan dilempar ke muka Moi.
“Sialan! Kenapa harus isteriku, Moi?”
“Aku terpaksa, Ben,” jawabnya tanpa ada rasa bersalah.
“Anakmu yang bakal jadi tumbal, Moi!” dengan geram Beni membalas, “Anakmu pembunuh, Moi! Tapi kamu sembunyikan di ketiak para keparat itu!”
Telepon itu segera ditutup. Di atas sofa, Beni tampak keder, terdampar seperti anjing laut yang tak ingin melanjutkan hidup. Ia benar-benar takut kehilangan selangkangan isterinya. Jika benar isterinya diringkus, ke mana ia akan menyalurkan hasratnya? Beni tidak seperti Moi yang keparat, mencari selangkangan ke hotel-hotel kota yang siap dipakai. Ia cinta mati kepada isterinya, Malia. Di samping gelagatnya yang rakus suka makan uang haram, tapi ia benci orang-orang yang tidak punya prinsip dalam bercinta. Kemungkinan, ia terpengaruh dengan drama rekaan yang dibuat oleh penulis novel percintaan yang selalu diselipkan di dalam tas kantornya. Sejak masa puber, Beni tenar gemar membaca novel-novel cinta.
***
Dua pekan berlalu begitu cepat. Langit pagi kusam temaram seperti wajah Pak Sarni. Daun-daun kering gugur bergelimpangan satu persatu di pagi yang tak ada angin. Selama dua pekan tanah selalu basah oleh gemercik hujan sebesar kelingking. Bau basah menyengat dari selokan. Sampah-sampah perkotaan meluap. Pembalut dan popok bayi yang dibuang semena-mena sebelumnya kini menampakkan diri dengan sengaja. Dari sampah-sampah yang tak terusurus itu, wabah demam berdarah menyebar akut di tengah kota, sempat membikin penghuninya ogah keluar karena takut terjangkiti.
Di tengah-tengah wabah, gedung kehakiman gempar dikagetkan karena kematian Hakim Tuma yang tergesa-gesa. Dia didiagnosa terkena demam berdarah. Sehari yang lalu, badannya lemas, mukanya pucat pasi dan darah keluar berhembur seperti muntah dari lubang bokongnya. Ia tak bisa diselamatkan. Di siang hari yang masih masam, orang-orang berdatangan untuk belasungkawa atas kematiannya yang mengenaskan. Handai taulan datang dan pergi bergantian. Begitu pula dengan Pak Sarni, Moi, Beni, Jaksa Latif, dan beberapa aparat rekan tugasnya. Jaksa Amir dan Hakim Bagir juga ikut menshalati. Mereka bertemu di halaman rumah, di taman-taman bunga yang layu, mereka bersemuka begitu kosong dan dingin.
Di malam yang tak bergairah, komplotan Moi berpisah jasad menuju kandang kediaman mereka masing-masing. Moi kalut, Beni meringkik tak karuan dan Pak Sarni seperti biasanya, bermuka suram. Begitu pula Latif, si jaksa lancung bergeming di meja makan. Sebenarnya mereka tidak merasa kehilangan sedikitpun atas kematian si Tuma. Tapi, karena mereka takut karena penyebab kematian si Tuma begitu menjijikkan; bergelimang darah dan nanah. Mereka semua takut, sebab dosa mereka sama, sama-sama rakus. Di benak mereka, jangan-jangan nanti mereka juga merasakan hal yang sama dengan Hakim Tuma.
Di malam hari yang dikitari oleh ketakutan, Beni didatangi oleh laki-laki berwajah angker dan garang. Di sebuah kamar kosong yang dibalut oleh kobaran api siap menyantap jantungnya sampai menjadi arang. Karena takut melihat laki-laki angker itu, Beni mencongkel kedua bola matanya sendiri dan memakannya. Perutnya mengembung terbakar, dan meletus bak gunung merapi. Usus-ususnya keluar dan mulutnya dipenuhi ulat dan cacing tanah. Di bawah bokongnya, darah dan nanah bercucuran bercampur dan keluar bersilang ganti. Karena gerah dan kerongkongannya kering, ia meminum nanah dan darah yang keluar dari lubang bokongnya.
Karena bengis, laki-laki yang tak dikenal itu, mengiris-iris kulitnya dengan belati setajam pedang Damaskus. Di cincang habis-habisan seperti daging kurban di hari raya. Setelah Beni menjadi potongan-potongan kecil, tubuhnya kembali seperti semula tak sampai lima kerdip mata. Tapi, tidak begitu lama, ia kembali mencungkil matanya lagi karena ketakutan, meminum nanah karena kehausan. Mulutnya kembali dipenuhi ulat dan cacing busuk dan perutnya mengembung meletus segera tiba.
“Tidak!” Sontak Beni terbangun dari mimpi buruknya.
Di tengah malam suntuk, ia merengek ke isterinya. Tapi, isterinya tak peduli sama sekali. Sebab, Malia juga kalang kabut, sebentar lagi ia menjadi tersangka gara-gara suaminya yang keparat dan penakut ini. Sekarang, Ia hanya bisa menatap tajam langit-langit kamarnya yang gelap sampai suara ayam jantan berkokok tanda fajar segera tiba.
Pukul sembilan pagi. Mereka kembali bertemu di bilik tertutup bercat hitam pekat di setiap sudutnya dengan hiasan lampu pijar yang menggantung tepat di atas mereka. Di sisi kanan ruangan, jam dinding pendulum antik yang terbuat dari kayu seiko terpajang serampangan. Dalam keheningan, jarum jam tak jemu-jemu berdetik mengikuti detak jantung keempat komplotan culas itu. Dalam pertemuan itu, tak ada satu pun dari mereka yang menyumbang senyum. Mereka diam tak bergeming. Wajah-wajah mereka kalis dan kering.
“Aku mimpi yang tidak sedap tadi malam, Moi,” ucap Beni dengan berani.
“Mimpi perutmu meletus?” tanya Pak Sarni mengikuti.
“Atau anusmu keluar darah dan nanah?” sambut Jaksa Latif. Dengan ragu-ragu Beni menyela, “Ya.” Suaranya lirih dan pelan. Mukanya pasi dan bibirnya gemetar keras seperti getaran lindu yang mengoyak-ngoyak bangunan baja. Mereka sadar, mimpi buruk dan mengerikan sama-sama menghantui mereka semalaman.
“Kita bertaubat dan mengakui kesalahan kita?” tanya Jaksa Latif terpaksa.
“Mmm. Saya konsultasi ke isteri saya dulu,” jawab Beni. Bukan hanya dia, tapi dua orang lainnya, Moi dan Pak Sarni juga menyetujui pilihan Beni.
Sepulang dari pertemuan yang menjemukan itu, satu persatu dari mereka menceritakan mimpi buruk mereka kepada isteri mereka masing-masing. Dan mereka juga melewarkan pilihan mereka untuk bertaubat.
“Apa kau bilang? Ingin bertaubat dan mengakui kesalahanmu? Gertak Malia, isteri Beni, “Kau sinting! Aku tidak mau masuk bui sia-sia, Ben!”
Lelaki yang gemar sembunyi di selangkangan isteri seperti Beni tak mungkin tak bakal tunduk. Moi juga seperti itu. Apalagi si kumis tebal seperti Pak Sarni. Meskipun gemar main perempuan, ia juga takluk oleh isterinya yang bebal. Sedangkan Jaksa Amir, dikabarkan bertaubat dan dipejara dua setengah tahun karena mengakui kesalahannya.
BIODATA
Khaerul Majdi lahir di Aikmel, Lombok Timur, 9 Agustus 2002. Ia memulai kerja sastra sebagai peminat dan pengagum sastra sejak bangku SMA dengan mengambil jurusan bahasa dan mengikuti ekstrakulikuler kelas sastra. Sekarang, berkuliah di Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur. Aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (HIMMAH NWDI). Selain itu, Ia juga aktif di perpustakaan mini Keluarga Nomaden sebagai ketua pustaka.