BALI, Balipolitika.com – Petani di Jembrana hingga saat masih khawatir dengan ancaman cuaca ekstrem belakangan ini.
Sebab, belasan hektare lahan pertanian terdampak banjir mengalami puso alias gagal panen. Dan jika misalnya terjadi hujan lebat dalam waktu dekat, ratusan hektare yang sebelumnya terdampak juga berpotensi puso.
Mengingat, rata-rata umur tanaman terutama padi sudah menjelang panen. Menurut data, total luasan lahan pertanian di Jembrana yang terdampak banjir kemarin seluas 309,17 hektare.
Rinciannya, tanaman padi seluas 298,37 hektare dengan kondisi puso alias gagal panen 1,7 hektare. Kemudian tanaman semangka 9,8 hektare dan seluruhnya gagal panen.
Sementara tanaman melon dengan luasan 0,6 hektare juga gagal panen. Terakhir adalah tanaman padi seluas 0,4 hektare masih aman namun berpotensi puso jika cuaca ekstrem kembali terjadi.
“Tanaman padi yang paling terdampak itu di Subak Puspasari, di Desa Tuwed Kecamatan Melaya,” kata Kabid Pertanian, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma.
Dia melanjutkan, data terdampak hingga sebabkan sebagian lahan puso tersebut kemungkinan saja bisa berubah tergantung situasi kondisi cuaca. Jika terjadi lagi (cuaca ekstrem) seluruhnya berpotensi puso.
“Semoga cuaca mendukung dan tidak terjadi banjir lagi,” harapnya. Mengenai asuransi pertanian untuk lahan mengalami puso, Arya Kusuma menyebutkan tahun ini penganggaran asuransi pertanian dari pusat ditiadakan. Sehingga, tanaman yang puso tidak tercover.
“Tidak tercover tahun ini karena tidak ada penganggaran asuransi dari pemerintah pusat,” ucapnya. Dia berharap banyak kepada kondisi cuaca mendatang. Sebab, rata-rata usia tanaman terutama padi yang terdampak sudah menjelang panen. (BP/OKA)









