Informasi: Rubrik Sastra Balipolitika menerima kiriman puisi, cerpen, esai, dan ulasan seni rupa. Karya terpilih (puisi) akan dibukukan tiap tahun. Kirim karya Anda ke [email protected].

PuisiSastra

Puisi-Puisi Fani Yudistira

Ilustrasi: Ignatius Darmawan

 

Untuk Perempuan Berparfum Hujan

Ia bangun dari lelap sedihnya
yang basah dan berbau garam
Mencari-cari hujan dan menelan
seluruh tubuhnya yang bermula dari awan
Di langit tersisa kekosongan berwarna biru

ia tahu, bangun tidur berarti sekali lagi
menerima matahari pagi dengan mata
yang tak bisa diajak tersenyum

ia tahu, bangun tidur berarti mandi
dengan keran air yang mampet dan hanya
mengantarkan kemarau yang tak kunjung padam

ia tahu, ia harus sarapan makanan klise seperti
di Sinetron yang melulu bercerita keluarga kaya
yang tidak bisa berbahagia dan sarapan hampir
15 kali sepanjang cerita. Betapa panjang kesedihan, pikirnya

Ia berganti tubuh, menanggalkan membiarkan
ruhnya telanjang. Ruhnya bau terasi, mestinya
karena kebanyakan berpikir seperti udang

Semoga lekas malam. Selalu ia berdoa sepanjang percakapan
Seolah malam adalah makam yang enak dimakan
Ia tidak pernah keberatan buat kekenyangan

Tapi langit masih kekosongan berwarna
biru, tak kunjung mau disesaki gelap
yang demikian luas

Ia pun belajar berbahagia

 

Tentang Nanda

Ia perempuan yang melepas bulan dari langit, merawat dan menanam bulan di matanya yang lapang dada. Hari ini ada satu hektar bulan dalam matanya. Hamparan bulan itu, bulan yang sesak dengan musim hujan, selalu hujan, hingga bulan-bulan yang mulanya emas keperakan beralih jadi abu-abu kedinginan.

Ia perempuan yang suka melakukan percakapan kecil dan ceria. Percakapan yang berisi humor tidak lucu, tapi entah mengapa membuat bahagia. Di percakapan itu hidup seorang pria yang di masa lampau menjadi keledai, di masa kini menjadi kekasihnya, dan di masa depan boleh jadi hantu yang akan menerornya dengan kenangan.

Ia perempuan berparfum hujan. Aroma tubuhnya tanah basah dan langit yang mudah bersedih. Jika kau berada di sampingnya, sediakan payung dan pelukan!

Ia perempuan dengan lipstik Strawberry, secara harfiah! Bibirnya manis dan terasa dingin, dingin asing dan lain seperti berasal dari negeri yang jauh. Mungkin Strawberry yang ia kenakan dipetik pukul tiga malam, saat hari mencoba mengenali dirinya sendiri.

Ia perempuan yang tabah menyusun satu demi satu tubuh kesedihan. Ia rutin memberi makan kesedihan dengan makanan cepat saji, halaman kosong tanpa musik, dan igauan-igauan sepasang kekasih berbeda Tuhan. Ia ingin kesedihan lekas besar dan tua. “Aku akan meledakkannya suatu hari.” Kata perempuan itu.

Ia perempuan yang hari ini ulang tahun. Tahun demi tahun telah menjadikannya api lilin yang membakar semua lagu perayaan. Kue-kue manis dan hadiah demi hadiah itu mencoba melahirkannya sekali lagi. Mencoba mengembalikannya ke usia pertama kali. Ia cantik dan selalu cantik, tahun demi tahun berikutnya akan mengekalkan kecantikannya di dalam tubuh hujan.

 

Peristiwa Reinkarnasi Hujan
(Kepada Nanda)

Kau keluar rumah waktu itu
Padahal kehidupan masih pukul tiga malam
Masih terlalu dini buat percaya pada dunia
Kau keras kepala, ingin bergegas keluar
menemui dan mengenakan hujan

Kau menangis dan memeluk air mata
“Mengapa mimpi buruk begitu panjang?”
“Karena kita terus hidup dalam mimpi Nand.”

Aku mengambilmu, membawamu masuk
Hujan sudah punah jutaan tahun lalu
Tuhan membunuh hujan beberapa waktu
setelah hujan menyembunyikan
peluk cium kita yang getir dan iba

Kau menangis, kali ini begitu deras
Ingin melahirkan hujan sekali lagi
Kau bisa mampus kehabisan
kesedihan, tapi kau tiada peduli

Aku memenggal leherku
Ini ada darah dan cinta
Kenakanlah! Semoga jadi hujan
warna merah buat memeluk
tubuhmu yang gelisah

Kau berlari meninggalkan kematianku
Kau pecah belah menjadi hujan di halaman

“Aku ingin jadi hujan abadi yang
menampung cinta kita yang basah,
najis, dan bencana.”

 

Tiga Foto
-Pasar Badung dan Seorang Perempuan

/Foto 1

Di langit ada naga rasa jeruk peras. Kau menyimaknya dengan manis dan kecut dikit. Seolah suguhan langit sore itu adalah yang paling menyegarkan mata. Membuat kehausan lenyap diminum keindahan seekor naga dari mulut pengarang seperti aku

/Foto 2

Lalu tiba lagi pada senja yang entah di hitungan ke berapa. Senja yang menyilaukan mata kamera. Kau coba menandingi silaunya dengan senyum yang mengandung 57% glukosa 43% pabrik gula. Orang sepasar jadi pada naik gula darahnya. Aku mematung, tiba-tiba menjadi semut maha raksasa. Aku telan langsung seluruh senyummu. Sumpah demi apa pun, aku jadi semut paling bahagia di alam raya

/Foto 3

Hari berikutnya Pasar Badung seperti kota Bali pukul 17.35 tahun 2020. Waktu covid lagi asoy-asoynya. Pasar sepi, seolah suara tawar-menawar dihentikan upacara kesunyian. Para penjual mati dibunuh entah. Para pembeli moksa, meninggalkan daftar belanja yang tak tuntas sepenuhnya. Tapi kita tetap ke pasar berdua. “Ingin membeli apa di pasar yang sepi ini?” Kataku. “Ingin membeli kebersamaan kita.” Jawabmu

 

Perayaan Paling Raya

Selang beberapa menit
setelah menipu diri dengan
api lilin dan ulang tahun yang
dilakukan oleh tubuh yang
selalu ingin membunuh perayaan

Kau belajar percaya pada sungai
merah dalam darahku. Tanah-tanah
diairkan biar jadi keliaran yang tak lapar
mencari agama. Agama yang basah, agama
para penduduk hujan. Kau di situ menangis

Aku bangun tidur sekali lagi
Berusaha memukul mundur padang
pasir yang sesak akan fatamorgana
dan tebak-tebakan. “Bunga, bunga apa
yang paling miskin?” Bunga yang tidak
pernah memiliki taman pribadi di rumahnya

Kau selalu begitu, selalu ingin menulis
puisi pada jam yang ganjil. Aku terus
tabah menunggu, agar angkanya selalu
lebih dari satu

Tsunami meledak di Tenggara,
ribuan bintang laut menyimpan diri di langit
malam. Langit kita, kini penuh cahaya
bintang tanpa otak

Aku tidak lagi bisa mengenang
terakhir kali kita memejamkan mata

 

Mengunjungi Tubuh Seorang Perempuan

Aku masuk melalui sungai rahasia di antara payudaramu yang mungil. Di sini semua yang ada terasa basah. Barangkali karena kamu rajin bersedih. Di dalam dadamu udara seperti es batu, dingin dan beku. Sambil kedinginan aku berdoa pada Tuhan “Wahai yang Maha Cinta, perkenankan hamba membakar dadanya.”

Lalu Aku tiba di otakmu yang ribet, penuh hiruk-pikuk kecemasan, dan lebih macet dari Jakarta. Aku bertanya pada diriku sendiri “Lampu merah seperti apa yang membuatmu selama ini menunggu buat bahagia?”

Aku kini berada di hatimu. Dadaku sesak menghirup warni-warna perasaan yang cuma berupa kepedihan. Di sini tidak ada UGD. Aku memeluk hatimu kuat-kuat, barangkali cinta di hatiku bisa membuat hatimu sehat Wal afiat. Sembuh dari kesedihan yang gawat dan darurat.

 

BIODATA

Fani Yudistira lahir 13 September 2003. Mahasiswa aktif Universitas Udayana. Tergabung dalam komunitas Jatijagat Kehidupan Puisi. Tergabung dalam komunitas Jamban Puisi. Puisi-puisinya dapat ditemui di akun instagramnya @likethis.13

Ignatius Darmawan adalah lulusan Antropologi, Fakultas Sastra (kini FIB), Universitas Udayana, Bali. Sejak mahasiswa ia rajin menulis artikel dan mengadakan riset kecil-kecilan. Selain itu, ia gemar melukis dengan medium cat air. FB: Darmo Aja.

Berita Terkait

Back to top button

Konten dilindungi!