BADUNG, Balipolitika.com- Jaga kepatiang atau ingin membunuh, menjadi asal usul lahirnya sebuah desa di Kecamatan Abiansemal Badung, Bali. Bali menyimpan kisah-kisah kuno tentang para raja dan klan. Ingin tahu asal-usul Desa Jagapati yang bersejarah. Sejarah Desa Jagapati berawal dari kedatangan para bangsawan Majapahit. Kisah ini didapat dari Babad Mengwi dan tetua desa.
Kira-kira tahun 1300, ada para Arya keturunan Majapahit datang. I Gusti Ngurah Pinatih datang ke Bali disertai pengikut setianya. Pulau Bali waktu itu masih berupa hutan belantara. I Gusti Ngurah Pinatih sangat lelah di tengah perjalanan. Ia memutuskan untuk beristirahat (mejanggelan) sejenak.
Tempat istirahat itu didirikan tempat suci. Tempat suci itu diberi nama Pura Jenggala. Nama ini berasal dari bahasa Bali Mejanggelan. Pura Jenggala sekarang berada di Banjar Bindu, Desa Mekar Bhuana.
Bertepatan dengan malam Sasih Kepitu, I Gusti Ngurah Pinatih mendengar sabda. Sabda dari angkasa menugaskan ia melihat ke selatan. Jika ada sinar api jatuh, ia harus datang ke tempat itu. Di tempat itu ia dititahkan membuat Puri dan tempat tinggal. I Gusti Ngurah Pinatih merubah namanya. Ia mengganti nama menjadi I Gusti Ngurah Bija.
Tombak Pusaka dan Penaklukan Pengumpian
Ia mengejar sinar api itu ke selatan dengan cepat. Sinar itu tidak jatuh, melainkan bertengger di ujung pohon besar. Pangkal pohon tersebut dililit oleh banyak ular. Saat ia mendekat, pohon dan api berubah wujud. Wujudnya berubah menjadi senjata tombak yang menancap. I Gusti Ngurah Bija mengambil tombak tersebut. Tombak itu dipakai sebagai senjata pusaka kerajaan.
Keesokan harinya, ia memerintahkan merambas hutan. Para pengikutnya merambas hutan untuk mendirikan Puri. Setelah Puri berdiri, ia menamainya Puri Bun. Ia lalu bergelar I Gusti Ngurah Bija Bun. Kata Bun berasal dari ular yang melilit pohon (bun).
Beberapa rakyat Bun berbelanja di pasar Pengumpian. Rakyat Pengumpian tidak senang melihat rakyat Bun. Mereka merasa rakyat Bun sering membuat keonaran di pasar. Raja Pengumpian marah setelah mendapat laporan. Ia memerintahkan rakyatnya mengusir warga Bun. I Gusti Ngurah Bija Bun pun marah besar. Ia segera memerintahkan warganya menyerang Pengumpian. Raja Pengumpian gugur dalam peperangan yang sengit. Anom Pengumpian melarikan diri ke Tumbak Bayuh.
Perselisihan Keturunan dan Nama Jagapati
Semenjak I Gusti Ngurah Bija Bun menjadi raja, kerajaan tentram. Kerajaan Bun menjadi tenteram, sejahtera, dan damai. Ia memiliki beberapa putra, termasuk I Gusti Ngurah Putu Bija Bun. Ada juga I Gusti Ngurah Anom Branjingan. I Gusti Ngurah Anom Branjingan diserahi tahta di Branjingan.
Terjadilah perselisihan memperebutkan tanah warisan. Perselisihan terjadi antara kedua putranya. I Gusti Ngurah Bun berusaha menengahi perselisihan. Namun, I Gusti Ngurah Putu Bija Bun menantang ayahnya. Ia menantang I Gusti Ngurah Bun untuk berperang. Raja Mengwi turun tangan menasihati Putu Bija Bun. Namun, nasihat itu tidak dihiraukan juga.
Perang tak dapat dihindari, kedua pasukan berhadapan. Saat berhadapan, I Gusti Ngurah Putu Bija Bun tersadar. Ia tersadar bahwa yang diajak perang adalah ayah kandungnya. Ia mohon maaf pada ayahnya atas kesalahannya. Perang tanding antara ayah dan anak itu pun urung.
I Gusti Ngurah Bija Bun bermaksud akan membunuh anaknya. Membunuh dalam bahasa Bali disebut Jaga Kesedayang. Kata Jaga Kepatiang (ingin membunuh) ini menjadi asal nama. Dari kata Jaga Kepatiang inilah terbentuk nama JAGAPATI. Hingga kini, nama ini menjadi nama Desa Jagapati. Desa Jagapati adalah saksi konflik keluarga raja. (BP/CHA).










