BADUNG, Balipolitika.com– Pernahkah Anda mendengar nama Desa Gulingan? Desa ini bukan sekadar wilayah adat biasa di Badung. Desa Gulingan terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tempat ini menyimpan sejarah panjang sejak era Kerajaan Mengwi. Warisan spiritual dan budaya agrarisnya sangat kuat. Ini adalah perpaduan unik masyarakat Hindu Bali. Mari kita telusuri akar sejarah desa yang memukau ini.
Asal-Usul Nama: Dari Tempat Bertapa
Nama Gulingan ternyata memiliki makna mendalam. Nama ini erat kaitannya dengan legenda spiritual desa. Ida Padanda Sakti Telaga adalah pendiri spiritual Gulingan. Konon, beliau pernah bermeditasi di area hutan tersebut. Nama Gulingan diperkirakan berasal dari kata Panggulingan. Panggulingan artinya tempat istirahat atau bertapa sementara. Jadi, Gulingan adalah lokasi persinggahan suci sang pendiri. Beliau juga mendirikan pasraman dan Pura Gede Bang Api. Pura ini kini menjadi bagian penting tradisi lokal desa.
Warisan Kerajaan Mengwi yang Megah
Secara historis, Sejarah Desa Gulingan tidak terpisahkan dari Kerajaan Mengwi. Kerajaan ini sangat kuat di abad ke-17. Gulingan berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan tersebut. Bukti kejayaan itu tampak di sekitar desa. Pura Taman Ayun, pura keluarga raja, berdiri kokoh di dekatnya. Pura ini dibangun pada tahun 1634, menjadi pusat spiritual wilayah Mengwi. Warisan spiritual kerajaan masih terasa kuat hingga kini.
Filosofi Kehidupan di Sistem Subak
Kekayaan budaya Gulingan tercermin dari sistem irigasinya. Sawah-sawah desa dikelilingi oleh sistem Subak Tri Hita Karana. Subak adalah sistem irigasi tradisional khas Bali. Sistem ini merefleksikan filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini mengajarkan tiga hubungan harmonis penting. Hubungan itu meliputi manusia, alam, dan Tuhan. Pengelolaan subak menunjukkan kearifan lokal yang luar biasa. Gulingan pun dikenal aktif mengembangkan agrowisata subak. Mereka ingin melestarikan tradisi budaya agraris ini.
Kearifan Lokal yang Tetap Terjaga
Pada masa kolonial, struktur Desa Gulingan Badung tetap terjaga. Desa ini pernah mengalami pemekaran dari Desa Mengwi. Namun, kearifan lokal terus dipertahankan secara turun temurun. Sistem banjar dan setra (kuburan tradisional) tetap digunakan. Salah satunya adalah Setra Gulingan Gede. Setra ini penting untuk upacara adat seperti ngaben. Desa Gulingan kini aktif melestarikan tradisi Mekotek. Mereka juga menjaga ritual kematian dengan penuh khidmat. Pelestarian pura dan setra adalah bukti nyata warisan leluhur. Desa Gulingan merupakan cerminan sejarah dan spiritualitas Bali. Mengunjunginya adalah menyelami kedalaman budaya Bali. (BP/CHA).
Sumber Artikel: https://desagulingan.id










